Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 10 Tak Ada Yang Gratis


__ADS_3

Pak penambal ban masih diam dan sedikit gemetar menatap pria yang memintanya untuk menambal ban motor.


Bagaimana tidak terkejut jika pria yang dilihatnya berpenampilan seperti preman. Bisa-bisa kena masalah dia. Paling bagus pria itu tak akan membayarnya. Hal buruk yang mungkin menimpanya bisa saja preman itu meminta ban atau lainnya pada dirinya.


Karena itulah yang biasa dilakukan oleh para preman. Dana yang bisa dia lakukan adalah mengiklaskannya saja. Daripada nyawanya tidak selamat.


Lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan nyawa. Uang bisa dicari lagi sedangkan nyawa di mana harus mencarinya atau membelinya?


“I-iya,” ucap Pak penambah ban, terbata-bata, melihat tatapan tajam Rayhan.


Padahal Rayhan hanya menatapnya saja, namun Pak penambal ban segera bergerak cepat.


“Ini harus ganti ban dalam dan luar untuk bagian belakang,” ucapnya setelah memeriksa.


“Ya, ganti saja,” ceplos Rayhan.


Pak penambal ban hanya menelan salivanya dengan berat, semuanya seperti yang dia pikirkan.


Meskipun berat hati, ia tetap mengganti ban luar dalam bagian belakang. sementara ban depan hanya mengganti ban dalam saja, karena ban bagian dalamnya robek separuh bagian.


Aduh, rusaknya parah begini kira-kira habis berapa nanti? Bisa-bisa uang belanja habis untuk bayar ban ini, batin Carissa menghitung sendiri berapa yang harus dibayarnya.


Sedangkan ia hanya pegang uang sekitar Rp 300.000 saja itu pun sudah llus uang sakunya. Jika dia bayarkan semua uangnya nanti pasti pulang dengan tangan kosong dan ibu akan marah padanya.


Tapi jika tidak dibayar, apa ya mau Pak penambal ban itu membantunya?


Celaka, bagaimana ini?


Carissa tiba-tiba merasa kepalanya pusing berdenyut, yang membuatnya terpaksa untuk duduk dan menyandarkan kepalanya ke dinding.


Dia duduk di kursi panjang dari bambu, selama menunggu proses penggantian ban motornya. Bahkan rasa nyeri pantatnya akibat duduk di kayu yang disusun renggang itu sampai ia lupakan, karena memikirkan tarif yang harus dia bayar setelah ini.


Hiss! Carissa mendesis sembari menggigit bibir bagian bawahnya, juga memijat kepalanya yang masih berdenyut pusing.


“Apa nanti aku coba bicara baik-baik pada Bapak itu, jika aku akan bayar nanti setelah pulang belanja?” lirihnya, terlintas sebuah ide, meskipun sebenarnya itu memalukan sekali. Karena harus berhutang lebih dulu.

__ADS_1


Rayhan yang ikut menunggu dan masih berdiri di dekat motor Carissa, terus mengawasi Pak penambal ban tadi. Makanya Pak penambal tadi cepat-cepat mengganti ban.


“Sudah selesai, motornya,” ucap penambal ban, berdiri juga menatap Rayhan.


“Oh!”


“Hey, motormu sudah selesai cepat kemari,” panggil Rayhan dengan lantang. Carissa pun mendekat.


“Te-terima kasih, Pak. Ada yang ingin ku bicarakan dengan Bapak. Berapa tarifnya?” tanyanya gugup, lalu mendekat untuk bernegosiasi.


Saat itu Rayhan terus menatap penambal ban dengan tatapan tajam dan dingin.


“T-tak usah bayar, Non,” jawabnya dengan takut-takut. Padahal Rayhan sendiri meminta untuk digratiskan.


Tapi berhubung penambal ban bilang begitu, maka ia pun tak menanyakannya berapa habisnya.


“Serius Pak?!” pekik Carissa, tak percaya.


Penambal ban hanya manggut-manggut saja meresponnya.


Karena tak mungkin ongkos ganti ban digratiskan begitu saja. Bisa bangkrut pastinya. Karena untungnya hanya berapa saja, dan terbilang kecil.


“Terima kasih, Pak,” imbuhnya.


Tapi dalam hati ia tetap tak sampai hati dan berencana untuk membayarnya nanti, setelah mengambil uang simpanannya.


Penambal ban tadi merasa lega setelah menatap punggung Rayhan dan Carissa yang pergi dari tempatnya.


Sekarang Carissa tampak bingung saat berhadapan dengan Rayhan. Apa yang harus ia katakan pada anggota geng motor tersebut? Masa iya dirinya harus berterima kasih? setelah sebelumnya pernah beradu mulut dengannya.


Itu sungguh plin-plan!


“Maaf, aku buru-buru. Ada sesuatu yang harus segera aku selesaikan,” ucap Carissa pada akhirnya.


Huh! Rayhan membuang nafas berat.

__ADS_1


Ia baru melihat tipikal gadis berhijab seperti Carissa. Biasanya gadis berhijab itu lembut, tutur katanya sopan juga hati-hati dalam bicara ataupun bertindak.


Tapi tidak dengan Carissa. Kenapa dia begitu 'berbeda' dengan yang lain? Tapi dalam artian negatif.


“Eits! Mau kemana?!”


Rayhan menarik bagian belakang motor Carissa saat motor itu akan melaju sehingga membuatnya berhenti.


“Kau kira semua itu gratis?!”


Rayhan melepaskan pegangannya pada bagian belakang motor dan berpindah ke depan motor Carissa.


Grrr! Carissa ingin marah saja rasanya, dihadang seperti itu. Dis sedang buru-buru malah harus meladeni berandal itu.


“Tadi Pak penambal ban itu sendiri yang bilang tak usah bayar,” ketusnya, tanpa ragu.


“Tetap saja jangan lupa jika aku sudah membantumu,”


Grrr! Carissa sampai meremat tangannya karena kesal. Apa lagi yang diminta oleh berandal ini?


“Oh ya, aku memang lupa. Terima kasih sudah membantuku, ketua Eagle Wave,” ucapnya, setidaknya ia mengingat anggota geng tersebut.


“Kurang.”


“Lalu?”


Rayhan mengulurkan tangannya lalu membukanya.


“Ganti biaya ban tadi totalnya sekian,” Rayhan menyebutkan nominal yang harus diganti.


“Ya, aku saat ini sedang ada keperluan mendesak. Nanti setelah ini selesai, aku akan membayarmu.”


Tak menunggu jawaban dari Rayhan, Carissa segera melajukan motornya dengan cepat sejauh mungkin, agar Rayhan tidak mengejarnya.


Ck!

__ADS_1


Rayhan hanya mencebik dan menggelengkan kepalanya saja melihat punggung Carissa.


__ADS_2