
"Guru, padahal jelas-jelas dia hanya di pinjamkan artefak jam saku yang bisa di gunakan satu kali,"
"Tetapi, bagaimana bisa artefak yang merupakan benda mati itu tergerak hanya dengan bermodalkan hati dan keinginan? ucap sesosok laki-laki berambut hitam panjang berpakaian bergaya timur motif relung awan dengan helaan nafas panjang dan menggelengkan kepala
"Tentu saja bisa, karena seseorang yang bisa menjadi dewa sekalipun juga memiliki hal itu bukan?"
"Dan juga artefak itu terbentuk karena harapan orang-orang yang penuh dengan penderitaan dan rasa bersalah tidak bisa membantu orang-orang hingga dia memiliki caranya sendiri untuk membantu seseorang yang sama sekali tidak mengerti caranya menyelamatkan hal yang sudah terlambat untuk di selamatkan,"
"Yah, tugas kita hanya mengawasi jadi kita hanya perlu menghentikannya, jika artefak itu diam-diam berulah lagi," ucap Ciel dengan helaan nafas panjang menatap ke langit-langit ruangan luas yang penuh dengan rak-rak buku yang melayang
Tia membuka mata dan terlihat dari luar jendela cahaya matahari telah masuk melalui celah-celah ke dalam ruangannya, Tia kebingungan antara mimpi dan nyata yang terjadi langsung mencari sebuah peta dan melihat tempat yang kemungkinan adalah salah satu tempat yang ada di mimpinya di saat yang sama Tia memberikan perintah kepada seorang pelayannya untuk menyiapkan barang-barang yang dia perlukan untuk bepergian, karena entah kenapa dia merasa ingin mencari tau dan khawatir dengan sosok laki-laki yang ada di mimpinya padahal sudah jelas jika wajahnya sama sekali tidak terlihat jelas.
"Hanya ada satu tempat yang menjadi kemungkinan tempat yang mirip dengan mimpiku,"
"Tapi, bukankah itu berada di dekat wilayah duke Shavonne?" gumam Tia dengan suram dan kening yang berkerut karena dia sama sekali tidak ingin lagi terlibat sesuatu di wilayah mantan ayahnya
__ADS_1
"Tia, apa yang sedang kamu lakukan sekarang?" ucap sesosok laki-laki berambut emas tersenyum dengan seringai yang sangat terlihat mengerikan ke arah Tia
"Aku tidak sedang melakukan apa-apa yang mulia putra mahkota, hanya sedang melihat peta saja untuk mengembangkan bisnisku," ucap Tia dengan senyuman yang kaku
Sang putra mahkota menatap dengan tatapan yang tajam ke arah Tia dari atas ke bawah, seolah-olah sedang memperhatikan mangsa yang akan kabur dari sangkarnya. Tia yang sudah beberapa bulan berada di dekat putra mahkota merasa semakin lama semakin aneh, karena dia terkadang sering di berikan senyuman yang sangat mengerikan oleh sosok laki-laki berambut emas sesaat, awalnya dia melihat itu mungkin hanya salah lihat tetapi lama-kelamaan itu semakin aneh hingga membuatnya merasa itu bukan hanya sekedar salah melihat. Karena tatapan itu terkadang seakan-akan semakin mengikat dirinya.
"Oh... begitu..."
"Aku menyarankan kamu melakukan bisnis ke negeri seberang,"
"Karena, kamu sekarang sudah mulai memiliki bisnis yang sangat menguntungkan," ucap sang putra mahkota yang kemudian menoleh ke arah peta yang ada di meja setelah selesai memperhatikan Tia
"Karena semua persiapan telah selesai, saatnya berangkat,"
"Semoga dengan surat ini mereka tidak akan bisa mencari aku untuk sementara," gumam Tia yang turun dari lantai atas balkon kamarnya dengan selimut yang di ikat memanjang ke bawah
__ADS_1
Di sisi lain Lucas dan anak kesayangan dewa kini telah berada di hutan kegelapan menuju ke danau darah yang terkenal di pedalaman hutan yang di katakan oleh orang-orang kalau itu adalah tempat peringatan keras dari sang raja iblis, bagi siapa pun yang mencoba melangkah menuju ke negeri gelap miliknya. Tentu sudah banyak yang tidak percaya dengan rumor itu dan mencobanya, tetapi yang benar saja tidak ada satu pun orang yang berhasil kembali dari tempat itu, kalaupun ada kemungkinan orang itu sudah menjadi gila atau lumpuh tidak berdaya.
"Hari ini kita berkemah di sini saja, karena akan sangat berbahaya bagi kita lanjut berjalan di malam hari seperti ini,"
"Apalagi kita telah melewati perbatasan sekarang dan hanya kita berdua yang berjalan menuju istana raja iblis yang entah akan seperti apa nanti di perjalanan menanti kita," ucap Lucas dengan tatapan dingin memegang erat pedangnya
Lucas berjaga semalaman tanpa tidur sedikitpun, dia hanya duduk di bawah pohon memandangi sekitar hutan dengan waspada. Karena dia tidak tau apa yang mungkin akan terjadi di tempat terlarang untuk manusia ini. Sedangkan Tia saat ini sedang berada di perjalanan ke perbatasan di wilayah Duke Shavonne menggunakan kuda yang telah dia siapkan dari jauh-jauh hari sebelumnya, tetapi di tengah-tengah perjalanan dia di hadang oleh beberapa kesatria yang mengenali Tia dengan khas. Mereka mencegah Tia dan membawanya ke mansion kediaman Duke Shavonne yang padahal sudah jelas-jelas dia tidak ingin berhubungan lagi dengan mantan orang tuanya yang pernah membesarkan dirinya.
"Nona, apa yang Anda lakukan di malam seperti ini adalah hal yang berbahaya meski saya tidak tau apa tujuan Anda, tetapi hutan terlarang itu dilarang,"
"Karena tempat itu adalah kutukan untuk manusia, walaupun Anda pernah membunuh seorang iblis satu kalipun,"
"Pikirkan dengan baik semuanya pasti ada solusinya, jangan berpikir mati dengan cara ini," ucap seorang kesatria yang menceramahi Tia dengan tatapan khawatir berjalan bersama Tia menuju ke ruangan Duke Shavonne yang di larut-larut malam seperti ini masih bekerja keras untuk wilayah yang di pimpin olehnya
Tia tidak paham sama sekali dengan semua orang yang pernah mengatakan dia sebagai penjahat, tetapi orang-orang ingin menolongnya? Dan bahkan sampai menghentikan dirinya untuk ke tempat yang berbahaya, padahal di masa lalu dia di anggap sebagai orang yang jahat walaupun sama seperti saat ini dia tidak melakukan hal itu, tetapi kenapa orang-orang tidak ada yang membelanya dan malah menghakimi dirinya dengan kata-kata kasar dan tawa yang senang akan kematiannya.
__ADS_1
'Yang mana sebenarnya orang-orang yang harus aku dengarkan?'
'Apakah semuanya palsu atau asli? Aku tidak mengerti,'