Rejects The Prince And Becomes The Aide'S Fiancé

Rejects The Prince And Becomes The Aide'S Fiancé
Bab 42 Rendahan


__ADS_3

"Nona Tia, sudah lama ya kita tidak bertemu dan di ruangan ini,"


"Kamu tumbuh dengan sangat baik dan menjadi jauh mandiri dan sukses sekarang, walaupun kamu masih sangat muda," ucap sesosok laki-laki yang duduk di kursi dengan rambut-rambut yang sudah tidak lagi berwarna gelap menatap Tia dengan senyuman begitu lembut


Tia yang merasa tidak pernah melihat senyuman itu terdiam sesaat, kemudian duduk di kursi kosong yang berada di depan meja kerja Duke setelah di berikan isyarat, kursi itu tidak pernah dia lihat sama sekali berada di depan meja Duke, karena selama dia pernah tinggal di tempat itu sama sekali tidak ada kursi jadi seolah-olah telah di siapkan untuk Tia duduk di sana. Namun, Tia tidak terlalu banyak berharap atau berpikir tentang Duke terhadap dirinya, karena sekarang dia bukan lagi bagian dari keluarga Shavonne.


"Ada perlu apa kamu hingga ingin melewati perbatasan yang telah di tetapkan oleh sang raja? Apakah kamu sudah bosan hidup hingga mati seperti i-"


"Aku tau tentang itu, karena aku bukannya orang yang tidak pernah belajar tentang sejarah kerajaan,"


"Ada hal yang harus aku lakukan di sana, dan kita bukan keluarga lagi,"


"Jadi, kamu tidak berhak menentukan aku akan kemana? Toh, juga aku tidak merugikan keluarga Duke Shavonne yang sangat berharga untuk dirimu," sela Tia dengan lantang dan kepala yang tertunduk tanpa berani menatap ekspresi apa yang di tunjukkan oleh sang Duke Shavonne saat ini


Tia tau ucapannya sangat tajam dan mungkin akan melukai hati seseorang, tetapi jika dia mengingat semua yang terjadi di kehidupannya yang sebelumnya Tia mengalami nasib yang lebih menderita, karena tersiksa dengan ucapan orang-orang dan perbuatan orang-orang yang memperlakukannya dirinya seperti mainan yang layak di jadikan tontonan. Ketika Tia sudah lagi tidak menghibur mereka akan membuang Tia seperti membuang barang rusak dengan melakukan hukuman mati, hingga pada hari kematiannya tidak ada seorangpun yang membantu dirinya. Jadi dia tidak peduli dengan orang-orang yang tidak memiliki hubungan lagi dengannya.


"Maafkan aku, jika aku mungkin adalah orang tua angkat yang buruk untuk dirimu,"

__ADS_1


"Karena aku bukan laki-laki yang bisa mengerti hati seorang anak, aku berpikir hanya membesarkannya dengan banyak uang maka dia akan bahagia,"


"Aku ayah yang terlalu angkuh bukan? Hingga percaya kamu tidak pergi dari keluarga Shavonne," ucap sosok laki-laki di depannya dengan suara yang terdengar berat dan serak seolah-olah sulit untuk mengatakan sebuah kebenaran yang ada jauh di dalam lubuk hatinya tentang Tia


Tia yang mendengarkan langsung mendongakkan kepalanya menatap lurus ke ekspresi yang di tunjukkan oleh sang Duke saat selesai berbicara, ekspresi wajah itu membuat Tia teringat dengan ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Duke saat pada saat dia berada di ambang kematiannya persis dengan ekspresi saat ini tidak dia pahami, karena dia sudah terlanjur sangat sakit hati dengan tusukan yang bertubi-tubi.


"Tidak perlu meminta maaf, ini juga salahku karena tidak pernah memahami kalau begitu,"


"Terima kasih pernah menjadi orang tuaku, tetapi saat ini juga aku akan tetap pergi ke sana, karena aku tidak memiliki banyak waktu," ucap Tia yang beranjak dari kursinya dan menunduk hormat kepada sosok laki-laki yang ada di depannya kemudian berjalan keluar dari ruangan sambil membawa semua barang-barangnya


"Apakah kamu yakin tidak ingin menginap dulu, ini malam hari sangat berbahaya pergi sendirian, setidaknya biarkan aku jadi ayahmu untuk terakhir kalinya," ucap sosok laki-laki itu dengan ekspresi wajah yang mengharapkan jawaban


"Tuan, kenapa Anda tidak inginkan mengucapkan perpisahan dulu?" ucap sang asisten pribadi dengan tatapan kebingungan dan penasaran kepada sosok laki-laki tua yang menatap ke luar jendela


"Karena aku sudah bukan siapa-siapa lagi untuknya, dan aku juga tidak berhak untuk dengan baik mengatakan kalau aku adalah orang tuanya,"


"Tetapi, ini perjalanan yang berbahaya utus beberapa kesatria secara diam-diam untuk melindungi dirinya," ucap sang laki-laki tua itu dengan senyuman tipis

__ADS_1


Tia menunggangi kudanya hingga sampai ke perbatasan terlarang, di sana betapa terkejutnya dia melihat laki-laki berambut emas sang pemilik kerajaan, berada di depannya bersama dengan kudanya memperlihatkan seperti kalau Tia sudah berada di dalam genggamannya sejak lama dan Tia tidak akan bisa kabur kemanapun bahkan hingga ke tempat yang berbahaya sekalipun.


"Tia, bagaimana bisa kamu pergi secara diam-diam seperti ini? Bahkan kamu sampai berniat ke tempat yang berbahaya tanpa aku,"


"Dan pergi ke tempat yang berbahaya seperti ini? Apakah tidak puas kamu duduk manis di dalam mansion yang aku belikan untuk dirimu? Hingga kamu kabur-kaburan seperti ini?" ucap sang laki-laki berambut emas dengan tatapan tajam dan dingin ke arah Tia yang berada di depannya membuat Tia menggenggam erat tali kuda dengan erat


"Jawab aku Tia!!" ucap sosok laki-laki itu dengan lantang ke arah Tia yang ada di depannya


Tia terdiam tidak berbicara, dia memang tidak salah melihat senyuman yang di tunjukkan oleh laki-laki itu setiap saat kepadanya persis sama dengan di masa lalu bahwa dia laki-laki yang tidak berubah dan mungkin tidak akan pernah. Tetapi kali ini Tia tidak mengerti kenapa laki-laki ini ingin dekat dengan Tia yang sudah tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar lagi.


"Aku pergi ke mana bukankah kita hanya teman? Seharusnya itu tidak ada hubungannya dengan Anda yang mulia," ucap Tia dengan tatapan yang serius ke arah sosok laki-laki berambut emas yang terlihat marah hingga keningnya berkerut terlihat dengan jelas


"Memang benar kita hanya teman, tetapi apakah tidak cukup semua yang aku tunjukkan kepadamu adalah ketulusan yang lebih sejak kamu di campakkan oleh tunanganmu?" ucap sang putra mahkota dengan tatapan yang tidak sama sekali gentar


Tia hanya diam dan diam mendengarkan ocehan dari sosok laki-laki itu, karena saat ini jika dia tersulut emosi kemungkinan hanya akan membuatnya mati dengan cepat karena refleksnya sangat lambat. Oleh karena itu dia berusaha sebaik mungkin berkepala dingin.


"Tia, kamu jangan-jangan ingin pergi ke hutan terlarang ingin membuat kontrak dengan raja iblis?"

__ADS_1


"Jika memang iya, kamu gadis yang rendahan ya, mengendalikan orang dengan kekuatan iblis?"


Rejects The Prince And Becomes The Aide's Fiancé


__ADS_2