
"Kenapa kamu berpura-pura mati, Pe? Kemana kamu selama ini? Inikah cara mu membalas ku, hah? Tega sekali kamu mendrama hanya karena kecewa padaku. Di sini, korbannya bukan aku seorang, tetapi Arpina! Anak mu kehilangan kasih sayang seorang ibu!"
Karena Pe mengusirnya keluar dari kamarnya tanpa diberi kesempatan berbicara, Dibi akhirnya gemas-gemas emosi mengeluarkan segala uneg unegnya. Membuat Pe menahan kesal di hatinya.
Pura pura mati? Membalas? Mendrama? Hah... Pe menghembuskan nafasnya secara berat. Ia sama sekali tidak melakukan apa pun yang dituduhkan oleh Dibi dalam bentuk kesengajaan. Mulut Dibi sangat menampar hatinya yang masih perih itu.
Ia juga tidak tahu kalau ada Guntur yang begitu baik memperhatikan dirinya. Siang malam dalam komanya, ada Guntur yang setia menjaganya. Dan itu cerita Badai saat di atas pesawat.
"Jadi maunya Kak Dibi aku tidak kembali, begitu kah?" Mata Pe berkaca-kaca menatap berani netra Dibi.
Tidak mau berdebat malam malam, Pelangi segera menggerakkan kursi rodanya menuju ke arah kamar mandi. Berniat meninggalkan Dibi yang ingin protes. Tadinya, Pe berniat untuk menceritakan semuanya tentang ia ada di mana, serta kondisinya bisa bernafas baik sekarang berkat jasa siapa. Tetapi bukan malam ini, sumpah demi apapun, seluruh yang ada di tubuh Pe itu lelah, bukan hanya fisik melainkan batinnya juga.
"Pe, bukan begitu dan tolong jangan menghindar. Aku butuh penjelasan mu!" Dibi menehan kursi roda itu dari belakang. Lalu berputar untuk berdiri di depan Pelangi. "Apakah kamu ingin tahu penderitaan ku saat kamu pergi? Aku dihajar oleh keluarga mu sampai terbaring di rumah sakit. Anak kita... Anak yang kamu tititpkan padaku, hampir di kuasai oleh Topan tanpa mau mengijinkanku bertemu. Aku ada di depan keluarga mu, akan tetapi dianggap setan atau orang pesakitan yang tidak patut diberi maaf. Tanpa memikirkan Arpina, mungkin
aku sudah gila karena sesal di hati ku yang sudah acuh tak acuh padamu__"
"Maaf atas segala kesalahan ku." Pe menserga Dibi yang seolah-olah paling menderita karenanya. "Aku memang salah karena lahir dan dinasibkan pernah menjadi tokoh derita dalam hidup mu, Kak. Tapi tenang saja, mulai hari ini, pergi dan berbahagialah," ujar Pe dengan nada masih tenang tenang seperti air tak tersentuh. Dan sifat air tenang seperti itulah yang bisa menenggelamkan seseorang sampai ke dasar. Pe sudah merelakan cintanya untuk terbang leluasa mencari pemilik sesungguhnya.
Jujur dan tidak mau munafik, Pe tentu saja masih mempunyai cinta untuk nama Dibi. Tapi tidak sebesar gunung seperti dulu. Rasa kasih nan cinta yang dimilikinya waktu itu, sekarang ternodai oleh pil kecewa nan luka besar yang menggores hati nya. Jadi, tanpa diminta pun, Pe akan mundur alon alon dengan lapang dada. Bukannya Itu yang diharapkan oleh Dibi dahulu? Bersatu dengan Kiara, wanita yang mengalahkan dirinya. Sekuat tenaga pun menjadi istri baik, tetapi tetap saja Dibi melihat usahanya itu dengan sebelah mata. Pe ingin meraung raung jadinya, kalau ia mengingat dirinya yang sangat murahan dalam mengemis cinta suaminya sendiri.
__ADS_1
"Hah? Apa kamu bilang? Pergi? Pe, itu tidak mungkin karena __"
Ceklek...
Ungkapan perasaan Dibi, terjeda oleh suara pintu kamar terbuka dan pelakunya adalah Mentari yang sengaja membawa Arpina untuk tidur dengan Pelangi.
"Astaga, kamu sudah mengganggu istirahat Pe, Dibi," ujar Mentari setelah menaruh tubuh mungil Arpina untuk berbaring di kasur yang masih terpejam nyenyak itu.
"Bunda ini__"
"Kalau mau berbicara, besok saja! Malam ini Bunda tidak memberi izin padamu atau siapapun orang itu yang meminta penjelasan, karena kata Badai sebagai dokternya di telpon tadi, Pe tidak boleh tidur malam. Jadi Bunda harap kamu keluar dan jangan ngeyel atau Bunda akan marah."
"Dibi, mengertilah, Nak, Pelangi butuh istirahat saat ini. Aku paham kamu ingin membicarakan tentang hubungan kalian. Tetapi tidak untuk malam ini, tadi Pe sudah berjanji akan berbicara panjang kali lebar atas semuanya, tapi besok."
Hah... Dibi hanya mampu menghela nafas berat mendengar bujukan kalem Mertuanya.
Dalam berdirinya di ambang pintu balkon, matanya tak pernah lepas dari kursi roda Pelangi yang sama sekali tak mau bergerak untuk melihat ke arahnya, ia berharap Pe bersuara untuk memintanya tinggal di kamar itu, atau seenggaknya istrinya itu menoleh padanya meski sebentar saja. Tetapi sampai pintu balkon tertutup rapat, Pe sama sekali bergeming.
"Inikah rasanya dicuekin? Sakit dan perih sekali ..." rintihnya di depan pintu kaca itu. Bahkan Dibi menekan dadanya yang sesak, seraya menjatuhkan bokon*nya, duduk dan menyadarkan punggungnya ke pintu.
__ADS_1
Dibi berniat akan masuk lagi demi ingin melihat orang yang di rindukannya tertidur nyenyak.
" Aku tahu, diri ini pernah salah. Tetapi apakah tidak ada kesempatan bagi ku? Semua orang perna khilaf."
Dibi menceracau dalam hatinya dengan perasaan gegana, tatapan Pelangi yang dulu dan saat ini sangat sangat berbeda. Hatinya meramal, kalau hubungannya dengan Pe tidak baik-baik saja, karena Pe seakan-akan enggan memberinya kesempatan untuk kembali merajut asa. Tetapi semoga itu hanya perasaannya saja. Tentu, ia tidak mau hal itu terjadi. Pe pasti akan kembali lagi seperti semula yang mempunyai rasa cinta besar untuknya.
"Pasti!" serunya positive thinking, menghibur dirinya sendiri.
" Kamu harus mengetahui, Pe, kalau hati ku hampa saat kepergian mu."
Setelah malam semakin larut, Dibi berniat masuk lagi ke kamar Pe, namun tangannya kembali ragu untuk mendorong knop pintu itu.
"Biarkan dia istirahat," gumamnya mengalah malam ini. Kemudian berlompat kembali ke balkonnya.
Sedang Pe, wanita itu tidak bisa tidur. Hatinya bercampur aduk, antara sedih dan bahagia bisa memeluk dan menciumi anak cantiknya yang terlelap di sampingnya.
"Maafkan Mama yang tidak ada untuk mu selama satu ini. Dan maafkan Mama juga kalau suatu saat nanti kami tidak memberi mu keutuhan keluarga."
Otak Pe yang lelah itu, sekarang sedang berpikir panjang untuk mengambil keputusan, antara mempertahankan rumah tangganya atau memilih mundur karena rasa sakit hatinya masih sangat besar untuk nama Dibi.
__ADS_1