
"Nona, baru saja ada surat yang datang dari kerajaan,"
"Tertulis di amplop undangan pesta teh nona," ucap seorang pelayan dengan nafas yang tersengal-sengal hanya untuk mengantarkan surat itu dari lantai satu ke lantai tiga mansion
'Apakah pelayan ini baik-baik saja? Dia terlihat seperti sesak nafas setelah mengantarkan surat ini,' ucap Tia di dalam hatinya dengan beberapa kali berkedip menatap gadis yang ada di depannya meletakkan surat dengan cap emas di atas meja Tia
"Baiklah aku mengerti, terima kasih telah mengantarkan surat ini, tetapi lain kali tolong utamakan keselamatanmu karena sangat berbahaya berlari di koridor," ucap Tia dengan senyuman kaku kepada pelayan yang ada di depannya
Karena merasa tidak ada yang ingin dia sampaikan kepada pelayan, pelayan itu langsung membalas dengan anggukan mengerti dan memberikan hormat keluar dari ruangan besar meninggalkan Tia sendirian di dalam ruangan yang besar dan luas itu. Tia membuka amplop surat itu dan membacanya isi dari surat itu, seketika membuat keningnya berkerut.
"Aku tidak menyangka mereka menggunakan cap raja untuk membuat seseorang hadir di dalam pesta teh seorang anak kesayangan para dewa,"
"Bukankah ini terlalu berlebihan untuk mengancam seseorang hadir ke dalam sebuah pesta yang hanya menghabiskan waktu dengan bergosip?" gumam Tia dengan tatapan yang kesal
Tia kesal bukan karena dia iri dengan seorang anak kesayangan dewa yang bisa seenaknya melakukan yang dia inginkan, tetapi faktanya tidak mungkin dia di undang tanpa ada maksud tertentu ke dalam pesta teh, Tia sadar diri sejak di pesta besar kemarin semua sudah memperhatikan dia untuk di lihat apakah layak untuk di jadikan tontonan atau sekutu. Namun Tia yakin kalau perlakuan dari seorang anak kesayangan dewa itu memperlakukan dirinya untuk di jadikan sebuah tontonan seorang gadis yang baik di tindas oleh seorang gadis jahat dan angkuh, karena bertunangan dengan seseorang pegawai negeri kerajaan di sisi putra mahkota.
Beberapa hari kemudian, Tia tanpa sadar telah sampai di depan istana kerajaan, tetapi tidak ada satu pun orang yang datang untuk menyambut atau memandunya ke tempat pesta itu di adakan. Tia sudah tau jika kedatangannya pasti tidak akan di anggap penting oleh orang-orang karena latar belakangnya sekarang adalah seorang gadis yang berasal dari rakyat jelata.
"Aku sudah menduganya, tapi untungnya aku pernah di pandu oleh Lucas untuk berkeliling istana jadi aku bisa berjalan ke sana sendirian," gumam Tia dengan percaya diri tetapi beberapa menit kemudian dia telah tersesat karena dia adalah seorang gadis yang cukup buruk dengan jalanan yang banyak lorong.
__ADS_1
"Seingatku aku pernah melewati jalan ini barusan,"
"Tidak mungkin aku kembali ke tempat ini lagi bukan?" ucap Tia dengan nada yang suram dan pasrah berhenti di koridor itu untuk melihat kiri dan kanannya
Tiba-tiba saja Tia merasakan ada sesuatu yang menyentuh pundaknya tanpa ada suara yang berbicara menyapa, dia yang terkejut dan merasa merinding langsung berusaha lari, tetapi kini lengan tangannya di genggam yang mampu membuatnya tidak bisa melarikan diri.
'Tangan dingin yang menggenggam lenganku ini,'
'Itu bukan hantu orang-orang mati di istana ini bukan? Karena aku dengar-dengar dari orang-orang di istana yang cukup berumur ini banyak sekali hantu yang tidak peduli siang dan malam mereka akan tetap berkeliaran,' ucap Tia di dalam hatinya tanpa menoleh sedikit pun ke arah belakangnya karena dia merasa takut
"Woi kamu," ucap sesosok makhluk di belakang Tia dengan nada yang dingin dan berat membuat Tia semakin berusaha untuk kabur dari sosok itu
"Siapa yang kamu panggil hantu? Aku putra mahkota kerajaan ini," ucap sosok yang ada di belakang Tia langsung membuat Tia menoleh dengan tatapan bersalah
'Aku akan mati lagi lebih cepat dari sebelumnya, kali ini kematianku adalah kematian yang konyol karena melakukan penghinaan kepada keluarga kerajaan,' ucap Tia di dalam hatinya dengan senyuman yang kaku dan takut
Sang putra mahkota yang ada di depan Tia kemudian melepaskan genggaman tangannya dan menatap dengan menyidik dari atas ke bawah, walaupun terlihat tidak sopan Tia tidak mungkin berteriak atau mengatakan kata-kata itu kepada seorang nomor dua yang memiliki kekuasaan di kerajaan ini.
"Maafkan saya yang mulia putra mahkota, saya tidak bermaksud untuk tidak sopan hanya saja saya dengar jika di koridor kerajaan seperti ini biasanya banyak sekali kejadian mistis atau menyeramkan,"
__ADS_1
"Karena saya tidak mendengarkan langkah kaki yang berjalan di koridor dan saya sendirian di sini saya pikir saya bertemu dengan makhluk yang tidak terlihat itu," ucap Tia dengan kepala tertunduk bersalah kepada sosok laki-laki yang berada di depannya
"Aku tidak menyangka kamu bersikap berbeda dari rumor yang beredar,"
"Coba aku pikirkan apakah aku bisa memaafkan dirimu atau tidak?" ucap sang putra mahkota dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya berpikir tentang haruskah dia melepaskan Tia atau tidak
Tia yang masih tertunduk karena dia menjadi ingat dengan jelas kejadian di masa lalu pada saat dia masih menjadi tunangan putra mahkota, sebuah kenangan manis yang tidak pernah terhapus sama sekali di ingatannya ketika dia saat ini menatap gaya sosok laki-laki itu sama di maa lalu. Tetapi tidak lama kemudian Tia malah teringat dengan sebuah kejadian di mana tatapan yang begitu manis menjadi tatapan yang dingin dan tidak peduli kepada Tia, tubuh Tia menjadi gemetaran dan merasakan sakit di dadanya ketika mengingat kejadian itu.
"Tia, aku dengar kamu datang ke istana kerajaan karena ada pesta teh, tetapi aku tidak menyangka bisa menemui dirimu di koridor seperti ini," ucap seorang laki-laki dengan suara yang lembut dan tidak terdengar asing untuk Tia
Tia yang awalnya gemetaran dan sakit di dadanya anehnya menjadi tenang dengan suara yang begitu tidak asing untuknya. Tidak lama setelah ucapan itu, Tia merasakan sebuah pelukan hangat yang melingkar di lehernya dan kepala yang dengan manja bersandar di kepala gadis itu dengan tatapan tajam dari balik kacamata Monocle miliknya ke arah sosok laki yang ada di depan kemudian tersenyum dengan lembut.
"Yang mulia putra mahkota, maafkan jika tunanganku bersikap tidak sopan,"
"Dia memang sedikit buta arah, karena baru satu kali berkunjung di istana ini,"
"Oleh karena itu kami pergi dulu,"
Rejects The Prince And Becomes The Aide'S Fiancé
__ADS_1