Rejects The Prince And Becomes The Aide'S Fiancé

Rejects The Prince And Becomes The Aide'S Fiancé
Bab 16 Raja Iblis dan Mimpi


__ADS_3

"Jangan sembarangan menyentuh wajahku sembarangan,"


"Kita bahkan tidak saling mengenal, tetapi kamu menyentuhku seperti orang yang tidak memiliki etika sama sekali," ucap Tia yang dengan cepat menepis tangan laki-laki yang mengangkat dagunya seenaknya


"Kamu gadis yang pemarah ya?"


"Padahal aku hanya mencoba sedikit menggodamu," ucap sosok laki-laki berambut hitam itu dengan tertawa dingin kepada Tia yang ada di depannya


"Bukan urusanmu, jika aku ingin marah atau senang," ucap Tia dengan dingin dan kesal kepada sosok laki-laki yang terlihat beromong kosong


"Teng... Teng... Teng..." terdengar suara lonceng jam berbunyi kembali


Roda-roda gerigi jam itu tiba-tiba terlihat dengan sangat jelas belakang pohon berwarna merah muda itu, sedang berputar di saat yang bersamaan juga tiba-tiba saja seluruh tempat Tia dan sosok laki-laki berambut hitam itu berpijak berubah menjadi air yang anehnya bisa membuat mereka berdiri di atasnya tanpa membuat mereka basah.


"Ternyata benar ya, kamu anak kesayangan dewa hingga seorang dewa memberikan kamu artefak yang begitu berharga, bahkan dewa yang sangat sayang kepadamu bukan sebarang dewa,"


"Kamu semakin menarik, tetapi sayangnya kita akan berpisah di sini karena sebentar lagi semuanya akan kembali ke sebelumnya," ucap sosok laki-laki berambut hitam itu perlahan-lahan menghilang dan pandangan Tia perlahan-lahan menjadi gelap dan buram


Tetapi ketika dia membuka mata betapa terkejutnya Tia kalau dia saat ini berada di salah satu kamar di dalam mansion tempat dia tinggal saat ini.


"Kamu akhirnya bangun, padahal aku masih ingin melihatmu tidur, karena kamu begitu menggemaskan," ucap sesosok laki-laki berambut coklat panjang berkacamata Monocle duduk dengan kaki yang menyilang sambil membaca sebuah buku yang ada di tangannya dengan senyuman yang lembut

__ADS_1


Tia yang baru saja bangun menguap dan menggosok-gosok matanya sambil merubah posisi baring ke posisi duduk supaya lebih enak dalam berbicara dengan sosok tunangannya yang sangat asik mengamati Tia sejak dia belum bangun tidur.


"Ini airnya di minum dulu," ucap sosok laki-laki berambut coklat panjang berkacamata Monocle sambil menyerahkan segelas air putih kepada Tia dengan senyuman yang lembut


Tia menganggukkan kepalanya dan mengambil gelas yang di berikan oleh laki-laki itu, di tengah-tengah Tia minum dia tenggelam ke dalam pikirannya tentang yang di mimpikan hari ini.


'Apakah itu benar-benar hanya mimpi? Apakah mungkin mimpi tentang pesta yang belum aku datangi itu bisa terjadi? Ini sangat aneh,' ucap Tia di dalam hatinya menatap gelas air yang ada di tangannya


"Lucas, apakah benar hari ini adalah hari pesta yang di adakan keluarga kerajaan untuk sang gadis kesayangan para dewa?" tanya Tia dengan tatapan penasaran


"Iya benar, kamu terlihat begitu tidak sabaran hingga bertanya dua kali, padahal semalam kamu baru saja menayangkan kepadaku tentang pesta yang di adakan oleh keluarga kerajaan itu," ucap Lucas dengan tawa kecil menatap sosok gadis di depannya terlihat sangat menantikannya


Setelah ciuman kecil itu, Tia di tinggalkan di dalam kamar sendirian di saat itu dia juga memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur, tetapi pada saat dia bangkit terlihat sebuah rantai yang aneh tertutup oleh selimut ketika Tia menarik selimut itu betapa terkejutnya Tia kalau ada jam saku yang sama persis dengan yang berada di dalam mimpinya diberikan oleh seorang kepala menara sihir.


"Bukankah sangat aneh jika jam saku emas seperti ini bisa di sini? Apakah mungkin aku kembali ke masa lalu dengan alat ini?" gumam Tia yang mengambil jam saku itu dari tempat tidur dan membukanya


Jam saku itu tidak terlihat lagi jarumnya bergerak, dan membuat Tia yakin kalau ini adalah benda satu kali pakai dan dia menjadi yakin identitas yang di miliki oleh sang penyihir dan sosok duta besar dari timur itu pastinya bukan orang dengan latar belakang sesederhana yang di lihat.


"Kalau begitu aku merasa tidak asing dengan kedua orang itu, karena mereka adalah dewa di aula istana kekaisaran itu?"


"Jika benar ini adalah kesempatan, maka kali ini aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan," gumam Tia dengan tatapan mata yang melebar karena tidak percaya dengan yang terjadi

__ADS_1


Di sisi lain di sebuah wilayah yang langitnya tidak pernah diterangi oleh matahari tetapi di terangi dengan cahaya bulan merah dan langit merah, terdapat banyak makhluk yang sangat aneh dan juga mengerikan, karena bisa membunuh dan memakan manusia-manusia.


Di wilayah tersebut terdapat sebuah istana yang di pimpin oleh seorang raja berdarah kejam dan sangat menikmati penderitaan manusia, yaitu raja iblis. Di bawah kekuasaan raja iblis semua makhluk-makhluk itu dengan bebas berbuat penderitaan kepada manusia dan makhluk-makhluk lain di alam manusia.


"Yang mulia raja, kami telah mendapatkan informasi yang sangat berharga yaitu seorang anak kesayangan dewa telah turun ke dunia dan kemungkinan akan bisa menghabisi kita semua,"


"Kita harus bertindak lebih cepat yang mulia, kalau tidak kita mungkin akan mati di tangan anak kesayangan dewa itu," ucap sesosok laki-laki dengan tanduk dan ekor berlutut di hadapan sang raja iblis yang sedang duduk di kursi takhtanya


"Aku sudah mengetahuinya, tetapi kali ini bukan baik jika kita terlalu gegabah karena gadis kesayangan dewa ini bukan sembarangan orang,"


"Jadi biarkan saja mereka merayakannya saat ini dengan bahagia, tetapi nanti mereka akan siap untuk di hancurkan," ucap sang raja iblis yang duduk di kursi takhtanya menggoyang-goyangkan gelas wine yang berada di tangannya kemudian menghancurkannya dengan tangan kosong


Terlihat setelah ucapan itu semua iblis langsung dengan cepat keluar dari aula takhta sang raja iblis yang terlihat tidak senang saat itu, hingga akhirnya sang raja iblis sendirian duduk di kursi itu dengan ruangan besar yang kosong dan dingin.


"Beruntungnya sihir milik para dewa itu tidak berpengaruh kepada ingatanku karena aku masuk ke dalam mimpi gadis itu, jika tidak mungkin aku akan bisa di tikam olehnya saat berada di sana nanti,"


"Tetapi, takdir macam apa yang di miliki gadis ini hingga sangat begitu menyedihkan seperti ini bahkan terlihat jiwa itu sangat lelah dan menarik seorang dewa takdir dan mimpi yang terkenal dingin tidak peduli,"


"Ciel Idris Aryasatya Kawindra,"


Rejects The Prince And Becomes The Aide's Fiancé

__ADS_1


__ADS_2