Rejects The Prince And Becomes The Aide'S Fiancé

Rejects The Prince And Becomes The Aide'S Fiancé
Bab 37 Jamil Dan Zayyan


__ADS_3

"Yang mulia putra mahkota,"


"Ada surat dari seorang bangsawan dari timur tengah yang akan berkunjung ke istana kerajaan kita," ucap seorang pelayan yang menyerahkan sebuah surat dengan lambang keluarga kerajaan ular kobra yang melilit pedang


Sang putra mahkota yang melihat surat yang sampai itu langsung memeriksa isinya betapa terkejutnya dia membaca isi surat yang begitu mendadak di tunjukkan kepada dirinya yaitu surat kunjungan yang langsung di datangi seorang pangeran ketiga negeri timur tengah yang katanya adalah pewaris yang paling menjanjikan di negeri sana, sang putra mahkota yang membaca isi tentu langsung tertarik untuk langsung menyambut orang itu. Karena akan menguntungkan dirinya di masa depan saat naik takhta jika memiliki hubungan yang sangat baik.


Beberapa hari berlalu sejak surat itu sampai akhirnya sesosok laki-laki berambut perak dengan kulit coklat eksotis dan seorang laki-laki berambut hitam panjang ikat kuda berkulit coklat eksotis tiba di kerajaan yang mereka tuju.


"Aku tidak menyangka akhirnya kita tiba di negeri barat, rasanya seperti kita kembali ke akademi dulu,"


"Benar bukan Jamil?" ucap Zayyan dengan tatapan yang bersemangat menatap ke seluruh bangunan arsitektur yang membuatnya nostalgia


"Iya memang benar, tetapi tolong kamu tidak membuat keributan ataupun masalah,"


"Karena menggunakan identitas orang lain supaya bisa datang ke dunia manusia itu tidak mudah," ucap Jamil dengan helaan nafas panjang membawakan koper milik Zayyan dan miliknya


"Pangeran Zayyan Al-Jabar selamat datang di kerajaan Kyndell,"


"Perkenalkan nama saya Ian Kyndell, putra mahkota kerajaan ini yang akan langsung memandu Anda," ucap sang putra mahkota dengan memberikan hormat kepada Zayyan


"Tidak perlu begitu formal, kita sama-sama orang yang berjuang untuk negeri kita jadi panggil aku dengan nama langsung saja dan..."

__ADS_1


"Ah iya perkenalkan laki-laki yang ada di sebelahku adalah Jamil Viper dia adalah pengawal pribadiku," ucap Zayyan dengan senyuman yang riang membuat sang putra mahkota yakin kalau sang pangeran di depannya adalah orang yang sangat mudah di bujuk untuk kerja sama untuk keuntungan yang besar bagi dirinya di masa depan


"Senang berkenalan denganmu, kalau begitu panggil aku juga dengan nama pangeran Zayyan," ucap sang putra mahkota dengan senyuman di jawab dengan anggukan yang bersemangat dari Zayyan


Zayyan dan Jamil yang sudah tiba langsung di pandu ke kamar tamu yang telah di siapkan untuk meletakkan barang-barang milik mereka, setelah itu baru Zayyan dan Jamil di pandu berkeliling ke tempat-tempat umum yang ada di kerajaan ketika mereka telah berkeliling selama dua jam di istana, akhirnya putra mahkota mengajak mereka berdua untuk duduk minum teh bersantai di taman gazebo sebelum akhirnya menunjukkan tempat lainnya.


"Aku tidak menyangka kalau ada taman bunga yang seindah ini, di tempat kita hanya ada gurun yang luas bukan Jamil?" tanya Zayyan dengan lantang dan bersemangat seperti orang yang baru saja melihat benda berharga


"Yang mulia tolong duduk di kursi Anda,"


"Itu tidak terlihat sopan sama sekali jika Anda berdiri tiba-tiba seperti itu," ucap Jamil dengan senyuman yang sedang menahan emosinya meledak kepada sosok orang yang sejak tadi tidak bisa diam di depan orang yang di depannya


"Tidak apa-apa, aku tidak mempermasalahkannya karena wajar saja menurutku orang-orang yang berada di timur tengah belum pernah melihat taman bunga, karena di sana tempat yang tandus bukan?"


"Ah iya, putra mahkota Ian bisakah aku menemui asisten pribadimu yang dikatakan telah mengalahkan seorang iblis tingkat tinggi itu?"


"Aku dengar kondisinya masih tidak sadarkan diri, tapi kami hanya memiliki kesempatan ini untuk berkunjung jadi apakah boleh kami ingin melihatnya?" ucap Zayyan dengan tatapan yang bersemangat dan penuh energi hingga membuat Ian tidak memiliki pilihan lain selain menerima persetujuan itu


Ian merasa mungkin tidak akan ada masalah jika membiarkan tamu dari timur tengah ini berkunjung ke asistennya layaknya benda museum yang di pajang, Ian kemudian mengantarkan Zayyan dan Jamil ke ruangan besar yang terlihat sesosok laki-laki yang terbaring lemas dan sedikit tubuh kurus di sana.


"Apakah ini sang pahlawan yang di katakan? Kenapa bisa tubuhnya begitu kurus?" tanya Zayyan dengan tatapan terkejut melihat sesosok laki-laki yang terlihat sudah terbaring tidak berdaya seolah-olah hanya menjadi mayat hidup menantikan kematian datang kepadanya

__ADS_1


'Tidak heran jika jiwanya bisa sampai di istana para dewa padahal sangat mustahil manusia yang masih hidup jiwanya bisa berada di tempat para dewa,' ucap Jamil di dalam hatinya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya menatap sosok laki-laki yang terbaring di tempat tidur itu dari jauh


"Ian, bisakah kami berada di sini lebih lama lagi,"


"Karena di negara kami kami memiliki kebiasaan berdoa lama untuk kesembuhan seseorang dan aku ingin mendoakan untuk orang-orang yang berjuang susah payah hanya untuk menyelamatkan dunia ini,"


"Di kerajaan kalian juga mempercayai dewa bukan? Jadi seharusnya kamu tidak masalah dengan kami yang berdoa dengan dewa juga walaupun dewa kita berbeda tapi cara yang kita percaya dewa itu ada," ucap Zayyan dengan tatapan yang sedih dan tertunduk


Ian berpikir sesaat kemudian mengangguk setuju dengan ucapan yang di ucapkan oleh Zayyan tanpa ada rasa curiga sedikitpun tentang yang mungkin akan di lakukan dengan cara mereka berdoa.


"Kamu bisa meninggalkan kami berdua di dalam ruangan ini, karena kami bisa berdoa sangat lama hingga mungkin bisa melewati jam makan malam," ucap Zayyan dengan tatapan serius di jawab dengan anggukan oleh Ian yang kemudian meninggalkan ruangan


Zayyan kemudian menjentikkan jarinya yang kemudian sebuah perisai tipis kedap suara terbuat di sekitar ruangan yang hanya tinggal hanya mereka berdua di dalam ruangan itu.


"Aku tidak menyangka kamu bisa belajar berbohong seperti itu? Dari siapa kamu belajar? Katakan kepadaku orang yang mengajarimu berbohong,"


"Padahal jelas-jelas selama ini kamu tidak pernah berbohong," ucap Jamil dengan tatapan yang tajam dan kesal ke arah Zayyan yang ada di depannya


Jamil di kehidupan sebelumnya selalu melayani Zayyan walaupun dia tidak suka dengan Zayyan, tetapi karena adanya hutang balas budi orang tuanya dia memutuskan untuk melakukannya. Dia sejak kecil selalu tau kalau Zayyan adalah orang yang ceria, aktif dan tidak pernah berbohong oleh karena itu dia terkejut melihat kebohongan laki-laki itu begitu mulus.


"Emmm... Jamil bisakah kita membahas itu nanti saja?"

__ADS_1


"Bukankah ada nyawa yang harus di selamatkan saat ini dulu?"


Rejects The Prince And Becomes The Aide's Fiancé


__ADS_2