Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi
Penjelasan


__ADS_3

"Kenapa kamu menolong nyawaku?" Pelangi tak menghiraukan wajah lucu Guntur di depan kursi rodanya. Ia tidak tertarik tersenyum apalagi tertawa disela hatinya yang sudah remuk.


Pelangi pun tidak menyangka, kehidupannya masih diperpanjang. Ia kira, hari terakhirnya itu saat bersama sang Ayah. Tau-taunya...? Dan entah bagaimana caranya, ia berada di luar Negeri saat ini?


"Siapa yang menolong mu, eum?" Guntur bertanya balik. Membuat wanita di depannya itu menatapnya lama yang tadinya hanya dinding kaca itulah yang menjadi objek mata Pelangi.


"Kamu! siapa lagi?"


"Salah...!"


"Salah?" Alis Pe terangkat satu. Kalau bukan Guntur, siapa lagi orangnya? Dua hari lalu, ia baru sadar dari komanya, dan dua hari lewat itu pun, hanya Guntur lah orang yang ia kenali di sini. Ah, satu lagi... Dokter Adnan. Pelangi sempat berbincang-bincang tentang penyakitnya saat ia masih hamil pada Dokter muda yang seumuran dengannya. Ternyata, Dokter itu malah bekerja di rumah sakit ternama di Negara Guntur.


"Aku hanya diam menunggu hasil pemeriksaan mu, Pe. Jadi bukan aku yang membantu mu melainkan Dokter Adnan yang aku kirim padamu, dan tentu saja transplantasi sumsum dari kembaran mu yang paling penting di sini, itulah sebabnya kamu selamat," terang Guntur merendah diri. Awalnya, sakit Pe itu memang tak sengaja ia ketahui sejak Pe meremas sebuah hasil lab kesehatannya di koridor rumah sakit waktu itu.


Itupun, Guntur tadinya mau bertemu seseorang di sana, tapi kenyataan kesehatan Pelangi yang tidak mau diketahui oleh seseorang, malah diketahui oleh nya.


Ingin memastikan lebih jelas, Guntur diam-diam menemui Dokter spesial Pelangi yaitu Dokter Mori.


"Jadi Topan dan keluarga ku tahu aku masih hidup?" tanya Pelangi. Entah kenapa ia jadi takut menemui keluarganya sendiri. "Harusnya aku sudah dikuburkan, Guntur. Tapi kamu ___"


Tuk... Guntur yang disela untuk menjawab pertanyaan Pe, jadi gemes sendiri akan ucapan susulan patah semangat wanita yang di ketuk pelan jidatnya itu.


"Ck... Tangan badak mu melukai ku." Bibir Pelangi mencibik kesal. Guntur hanya tersenyum tipis.


"Kamu ingat Pe? Dulu aku itu adalah biang masalah bagimu. Disekap oleh pembunuh bayaran bersama ku. Disiksa paman ku sendiri berikut ante antenya, kamu juga pernah ada di masa itu, dan semuanya karena membantuku. Jadi, inilah saatnya aku membantu mu. Biar aku tidak dianggap lagi biang masalah oleh saudara-saudara kembarmu."


Pelangi diam saja. Dua hari ini, ia memang hanya sibuk untuk kemo akan seluruh saraf saraf nya yang hampir membeku karena kelamaan koma.

__ADS_1


Buktinya sampai saat ini, kaki kuatnya yang biasanya gesit dan lincah kini dirutuk menjadi tidak bisa berjalan untuk sesaat.


Bahkan, kankernya itu tadinya hampir melumpuhkan memorinya, itu kata sang Dokter. Tapi dalam kemo itu, perlahan, memorinya segar kembali tanpa satu pun terlupakan apalagi sikap Dibi yang tak pernah menganggapnya ada. Ia ingat itu dan rasanya perih masih membekas di hatinya.


Jadi, baru hari inilah Pe bercakap cakap dengan Guntur tentang semuanya. Bahkan saking lemahnya, Pe memendam hasrat hanya untuk menanyakan kabar keluarga dan anaknya yang entah rupanya seperti apa? Sehatkah? Atau...?


Jangan ditanya, apakah ia rindu pada keluarganya? Apakah juga ingin menggendong anaknya? Tentu saja! Tapi, kondisinya yang masih belum memungkinkan membuat ia menunda rindunya.


"Keluarga mu tidak ada yang tahu kalau kamu masih bernafas Pe, hanya Badai seorang diri," ungkap Guntur.


"Badai?" kagetnya bertanya memastikan. Lalu memutar penglihatannya untuk mencari sosok adik kembarnya yang dua hari membuka matanya, tapi tidak pernah melihat kehadiran Badai.


"Kamu mencari nya?"


Pelangi mengangguk.


"Badai dalam perjalanan, baru mendarat. Tadinya, awal siuman mu ia ingin terbang ke sini langsung. Tapi pekerjaannya sebagai Dokter bedah menghalanginya. Tunggulah kedatangannya, hanya dia yang berhak memberi penjelasan, kenapa kabar kehidupan mu sengaja disembunyikan oleh Badai. Padahal aku berniat untuk memberi kabar pada Ayah dan Bunda mu yang pasti merasa sangat kehilangan mu."


Kalau boleh egois, Guntur lebih suka Pelangi ada di kursi roda, agar bisa selalu bersamanya. Tetapi, kembali lagi pada kenyataan kalau itu tidak benar. Egoisnya harus ia singkirkan.


"Terimakasih bantuanmu, Pak Atalaric Azlan Ghiffari," ucap Pelangi. Membuat Guntur mendengus kesal karena nama asli nan lengkapnya sampai dijabarkan.


Dengan itu, Guntur berdiri dari depan Pe. Lalu memutar kursi roda itu menuju ke ruangan kemoterapi untuk kaki Pe. Sepertinya wanita itu sudah bosan berbincang-bincang.


" Sembuh lebih cepat maka akan terdengar baik, aku ingin mengetes kemampuan beladiri mu yang masih hebat atau sudah termakan usia, setelah kamu sudah bisa berjalan," seloroh Guntur seraya tersenyum disela langkah itu. Ia ingin membangkitkan jiwa semangat Pe lagi seperti dulu dulu yang lincah.


Akan tetapi, Pelangi tak merespon, wanita itu lagi berpikir keras tentang anak yang diperjuangkannya.

__ADS_1


Tepat ingin berbelok di lorong rumah sakit itu, seruan pria yang dirindukan Pe, menghentikan langkah Guntur. Kursi roda Pe pun akhirnya segera diputar ke arah saura itu oleh Guntur.


"Badai!" ucap Pe pelan lalu membalas senyum Badai yang mengikis jarak lebih dekat padanya.


"Inilah yang aku tunggu tunggu, Pe, senyum mu."


Badai langsung memeluk kakak kembar beda lima menitnya, Begitu pun Pelangi yang membalas pelukan tersebut.


Di mata Guntur, Badai menangis di dalam pelukan itu tanpa Pe lihat. Tidak mau menggangu, ia pun berkata, "Kalian mengobrol lah, aku ada urusan sebentar," bohongnya.


Dan setelah ditinggal berdua oleh Guntur, Badai langsung membawa Pelangi masuk ke ruangan lagi.


"Apa kamu ingin melihat foto anak mu?" tanya Badai pengertian.


Pe jelas saja menjawab antusias, bahkan ia langsung merebut hape Badai yang baru dirogohnya dari kantong celana bahannya.


"Arpina..." lirih Pe berkaca-kaca antara haru dan sedih melihat foto yang sedang tersenyum menggemaskan tanpa gigi lengkap itu. Sedih? Ya... karena ia tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya dalam satu tahun lamanya.


Seraya menatap foto foto anaknya, Pe juga mendengarkan penjelasan Badai yang telah merahasiakan kebenaran akan dirinya yang masih hidup, yaitu satu... Dibi!


Bagaimana Badai tidak murka, tepat waktu itu ia diberi kabar kematian Pelangi yang tiba-tiba tanpa sebab awalnya. Dan saat di bandara, ia tidak sengaja bertemu Guntur yang tadinya ingin menjemput langsung Dokter dokter hebat dari Negara lain demi keselamatan Pelangi yang kritis. Dan tanpa babibu lagi, ia rela dieksekusi mendonorkan tulang sumsumnya untuk Pe.


Setelahnya, Guntur pun menjelaskan sikap Dibi yang kurang baik pada Pe.


Mau tak mau, Badai pun pura-pura bodoh nan buta diantara keluarganya yang bersedih demi hanya ingin menyiksa batin Dibi.


"Benarkah dia sudah menyesal? Itu rasanya tidak mungkin, Dai." Pe tidak percaya. "Minggu ini, aku ingin pulang, Dai. Cukup aku membuat keluarga kita bersedih. Aku juga ingin mencium langsung anak ku."

__ADS_1


Guntur yang tadinya mau bergabung, mendadak berhenti mendengar Pelangi akan pergi lagi dari jangkauannya.


Bibirnya tersenyum kecut. Lalu membatin," Apakah aku berujung mengisap jempol lagi?"


__ADS_2