
"Apakah kamu sudah melihat berita itu tentang anak kesayangan dewa yang menyelamatkan sang putra mahkota?"
"Dia sangat berani mengorbankan diri untuk yang mulia putra mahkota, pasti memang dewa sangat menyayangi karena hatinya yang sangat tidak takut karena kematian yang akan menghampirinya," ucap salah seorang pelayan saat berjalan-jalan di koridor mansion Duke dengan seorang pelayan yang berada di sebelahnya di jawab dengan anggukan dan tatapan mata berbinar-binar
Dalam satu hari berita tentang seorang Saint anak kesayangan dewa yang menyelamatkan putra mahkota dengan mengorbankan nyawanya menggantikan putra mahkota yang hampir tertusuk langsung menjadi topik perbincangan seluruh negeri di dunia. Semua orang yang kagum dengan sikap itu berbondong-bondong mengirimkan berbagai hadiah dan perwakilan kepada kerajaan yang mereka ajak kerja sama dalam pembantaian iblis dan monster besar-besaran kepada seorang gadis itu dengan harapan semoga gadis kesayangan dewa bisa cepat sembuh. Tia yang mendengarkan berita itu masih sedikit janggal dengan yang terjadi tentang bagaimana seorang gadis yang jaraknya jauh bisa secepat itu berlari ke arah putra mahkota untuk melindunginya padahal jelas jaraknya jauh ditambah lagi gaun yang di gunakan adalah gaun yang cukup sulit untuk membuat seseorang berlari dengan cepat.
"Tia, kenapa kamu melamun seperti itu? Apakah kamu tidak ingin berbagi pemikiran kepadaku?"
"Aku sangat mengkhawatirkan dirimu, kalau kamu seperti ini terus," ucap Lucas yang dengan manja dan menatap khawatir berbaring di paha Tia yang duduk di sofa bersamanya saat ini
Tia yang masih tenggelam ke dalam pemikirannya, tiba-tiba langsung tersadar dari lamunannya ketika dia minum teh tanpa sadar, kalau teh tersebut masih sangat panas hingga lidahnya merasa terbakar. Tia yang lidahnya terbakar dengan cepat diberikan es ke dalam cangkir teh milik Tia dengan sihir Lucas dan Tia meminum teh yang telah dingin itu untuk membuat lidahnya yang terbakar menjadi lebih baik.
"Tia, ulurkan lidahmu biar aku lihat," ucap Lucas dengan tatapan yang khawatir
Tia tanpa pikir panjang menjulurkan lidahnya ke depan Lucas dengan mata tertutup karena mengira mungkin Lucas akan melakukan hal-hal yang mirip di film-film kehidupannya dahulu, tetapi Lucas yang melihat tidak ada luka yang serius di lidah Tia setelah di periksa membuat Lucas langsung menghela nafas lega.
"Syukurlah tidak ada luka yang serius."
Tia yang mendengarkan ucapan Lucas begitu santai langsung membuka mata dan menoleh ke arah Lucas dengan wajah yang memerah. Sedangkan Lucas yang melihat Tia memerah menatap dengan tatapan khawatir kebingungan, karena dia tidak paham dengan yang di pikiran Tia.
"Tia, kamu baik-baik saja? Wajahmu memerah,"
__ADS_1
"Katakan dimana sakitnya, aku akan memanggil dokter untuk langsung memeriksa dirimu," ucap Lucas dengan tatapan khawatir
Tia yang mendengarkan ucapan yang di ucapkan oleh Lucas membuat wajahnya langsung semakin memerah, Lucas yang berjalan semakin dekat dengan Tia kemudian menjulurkan tangannya ke arah dahi Tia dengan jarak wajah keduanya sangat dekat dan mata keduanya saling bertemu.
Ditengah-tengah Lucas memeriksa suhu badan Tia, tiba-tiba saja pintu besar yang ada di belakangnya di buka tanpa adanya ketukan pintu, hingga membuat sosok laki-laki yang membuka pintu besar itu tercengang sesaat kemudian menutup kembali pintu.
'Aly, tidak salah paham bukan dengan posisi yang seperti ini?'
'Jangan sampai terdengar rumor aneh di mansion ini karena kejadian ini,' ucap Tia di dalam hatinya dengan senyuman yang kaku dan wajah yang tidak lagi memerah tetapi kini keringat dingin karena dia takut rumor buruk malah tersebar
"Tia, maafkan aku atas tingkah tidak waras dari Aly,"
"Dia sama seperti Melody suka berpikiran pendek ketika mencium bau gosip saat melihat sesuatu, jadi sepertinya ada masalah yang harus aku urus sekarang,"
Tia merasa aneh dengan jantungnya yang berdetak dengan sangat kencang, dan sudut bibir yang naik tidak bisa dia hentikan membuatnya berpikir kalau dia mungkin saja sakit. Karena dia sudah lama tidak pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.
Di sisi lain Lucas telah berada di depan pintu besar yang menuju ke sebuah ruangan dengan satu meja besar berbentuk lingkaran dan beberapa kursi di sana.
"Lucas, kami dengar dari Aly kalau kamu tadi melakukan hal yang nakal ya?"
"Apakah begitu tidak sabarnya kamu ingin menjadikan dia milikmu hingga kamu melakukan hal semacam itu,"
__ADS_1
"Ckckck sungguh perbuatan yang tercela," ucap salah seorang laki-laki berambut ungu dengan kaki yang berada di atas meja dan kedua tangan yang terlipat
"Perbuatan tercela? Apa itu? Apakah itu bisa di makan?" tanya seorang anak laki-laki berambut hitam yang berada di sebelah laki-laki berambut ungu itu
Sosok laki-laki berambut ungu itu dengan cepat langsung di pukul oleh Aly, karena berbicara di luar pembicaraan yang tidak boleh di dengarkan oleh anak kecil.
"Kakak, bisakah kamu lain kali mengunci pintu jika tidak ingin orang lain tau rumor semacam ini menyebar? Kamu tau bukan kalau Yuna adalah anak kecil,"
"Dan juga kamu belum menikah dengan Tia, jangan membuat kelakuan yang buruk," ucap Melody dengan lantang sambil memukul-mukul meja yang tidak memiliki kesalahan sama sekali kepadanya
Lucas yang mendengarkan ucapan omong kosong kedua orang yang ada di depannya, di saat dia baru saja membuka pintu besar hanya bisa membuatnya menghela nafas panjang dan berusaha mendinginkan kepalanya supaya emosinya tetap dapat di kontrol olehnya saat sedang berbicara.
"Aku hanya memeriksa suhu tubuh Tia, karena wajahnya memerah seperti tomat,"
"Bukan melakukan hal aneh seperti yang kalian bicarakan, aku yakin rumor jelek ini pasti berasal dari mulutmu bukan Aly?" ucap Lucas dengan tatapan dingin dan aura gelap yang menekan Aly
Aly merinding dan tersenyum kaku berusaha sebaik mungkin untuk bersikap tidak terjadi apa-apa, tetapi karena dia satu-satunya orang yang membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuk pintu membuatnya menjadi tersangka kuat yang bisa mati kapan saja di tangan milik Lucas karena berani menyebarkan rumor buruk tentang dirinya secara diam-diam.
"Apa yang kalian lakukan hanya diam saja di sini? Aku pikir aku telah terlambat datang, rapatnya telah selesai,"
"Bukankah bagus kalau rapatnya belum di mulai karena kamu sengaja tidak hadir?"
__ADS_1
Rejects The Prince And Becomes The Aide's Fiancé