
Mobil yang mengantar Pelangi, sampai di depan gerbang rumah yang pernah ia tempati bersama Dibi. Ada Biru-Ayahnya saat ini yang menemaninya untuk mengambil Arpina dari tangan Dibi.
"Maaf, Non, Tuan, kita dilarang masuk oleh polisi yang menjaga gerbangnya." Supir yang baru selesai mengecek pagar rumah, kembali masuk ke mobil dengan membawa laporannya.
Polisi? Ya... Dibi menggunakan kekuasaannya yaitu memanggil beberapa bawahannya di kepolisian untuk menjaga rumahnya. Ia tidak akan membiarkan ke empat saudara Pe atau pun Biru begitu mudah masuk ke rumahnya dan membawa Arpina. Dan berakhir membuat rencananya gagal.
Dibi ingin Pelangi yang datang sendiri dan mengatakan akan hidup bersama-sama lagi. Egois? Ya, biarkan saja apa kata orang orang terhadapnya. Terpenting Pe mau kembali lagi rujuk padanya. Toh, Pe juga cinta kan padanya? itulah yang di pikirnya.
" Dibi benar benar nyari perkara! Awas saja__"
"Ayah, jangan!"
Biru yang ingin turun dari mobil, tertahan oleh cekalan Pe.
"Kenapa? Arpina juga anak mu, tidak sepantasnya Dibi berperilaku kejam!" Biru kesal karena dicegah. Mau itu polisi kek di gerbang sana, ia tidak peduli. Baku hantam? Jelas, ia masih sanggup melawan lima atau sepuluh polisi sekaligus.
"Jangan ada kekerasan, Yah. Pe mohon! Kak Dibi hanya butuh waktu untuk menerima keputusan ku yang ingin berpisah. Ia melakukan ini karena kecewa. Dan tolong, beri Pe waktu untuk menyelesaikan masalah pribadi ku. Ayah mau mengerti kan?"
Terpaksa Biru mengangguk. Emosinya meredah seketika saat menyadari kalau anak perempuannya benar-benar sudah dewasa yang tahu arti bersikap. Anak perempuannya ini memang buah hati yang paling dimanja sejak kecil, tetapi sikap manja itu tidak ada pada jiwa Pe. Tidak menye-menye dan tidak pernah mengaduh ini itu apapun masalahnya. Biru bangga dengan didikan tegasnya.
"Ayah akan memberi mu waktu, Pe. Tetapi, kalau kamu merasa tidak mampu, maka tolong hargai Ayah, datang pada Ayah untuk mengaduh dan meminta bantuan."
Pe tersenyum takzim akan pengertian Biru padanya. Sekarang, atensinya itu tertuju pada gerbang yang menjulang tinggi. Ia akan masuk untuk memberi penjelasan ke Dibi secara baik baik, tetapi tidak untuk sekarang.
" Ayo Pak, kita pulang," titah Pe pada sopir Ayahnya. Biru sendiri melongo oleh keputusan Pe yang entah apa rencana anaknya itu.
"Ck, jadi kita pulang dengan tangan kosong?" Biru berdecak malas. Tetapi hanya sesaat, lalu pandangannya dibuang keluar jendela mobil karena Pe meliriknya gemas.
***
Lima hari sudah berlalu, Dibi setia saat menunggu respon dari Pe yang tidak ada pergerakan dari Pe dan keluarganya, termasuk Topan dan saudara Pe lainnya. Itu karena Pe pun mewarning keras saudara - saudaranya untuk tidak ikut campur. Meski awalnya, Pe kesusahan mencegah Topan dan Badai, tetapi akhirnya dua kembarannya itu mengalah.
"Apa Pe benar-benar tidak membutuhkan Arpina?" gumam Dibi seraya menatap anaknya yang sedang bermain bersama pengasuhnya.
Saat ini, tangannya itu memutar mutar pelan ponsel yang ada di tangannya. Menimbang - nimbang, apakah ia yang harus menelpon Pe terlebih dahulu?
__ADS_1
Sedang di sisi Pe, wanita itu setiap hari datang bersama sopir. Namun, Pe hanya berada di atas mobil dengan matanya tertuju ke arah gerbang yang tertutup.
Rindu? Tentu saja hati Pe tercambuk akan kata itu terhadap anaknya. Tetapi, ia merasa belum waktunya untuk bertindak. Ia ingin kakinya sembuh dulu.
"Pak, nyalakan mesinnya!" titah Pe pada sopir Ayahnya itu. Lima hari ini, sang sopir hanya menurut bingung dengan sikap anak majikannya. Bagaimana tidak, ia setia mengantar tetapi ujung ujungnya selalu berakhir di depan gerbang saja.
"Baik, Non," sahut sang sopir. Namun pedal gas ia injak tertahan saat ada seorang pria yang tiba tiba menghadang di depan.
"Guntur?" Dari dalam mobil, Pe terkejut akan kehadiran Guntur.
Tok tok tok...
Pe segera menurunkan kaca jendela mobilnya setelah Guntur mengetuknya. Lalu kepalanya pun melongok keluar.
"Kamu mau mati tertabrak, eum?" sungut Pe kesal karena tadi kaki Guntur memang sedikit lagi tercium bumper mobil.
Guntur hanya tercengir menyikapinya, lalu main tarik pintu itu sampai terbuka.
"Aku nebeng ya," ujarnya seraya masuk dengan santai.
"Mobil seberang jalan, mau kamu rongsok?"
Guntur mengikuti arah tunjuk Pe, ia kira wanita itu tidak menyadari keberadaan mobilnya.
"Itu... lagi mogok. Jadi aku butuh tumpangan. Tak apa kan?" bohongnya yang dipercayai oleh Pe.
"Tentu saja boleh," ujar Pe tersenyum ramah. "Pak, kita antar teman ku." sambung Pe ke sang supir.
"Apa kabar, Pe?" Guntur bersuara basa basi, padahal ia tahu persis dengan keadaan dan masalah Pe yang sekarang di alaminya. Jangan tanya dari mana? Tahu sendiri, seorang Guntur tidak akan pernah meninggalkan wanita yang dicintainya, kecuali melihat Pe sudah bahagia meski bukan ia yang memberikannya.
"Baik!"
"Baik dengan kantong mata menghitam dan terlihat kurus?" sergaan Guntur berhasil membuat Pe menoleh cepat padanya.
"Benarkah aku sejelek itu?" Pe tersenyum kecut. "Wajar sih, aku tidak punya waktu memanjakan tubuh sendiri__"
__ADS_1
"Karena Dibi melarang mu untuk menemui Arpina!"
Pe tertegun menatap Guntur lamat lamat. Sedang pria itu kembali sibuk ke handphone-nya di tangan.
"Ck, dasar penguntit!" sungut Pe lalu membuang wajahnya ke arah jendela. Gantian, Gunturlah yang sekarang mengangkat wajahnya untuk melirik ke Pe yang masih bergeming menatap pemandangan jalanan.
"Aku akan berhenti menguntitmu, setelah kamu mendapatkan kebahagianmu."
Atensi Pe seketika berpaling ke samping, di mana Guntur pun menatapnya dengan intens tepat bola di mata Pe, membuat wanita itu salah tingkah.
"Apa maksud mu?" tanya Pe seraya memutuskan kontak mata itu.
"Pak tolong pinggirkan mobilnya, aku sudah sampai tujuan." Guntur tidak menjawab Pe. Padahal ia ingin sekali mengatakan isi perasaannya, namun ia merasa belum saatnya dan entah punya kesempatan atau tidak? Intinya, Guntur tidak akan mau menjadi pengganggu rumah tangga orang. Ibarat kata, langkahnya ingin maju tetapi ada sebuah benang kuat membelit pergerakan kakinya yang tak kasat mata. Semakin bergerak, maka benang itu akan kusut, dan akan susah untuk diurai lurus. Guntur tidak mau menjadi bibit masalah lagi buat Pe seperti dahulu.
Lain lagi ceritanya, kalau status Pe menjadi janda. Guntur siap siaga gerak cepat untuk maju mendaftar calon imam yang insyaallah akan bertanggung jawab untuk keluarga kecilnya. Tapi, apa ada kesempatan bagiku? Batinnya mencelos seraya menutup pintu mobil milik Pe.
"Kamu yakin turun dipinggir jalan? Mana panas lagi!" Pe sampai memicingkan matanya efek silau matahari yang terpantul terik disiang bolong.
"Eum, aku ada janji di cafe itu." Guntur menunjuk asal asalan bangunan di depan sana. Padahal setahu Pe, tidak ada cafe di sana. Adanya salon rambut.
"Oh, hati hati ya!" kata Pe ambigu lalu secara pelan menaikkan jendela kaca mobilnya. Namun di tahan oleh Guntur karena mendengar suara ejek Pe.
"Hati hati? Maksud mu?"
"Eum, hati hati sama pelayan-pelayannya."
Bibir Guntur mengembang manis, ia pikir Pe memperhatikannya karena ada rasa rasa lain seperti cemburu gitu.
What? Cemburu? Kepala Guntur tergeleng pelan untuk membuang pikiran bodohnya. Mana mungkin Pe cemburu padanya kalau wanita itu tidak memiliki rasa padanya yang disebut cinta itu.
"Ouh, tenang saja. Aku__"
"Pelayannya banci semua. Ayo Pak, kita lanjut jalan."
Hah... Banci? Guntur berdiri cengong di pinggir jalan seraya menatap mobil Pe yang sudah pergi. Lalu matanya menatap salon yang dianggapnya cafe barusan.
__ADS_1
"Jatuh cinta itu bikin bodoh dan dungu." Guntur merutuk diri sendiri yang kesusahan mencari taksi untuk mengambil mobilnya yang sejatinya tidaklah mogok. Demi ingin mengobrol dan duduk dekat dengan Pe, ia rela membuat alasan paling terkonyol menurutnya.