Rejects The Prince And Becomes The Aide'S Fiancé

Rejects The Prince And Becomes The Aide'S Fiancé
Bab 43 Kamu Mau Ikut?


__ADS_3

Tia hanya diam menundukkan kepala tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh sang putra mahkota, sedangkan sosok laki-laki yang ada di depannya turun dari atas kuda yang di tunggangi dan berjalan menuju Tia yang masih berada di atas kuda.


"Kamu tidak berani menjawab apakah artinya yang aku ucapkan adalah kebenaran?"


"Kamu memang tidak heran di anggap sebagai gadis yang jahat kalau begitu, tetapi karena wajahmu yang cantik kamu masih bisa berada di sisiku,"


"Tenang saja itu tidak akan ada ruginya," ucap sang putra mahkota dengan tatapan merendahkan dan seringai yang percaya diri menyentuh dagu Tia


Tia hanya diam tertunduk, tiba-tiba langsung terkejut dengan sebuah pedang yang mengarah ke leher milik sosok putra mahkota dari belakang.


"Berani sekali mulut kotor milikmu mengucapkan seperti itu kepada nona kami,"


"Tidak peduli kamu putra mahkota atau bukan? Ucapanmu tidak akan aku bisa ampuni," ucap seseorang gadis dengan kening yang berkerut kesal ke arah putra mahkota yang berada di depannya


"Tunggu nona? Maksud kamu aku?" tanya Tia dengan kebingungan mendengarkan ucapan itu kemudian di jawab dengan anggukan yang bersemangat oleh gadis itu


Tia kemudian berusaha mengingat-ingat apakah dia pernah memiliki seorang pengawal atau menyewa pengawal sebelumnya? Karena ini pertama kalinya dia melihat seorang kesatria yang menghunuskan pedangnya ke arah calon pemilik kerajaan dengan berani membela dirinya yang tidak memiliki apapun.


"Saya adalah kesatria keluarga Duke Shavonne yang ditugaskan untuk mengawal nona walaupun Anda bukan seorang putri keluarga Shavonne lagi, tuan sangat khawatir dengan Anda hingga melakukan hal seperti ini,"


"Dan saya juga yang sudah lama mengajukan diri untuk melindungi Anda secara diam-diam," ucap sang gadis kesatria itu dengan tatapan yang serius dan bersemangat ke arah Tia yang ada di depannya


Tia yang melihat tatapan yang mengartikan kalau dia tidak akan mundur, walaupun di minta kembali memutuskan untuk tersenyum dengan pasrah.


"Baiklah, aku mengerti kedatanganmu hari ini tetapi bisakah kamu turunkan dulu pedangmu,"

__ADS_1


"Bagaimanapun juga ini akan menjadi masalah yang serius nantinya, aku akan pergi ke istana raja iblis,"


"Apakah kamu benar-benar akan ikut? Kamu bisa mati di sana, apakah kamu yakin?" ucap Tia dengan tatapan menyidik arah gadis kesatria itu di jawab anggukan yang bersemangat sambil menurunkan pedangnya dari leher milik putra mahkota


Tia saat ini merasa pusing, padahal dia berniat pergi mencari laki-laki itu sendirian tetapi malah berujung dengan membawa dua orang dalam perjalanannya. Tia, putra mahkota dan kesatria perempuan itu berjalan masuk dengan jalan kaki, karena mereka tidak tau bahaya seperti apa yang menanti di depan jadi dia memutuskan untuk mengikat kuda itu di dekat salah satu pohon di sana sebagai tanda kalau mereka pergi ke hutan terlarang.


Tia, putra mahkota dan kesatria perempuan itu berjalan dengan lancar di tengah hutan, walaupun ada beberapa monster yang sulit di tangani. Tetapi satu hari perjalanan itu, tidak ada satupun cahaya matahari yang masuk ke dalam hutan karena lebatnya hutan sampai mereka sulit untuk mengetahui dimana posisi monster bisa muncul.


"Sebentar lagi matahari terbenam, kita berhenti di sini saja dulu,"


"Karena di malam hari nanti mungkin ada sesuatu yang lebih mengerikan," ucap Tia dengan helaan nafas sambil meletakkan tas besar yang di bawanya di jawab dengan anggukan oleh kedua orang itu terutama putra mahkota karena selama perjalanan yang berbahaya tidak akan bisa membuatnya berdebat untuk melanjutkan perjalanan


Di sisi lain Lucas dan anak kesayangan dewa telah sampai di sebuah desa kecil yang anehnya bisa berada di hutan terlarang, dia bingung karena seharusnya tidak ada rumah penduduk yang ada di tempat seperti ini.


"Saya adalah Devin kepala desa di sini, jika Anda tidak keberatan saya akan memandu Anda tuan dan nona," ucap sang kepala desa dengan senyuman yang ramah


Dapat di lihat oleh Lucas dan anak kesayangan dewa itu, kalau desa kecil itu cukup ramai di tinggali oleh orang-orang walaupun rumah yang mereka miliki sedikit tua. Tanpa merasa ada yang aneh Lucas dan anak kesayangan dewa itu masuk ke dalam desa itu, terdengar suara anak-anak kecil berlari-lari riang di jalanan dan transaksi orang melakukan jual beli di tempat itu begitu lancar.


"Tuan, apakah tempat ini pernah di serang oleh monster atau iblis?" tanya Lucas dengan tatapan kebingungan


"Tidak pernah sama sekali, desa ini sangat cukup damai dan normal bahkan terkadang sampai ada pemimpin wilayah kami dan raja kami datang ke sini untuk berkunjung memastikan segalanya berjalan dengan baik di desa ini," jelas kepala desa sambil menuntun Lucas dan anak kesayangan dewa itu ke sebuah rumah kecil


Rumah kecil yang sudah terlihat beberapa kerusakan, tetapi masih layak untuk menjadi tempat tinggal. Lucas dan anak kesayangan dewa itu di pandu masuk ke dalam rumah kecil itu dan di berikan teh.


"Silahkan di nikmati tehnya, maaf jika kami hanya bisa menyediakan teh,"

__ADS_1


"Karena wilayah ini hanya desa kecil," ucap sang kepala desa dengan senyuman yang ramah namun dengan tatapan yang sedih kepada Lucas dan anak kesayangan dewa itu


"Tidak apa-apa tuan, kami di jamu dengan baik seperti ini saja merupakan hal yang beruntung untuk kami berdua berkelana jauh,"


"Dan ini pasti berkah takdir dari dewa hingga kita bisa bertemu," ucap sang anak kesayangan dewa dengan kedua tangan yang di kepalkan seperti akan berdoa


Sesaat sang kepala desa terdiam terkejut mendengarkan ucapan itu, kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lucas yang melihat keterkejutan ekspresi wajah itu langsung merasa curiga, karena seperti tidak biasa dia mendengarkan itu.


"Apakah di sini ada sebuah kuil dewa kecil? Atau tempat-tempat suci?" tanya Lucas yang menatap dengan tatapan menyidik ke arah sang kepala desa yang sudah terlihat tidak lagi berumur muda


"Humm... Itu ya sedikit sulit dan malu saya katakan kalau di tempat ini sama sekali tidak memiliki tempat seperti itu," ucap sang kepala desa dengan senyuman yang kaku dan mata menatap ke arah atas


Lucas yang mengenali mimik wajah orang berbohong, hanya bisa mengangguk setuju seperti orang yang percaya dengan kebenarannya.


"Tuan, di beritahu kalau ada dua orang manusia yang datang ke desa salah satu pimpinan pendeta iblis,"


"Kepala desa itu mengatakan kalau gadis itu adalah kemungkinan seorang utusan dewa,"


"Kamu dengar bukan?"


"Mereka datang ke desa tempat para pemuja raja iblis?"


"Aku tau itu, sudah tugasku sebagai seorang pendeta ke sana untuk menyambut mereka dengan meriah, apakah kamu mau ikut?"


Rejects The Prince And Becomes The Aide's Fiancé

__ADS_1


__ADS_2