Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 22 Rencana Geng Kapak Merah


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi dari pemilik warung kelontong, Deny segera menuju ke arah yang ditunjukkan padanya.


“Mungkin di depan sana adalah rumah Carissa,” ucap Deny. Ia lalu turun dari motor dan memarkir agak jauh dari rumah Carissa. Sengaja ia parkir 4 blok dari rumah Carissa agar tidak mencolok mata.


Pria dengan rambut cepak dan berbaju hitam dengan rantai tergantung di lehernya itu berjalan dengan langkah teratur menuju ke sebuah rumah berukuran sedang, berlantai dua dengan pohon mangga besar di depannya yang membuat rumah itu terlihat sejuk.


Ia tak lantas masuk, tapi memantau dari seberang. Terlihat dari luar ada orang gadis duduk di ruang tamu sedang mengerjakan sesuatu.


Saat itu memang Carissa dan Airin masih mengerjakan tugas mereka yang belum selesai, sembari sesekali break untuk menikmati es teh buatan Nyonya Shara.


“Pasti itu yang dimaksud dengan Carissa.” Deny sampai memicingkan mata agar bisa melihatnya dengan jelas. “Dia kan... gadis yang tempo lalu menyebabkan masalah pada Boss?! Pantas saja Boss tak melepaskannya.”


Ia kembali mengawasinya dan melihat seorang anak kecil bergabung dengan mereka.


“Pasti itu adiknya Carissa. Karena wajah mereka hampir mirip.”


Deny merekam apa yang dilihatnya untuk dilaporkannya pada Rayhan nanti setelah kembali dari sini.


Namun sebelum pergi ia menoleh ke kanan dan ke kiri. “Sepi di sini.” Manik matanya kemudian terkunci pada buah mangga mana lagi di halaman Carissa yang mengundang perhatiannya.


“Buah itu pasti sudah matang. Bau harumnya sampai kemari,” lirih Deny.


Meskipun sebenarnya beli di pasar ataupun toko buah pasti ada tapi rasanya berbeda dengan buah yang matang di pohon, lebih manis daripada yang dijual di toko-toko yang matangnya dengan karbitan.


Deny pun cepat-cepat menyeberang jalan kemudian melompati pagar rumah Carissa. Sesampainya di halaman rumah, ia segera menarik buah mangga yang letaknya dekat dengan tubuhnya yang bisa ia jangkau sebanyak yang dia bisa.


Bugh! Suara mangga yang jatuh ke tanah.


“Suara apa ya itu?” gumam Carissa, mendengar suara berdebum di depan sana.

__ADS_1


“Rin, sebentar ya, aku mau ke depan dulu untuk melihatnya,” imbuhnya, beralih menatap Airin.


Tanpa menunggu balasan dari temannya itu ia segera berjalan cepat menuju ke halaman. Ia menuju ke arah sumber suara tadi berasal.


“Buah mangga jatuh?!” pekiknya, melihat beberapa buah mangga yang jatuh hanya satu saja.


Menurutnya tak ada angin yang bisa menjatuhkan mangga itu lalu kenapa mangga itu bisa jatuh sendiri. Apa mungkin ada seseorang yang mengambilnya paksa?


“Apa iya ada pencuri di sini?” Untuk memastikan argumennya benar atau tidak maka ia pun segera berlari lebih mendekat pada pohon mangga. “Tak ada siapapun di sini.”


Carissa kemudian Mencoba membuka pagar dan melihat keluar jika memang benar ada pencuri pasti ada jejaknya di sana.


Wush! Dari arah kejauhan terdengar suara motor berderu yang melaju dengan kencang.


“Apa mungkin itu pencurinya?” Carissa hanya bisa menatap motor yang sudah melaju jauh darinya dan hanya terlihat sekilas warna motor itu merah, tapi tidak tahu siapa yang mengendarainya.


“Sudahlah, hanya mangga yang diambil tak masalah bagiku.”


***


Deny kembali ke markas Eagle Wave. Dia turun dengan menenteng beberapa mangga yang ia masukkan dalam kantong plastik hitam.


“Lumayan, bisa buat pencuci mulut,” desisnya.


“Apa kau sudah menjalankan tugas yang kuberikan padamu?” Rayhan tiba-tiba keluar dari markas setelah mendengar suara motor berhenti di depan markas.


“Sudah, Boss. Ini bonusnya” Deny juga menunjukkan mangga yang dapatnya.


“Bukan ini yang kuminta, tapi informasi yang kau dapatkan,” tegas Rayhan, dengan sorot mata tajam seperti biasanya.

__ADS_1


Deny kemudian lebih mendekat dan menjelaskan semua informasi yang didapatnya tentang Carissa pada Boss nya itu.


“Bagus. Kerja bagus.” Rayhan kembali masuk ke markas setelah menepuk bahu Deny.


Tunggu saja, Carissa aku akan membuatmu kemari dan memohon padaku, batin Rayhan mengulas seringai tipis.


Setelah semua anggota Eagle Wave masuk ke markas tak lama setelahnya ada beberapa anggota Geng Kapak Merah di depan markas mereka.


“Kekalahan beberapa waktu yang lalu akan kubalas setelah ini,” ucap salah satu dari mereka menatap tajam dengan mengulas seringai licik.


“Kita pergi sekarang,” ajak Boss Geng Kapak Merah.


Tanpa menjawab kemudian mereka segera pergi dari sana mengikuti Boss mereka.


“Boss, bagaimana jika kita balas kekalahan kita pada mereka dengan sesuatu yang menarik?” ucap salah satu anggota Geng Kapak Merah di tengah jalan.


“Apa kau punya ide?”


“Tentu saja *Boss.”


Sang Boss* Geng Kapak Merah, kemudian mendekat untuk mendengarkan ide dari anggotanya.


“Cepat katakan, ide apa yang kau rencanakan. Jangan sampai tidak itu mengecewakan atau ide tak berguna!”


“Begini *B*oss rencananya.... bla-bla....” Anggotanya itu memaparkan apa saja rencana untuk membuat Eagle Wave jera.


“Bagus, rencanamu bagus.”


Boss Geng Kapak Merah itu tersenyum lebar dan tawanya membahana ke udara mendengar rencana tersebut.

__ADS_1


“Woy!! Dasar geng motor sialan! Kalian bikin berisik saja!” hardik seorang warga, meneriaki mereka.


Namun sungguh, itu sama sekali tak berpengaruh ataupun membuat Geng Kapak merah takut pada warga. Malahan mereka dengan sengaja menekan bel motor yang sudah mereka modifikasi dan suaranya sangat berisik sekali.


__ADS_2