
"Ini benar kan, Dok? Saya benar benar hamil?"
"Iya, Bu, selamat ya. Laporan lab ini memang valid dan itu artinya Anda akan menjadi seorang Ibu baru."
Tak henti hentinya Pelangi mengucapkan syukur pada-Nya serta berterimakasih pada Dokter setengah bayah di depannya. Saking bahagianya, Pe sampai mencium ceria pipi sang Dokter wanita itu.
"Heheh...kalau begitu, saya permisi ya, Dok. Mau ngasih kabar baik ini pada keluarga dan tentu saja yang utamanya adalah suami saya."
Setelah mendapat nasehat untuk jaga kesehatan serta rutin dalam pemeriksaan, Pe pun undur diri. Sang Dokter dibuat geleng geleng oleh kebahagian calon ibu itu karena pasien cantik nan ceria itu kembali mencium pipinya dengan alasan nanti pipi kanannya cemburu.
"Yeak...aku hamil! Oh...senangnya," riang Pe di lorong rumah sakit.
Namun...?
Deg...
"Kak Dibi..." lirihnya. Senyum kebahagiannya yang besar beberapa detik yang lalu, pupus beriringan laporan lab kehamilannya jatuh ke lantai, saat matanya menyaksikan suaminya sedang bercanda gurau di taman sana bersama seorang wanita yang duduk di atas kursi roda.
Pe sangat mengenali wanita itu adalah Kiara.
Tidak mau keciduk menyedihkan oleh mata para orang orang yang berlalu lalang. Pe segera memungut kertas yang tadinya istimewah itu, tapi kini rasanya sudah seperti sampah yang tak berguna.
Pe mengintip di tiang itu, menatap lekat lekat suaminya yang begitu telaten menyuapi Kiara sepotong demi sepotong jeruk. Romantis sekali. Bahkan di mata Pe, suaminya kini membantu Kiara mengikat rambut panjang itu..
Pe ingin menghampiri, namun terhenti. Karena merasa percuma, ia sudah sakit hati melihat kenyataan yang ada, masa harus sakit lebih dalam lagi mendengar pernyataan, kalau Dibinya itu lebih memilih kekasihnya dari pada dirinya yang hanya istri di atas buku pernikahan.
"Aku yang jadi istrimu, tapi tak pernah sama sekali merasakan bagaimana nikmatnya suapan darimu, Kak. Pantas saja kamu pergi pagi, pulang malam selama ini. Hah...Sadar Pe, kamu itu adalah keset welcome-nya doang. Meskipun suamimu menyentuhmu hampir tiap malam, tetapi cinta besarnya hanya pada Kiara. Mereka saling mencintai dan kamu ibaratkan duri di dalam daging mereka."
Pe tersenyum getir, mundur dua langkah seraya menghapus titik titik air matanya di pipi serta di matanya itu Berbalik dan berlari kencang, Melupakan ada janin yang rentang dalam perutnya. Ia tak mau merasakan sakit mata lama lama bila harus melihat orang yang ia cintai tertawa bahagia yang aslinya tawa itu adalah milik orang lain.
Sangat sakit!
***
__ADS_1
"Hah...kamu hamil, Sayang?"
Demi tidak jatuh dalam keterpurukan, Pe datang ke rumah orang tuanya. Membagi kabar yang sebenarnya adalah kebahagian, namun di wajah cantik itu hanya ada kesedihan. Bayangan tawa Dibi dan Kiara seakan akan ejekan dan peringatan cubitan keras untuk hatinya agar mundur saja jadi istri seorang Dibi.
Pe tersenyum indah, namun hanya kepalsuan di antara Mentari dan Biru yang sedang bergembira.
"Ayah akan ke rumah sebelah, mau nyampain ke Mama dan Papa mertuamu. Selamat ya, Sayang!"
Kepergian Biru, Pe mendapat wejengan tentang cara menjaga kesehatan selama dalam kehamilan oleh Sang Bunda. Ia hanya iya iya, dan mengangguk sekenanya sebagai jawabannya. Tidak ada semangat untuknya.
"Sayang, kok kamu nampak tidak bahagia sih, kenapa? Apa Dibi tidak suka kamu hamil?" selidik Mentari.
"Mungkin, Bun. Bahkan Kak Dibi pun sepertinya akan membawa surat cerai dadakan ke depan, Pe."
Hah...Pe hanya bisa menjawab dalam hatinya. Ia masih punya rasa kasihan pada orang yang telah mematahkan hatinya itu. Dipastikan, Dibi akan patah patah tulang kalau ia mengadu pada sang Bunda, dan berakhir ucapannya akan terdengar pada Ayah sempurnanya itu. Dan mungkin akan terdengar ke dua kembarannya juga.
"Pe..."
"Cerai!"
"Hust...latahnya kok ngeri amat! Ganti dong ah latahnya seperti, Ya Allah atau ucapan baik lainnya. Lagian orang hamil berucap cerai itu famali, Sayang. Seburuk buruknya suami, maka kalau dalam keadaan hamil, maka sangat diharamkan kata perceraian. Kalau pun tidak ada jalan kebaikan di antara hubungan suami istri itu, maka tunggulah sang jabang lahir, baru boleh cerai."
Hem...Pe semakin lemas saja mendengar khultum sang Bunda yang tidak boleh cerai kalau sedang hamil katanya. Ya Tuhan, panjangkanlah sabar Pe dan selalu beri Pe ketabahan hati untuk melihat orang yang Pe cintai dan kasihi memuji wanita lain. Amin....doanya dalam hati.
"Tapi siapa yang mau cerai?"
Nah loh, sang Bunda mulai kepo.
"Nggak ada Bun, orang Pe lagi lihat sinetron barusan yang ngungkit ungkit cerai," dusta Pe seraya menunjuk televisi yang mereka memang ada di ruang keluarga.
Syukurnya Pe, sang Bunda yang masih cantik tak lekang oleh usia itu, masih lempeng polos. Jadi percaya saja alasan asal asalannya.
"Untung Ayah, Twins dan duo kembaranku nggak ada," batinnya elus dada.
__ADS_1
"Yuhuuu....mana menantu Mama," teriak gembira Bintang yang langsung ngebirit dari rumahnya setelah Biru menyampaikan kabar gembira.
Dirgan dan Biru pun ada di belakang sana mengikis jarak pada tiga wanita itu, di mana Pe sekarang di cium pipinya oleh Bintang.
"Ish, Bin. Jangan di runyam juga pipi anak gue," protes Biru.
Semuanya tersenyum bahagia melihat Pe mengelus pipinya yang dapat cubitan gemas juga dari Mama mertuanya itu.
Dalam lubuk hatinya, Pe bertanya tanya, apakah ia sanggup melihat senyum bahagia keluarganya itu luluh lantak menjadi permusuhan hebat, kalau ia meluapkan rasa kecewanya dari Dibi sekarang ini pada mereka?
"Aku tidak sanggup. Aku sudah patah hati, jadi biarkan hancur berkeping keping sekalian." gumamnya seraya menatap satu persatu empat orang tuanya yang sangat ia sayangi dan begitupun sebaliknya.
Pe merelakan kebahagiannya tertutup awan kelam demi semua orang.
"Tapi Pe, kok Dibi nggak kemari bersamamu?"
"Kak Dibi belum tahu, Pa," jawabnya ke Dirgan.
"Ish...biar Papa telpon."
Dirgan terhenti akan cegahan Pe.
"Jangan dong, Pa. Biar Pe sendiri yang ngasih Kak Dibi kabar kehamilanku. Ini, Pe mau kekantornya, sekalian mau mengaduh kejahatannya....eh, maksud Pe, kejahatannya karena berhasil membuat perut Pe nanti membesar seperti penyakit busung lapar. Heheheh..."
Huff...Pe yang selalu keceplosan, meringis diam diam, syukurnya ia bisa membuat alasan dadakan dengan candaan di balik kebohongannya.
Tapi tentang kejahatan Dibi yang melukai hatinya tadi, Pe memang ada niatan untuk berbicara serius empat mata.
Dan di sinilah Pe. Berjalan masuk ke kantor Dibi tanpa izin dan tanpa kata permisi pada polisi polisi yang berada di luar ruangan khusus Dibi.
"Lho, lho, Ibu. Stop dong, Ibu. Anda main masuk begitu saja tanpa laporan," tegur salah satu dari polisi itu.
Pe berhenti karena dihadang. "Saya memang mau laporan menyangkut kejahatan, Pak Pol--Pak Dandi. Tapi saya mau laporannya langsung pada pemimpin kantor ini." Pe menjawab tegas tanpa takut takut.
__ADS_1
"Kami di sini banyak yang nganggur loh, Ibu. Tidak usah menggangu Pak Galaksi. Mari silahkan, saya akan menangani laporan Ibu," bujuk si Bapak
Pe yang tiba tiba capek berdiri, segera saja ngebirit lincah bak belut, tak peduli lagi arti sopan santun. Membuka pintu ruangan kerja Dibi pun, secara kasar membuat sang empu ruangan terjimbul kaget.