
"Tia, kenapa kamu tidak mencari aku dulu sesaat kamu datang ke istana?"
"Aku khawatir dengan keadaanmu saat kamu berkeliaran seperti itu," ucap Lucas dengan tatapan khawatir menyadarkan kepalanya di atas kepala Tia sambil memeluk eratnya
"Aku khawatir kalau aku menyusahkan diri-"
"Tidak kamu tidak pernah menyusahkan aku dan aku rela di persulit oleh dirimu, karena aku yakin aku bisa menyelesaikan semua masalah yang kamu berikan," ucap Lucas dengan semakin erat memeluk Tia karena dia takut jika sosok gadis itu suatu saat nanti menghilang dari depan matanya di masa depan
Tia hanya diam berada di pelukan Lucas tidak mempermasalah sosok laki-laki itu bersikap begitu manja, karena dia juga merasa tertolong atas kejadian yang di alaminya barusan. Tia terkadang begitu bingung dengan perhatian dan kesabaran di berikan oleh Lucas kepadanya begitu banyak, sampai dia bingung apa yang pernah dia lakukan di masa lalu hingga membawanya ke laki-laki yang begitu baik hampir membuatnya melonggarkan rantai besi yang mengikat pintu hatinya.
"Lucas, aku baru ingat kalau aku harus segera datang ke pesta teh yang di adakan sekarang,"
"Jadi bisakah kamu mengantarkan aku ke rumah kaca istana tempat pesta teh itu di adakan?" ucap Tia dengan tatapan yang serius kepada Lucas saat dia menoleh ke belakang
"Tentu saja aku akan mengantarmu ke sana,"
"Karena itu aku ada di sini supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk kepadamu," ucap Lucas dengan senyuman lembut kemudian mencium dahi Tia
Tidak sampai seperempat jam Tia telah sampai tepat ke pesta teh yang sedang berlangsung, Lucas kembali memberikan beberapa kasih sayang kecil kemudian meninggalkan Tia karena dia tidak ingin mengganggu tempat para gadis berkumpul.
"Nona Tia, selamat datang di acara pesta teh pertama yang saya adakan,"
"Tapi, saya pikir Anda tidak akan hadir ke acara pesta teh yang saya adakan, karena kejadian kemarin," ucap seorang gadis berambut perak bermata merah dengan kipas tangan yang menutupi setengah wajah dan tatapan yang merendahkan ke arah Tia
Tia yang melihat cara bicara dan perilaku sosok gadis yang merupakan pemeran utama dari novel ini hanya bisa menghela nafas panjang, karena sangat jauh dari yang di ceritakan di dalam novel tentang sikap pemeran utama itu. Walaupun adanya perubahan sifat dari pemeran utama itu, Tia juga sama sekali tidak peduli karena dia hanya ingin secepatnya pulang setelah menyetorkan wajahnya di dalam pesta itu.
__ADS_1
"Tenang saja nona Saint, aku bukan tipe orang yang suka membesar-besarkan masalah kecil yang begitu kekanak-kanakan,"
"Karena, bagaimanapun hanya anak kecil yang suka merebut sesuatu dari seseorang,"
"Aku benar bukan?" ucap Tia tatapan yang dingin dan senyuman yang ramah
Gadis berambut perak yang mendengarkan ucapan dari Tia yang terdengar begitu tajam dan secara tidak langsung menyinggung, membuat sesaat mengerutkan dahinya dan mengepalkan salah satu tangannya dengan erat.
"Memang benar seperti itu, tetapi terkadang apa salahnya bertindak kekanak-kanakan seperti itu, karena kita tidak tau kapan ajal akan menjemput kita," ucap Sang gadis Saint itu dari balik kipas tangan yang masih menutupi setengah wajahnya
"Kalau begitu bukankah sikap itu kekanak-kanakan itu di namakan egois karena tidak ingin tau atau peduli dengan orang lain,"
"Kalau begitu nona Saint adalah orang yang seperti itu," ucap Tia dengan lantang dan tatapan serius kepada sosok gadis yang berada di depannya itu
Semua orang memperhatikan dengan baik dari setiap sudut adu mulut yang terjadi antara Tia dan sang gadis Saint dari jarak yang dekat.
Tiba-tiba air mata gadis itu mulai menetes dan memperlihatkan dirinya seperti seorang gadis yang lemah dan tidak berdaya di depan semua mata yang memandangnya.
"Aku hanya untuk mencoba mendapatkan sesuatu yang aku inginkan, karena aku berasal dari keluarga yang sulit dan aku belum pernah merasakan yang orang lain pernah rasakan,"
"Seperti pakaian mewah, pesta dansa, makanan enak dan pesta teh yang elegan,"
"Apakah salah jika aku menjadi egois dan kekanak-kanakan?" ucap Sang gadis Saint itu dengan air mata yang membasahi pipinya dan tubuh gemetaran memegang erat gaunnya
Beberapa gadis bangsawan yang melihat sang anak kesayangan dewa menangis dengan cepat menghampirinya dan memeluknya, karena mereka tersentuh dengan seorang gadis yang begitu kuat menghadapi dunia yang kejam. Tetapi ada beberapa juga yang menganggap seharusnya semakin dia tau tentang dunia dia harus semakin dewasa menghadapi dunia.
__ADS_1
"Nona Tia, anda harus meminta maaf kepada sang Saint karena bagaimanapun dia menjalani kehidupan yang berat wajar saja jika dia ingin menikmati kemewahan yang belum pernah di rasakan,"
"Dan anda sekarang seorang rakyat jelata, berbicara seperti itu kepada anak kesayangan dewa anda sangat tidak sopan," ucap seorang gadis berambut ungu dengan tatapan yang marah dan tajam ke arah Tia
Tia hanya diam mendengarkan kemarahan yang dari gadis itu yang di lampiaskan kepada dirinya, dia hanya diam menunggu semua orang selesai berbicara dan emosi kepada dirinya. Sampai setengah jam kemudian akhirnya mereka semua terdiam kehabisan kata-kata tidak bisa berbicara lagi.
"Apakah kalian sudah selesai memaki aku? Memang benar aku bukan seorang bangsawan tetapi seorang rakyat biasa,"
"Di dunia ini kalian pikir hanya seorang rakyat biasa saja yang perlu di kasihani? Tetapi kalian para bangsawan juga harus di kasihani,"
"Karena orang seperti kalian masih saja tertipu oleh drama yang di tunjukkan oleh gadis itu, suatu hari nanti cepat atau lambat kalian mungkin akan di tusuk dari belakang," ucap Tia dengan senyuman yang lembut tetapi di depan mata orang-orang di depannya itu adalah sebuah penghinaan besar mengatakan secara tidak langsung kalau mereka adalah orang yang bodoh
Tia di tampar dengan cepat oleh salah seorang gadis yang membela sang gadis Saint itu, karena dia menganggap ucapan itu keterlaluan dan tidak terdengar sopan. Tia tentu saja tidak mungkin diam setelah di tampar, dia membalas tamparan itu dengan kencang ke pipi milik gadis yang menampar dirinya.
"KAMU... BERANI SEKALI KAMU MENAMPAR AKU,"
"AKU INI SEORANG GADIS BANGSAWAN SEDANGKAN KAMU ADALAH SEORANG RAKYAT RENDAHAN,"
"Tentu saja aku berani, memangnya kenapa?"
"Jika mulut di balas mulut maka tangan di balas dengan tangan,"
"Kamu tidak bisa mengatakan itu tidak adil nona,"
Rejects The Prince And Becomes The Aide's Fiancé
__ADS_1