
“Rasakan itu. Ambil jika mau!” kekeh sorang gadis, yang kemudian berlalu tanpa dosa setelah melempar hijab Carissa.
Astagfirullah.... Kenapa mereka ini? Aku tak pernah cari gara-gara dengan mereka tapi kenapa mereka selalu saja cari masalah denganku, jerit hati Carissa protes di-bully seperti itu.
Devi dan kelompoknya memang sungguh keterlaluan. Sebenarnya tak hanya Carissa saja yang di-bully oleh mereka. Tapi ada juga teman sekelasnya yang mendapatkan perlakuan sama.
Ada mahasiswi lain di kelas Carissa yang tak berhijab, dan temannya itu di-bully oleh Devi dan kelompoknya, hanya karena tak memakai hijab.
Padahal, meskipun memakai hijab adalah suatu kewajiban tapi itu merupakan pilihan hati. Apa bedanya jika seseorang yang berhijab tapi hatinya busuk bahkan lebih busuk dari orang yang tidak mengenakan hijab? Jadi lebih baik tak usah mengenakan hijab, tapi berhati malaikat, bukan?
“Devi lama-lama makin parah ya,” tutur mahasiswi lain, yang tadi melihat kejadian itu.
“Ya, tapi herannya tak ada yang membalas perbuatannya.”
Tak hanya dua mahasiswi itu yang bergosip tapi mahasiswa lainnya ada di sana pun ikut menggosipkan Carissa juga.
Mereka bukannya membantu tapi malah bergosip, batin Carissa merutuk pembuatan mereka.
Bukannya dia berharap ada yang membantunya saat ini tapi setidaknya, tidak pula membicarakannya begitu di depannya.
“Aku ambil saja hijabku,” gumamnya lalu memaki ikat untuk menutupi rambutnya.
Ia berjalan ke tepi masjid untuk mengambil hijabnya.
“Bagaimana ini? Hijabku basah dan kotor tak bisa dipakai,” desaunya saat mengangkat hijabnya.
Tanpa Carissa ketahui, kelompok Devi mengambil satu gayung air lalu menyiram hijab Carissa. Alhasil hijab itu kini berlumur tanah.
“Lalu bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin aku tidak memakai hijab,” lirihnya, sembari menggigit bibir bawahnya.
Carissa kembali ke masjid dan duduk setelah mencuci hijab tersebut untuk menghilangkan kotoran yang melekat, lalu menjemurnya di gantungan handuk masjid.
“Kenapa dia diam saja, di-bully seperti itu?” lirih seseorang yang tak sengaja lewat dan memperhatikannya dari kejauhan.
__ADS_1
Seorang pria memakai jaket dengan logo elang di punggung. Ya, pria itu adalah Rayhan.
Ia keluar dari markas, dengan maksud untuk memantau lokasi saja. Tapi tak sengaja malah melihat pemandangan di luar perkiraannya.
Ia melihat semua kejadian itu dengan jelas dari luar. Karena masjid itu meskipun milik kampus tapi merupakan masjid umum dan letaknya pun di luar, jadi siapa saja boleh beribadah di sana. Selain itu dari luar semua aktivitas di masjid bisa dilihat dengan jelas.
“Aku benar-benar tidak mengerti. Dengan diriku, ketua geng motor yang terkena garang Dia tidak takut tapi dengan gadis yang tampak lemah begitu dia diam saja di tindas, ck!” decaknya, tak habis pikir saja, sifat Carissa sungguh bertolak belakang.
“Astaga! Dia menangis, lagi,” gumamnya melihat Carissa.
Sebenarnya Carissa belum sampai menangis, dia hanya berkaca-kaca saja matanya mendapati pengakuan temannya seperti itu dan ia mengusap matanya sebelum air mata itu jatuh.
Ia tak mau tampak lemah. Atau terlihat sedih. Karena itu hanya akan membuatnya tampak lemah di mata yang lainnya.
Brrm! Rayhan segera menginjak gas motornya. Suaranya nyaring seperti kaleng meledak.
“Suara itu...” gumam Carissa, langsung menoleh ke seberang jalan.
Namun sayang, motor itu sudah pergi dari sana. Sedangkan Carissa hanya melihat punggungnya saja.
“Woy!! Geng motor sampah, pergi dari sini! Berisik! Mengganggu saja!” hardik seorang warga, marah pada Rayhan.
***
“Kelas akan dimulai. Sebaiknya aku kembali sekarang. Sepertinya hijabku sudah kering,” lirih Carissa, lalu mengambil dan segera memakai hijabnya kembali.
Dua jam ini ia terpaksa duduk di masjid menunggu hijabnya sampai kering dan tidak mengikuti kelas sebelumnya.
Karena tak mungkin baginya keluar tanpa hijab.
Carissa kemudian berlari menuju ke kelas.
“Kau dari mana Sa?” tanya Airin, karena beastie-nya itu tak ada di kelas di jam pelajaran sebelumnya.
__ADS_1
“Aku di masjid,” jawabnya singkat.
“Kenapa tak ikut kelas?”
“Aku tadi--” Saat Carissa mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya tiba-tiba dosen masuk kelas dan memotong pembicaraannya.
“Semuanya buka buku hal. 385,” ucap dosen, sembari duduk.
Tentu saja Carissa segera menutup mulutnya rapat-rapat dan beralih membuka buku di depannya.
“Jadi tadi dia tak ikut kelas karena hijabnya?” bisik, Devi dengan terkekeh menatap kelompoknya.
Dia puas sekali bisa mengerjai Carissa.
“Devi! Kau malah cekikikan sendiri di belakang sana. Sekarng maju dan terangkan apa yang sudah kaupahami!” bentak dosen, keras.
Devi pun dengan terbata menjawab lalu maju ke depan. Menerangkan materi yang belum dia baca sama sekali.
“Rasain, itu akibatnya sering jahil sama orang!” umpat Airin lirih, dan hanya Carissa yang duduk di sebelahnya yang bisa mendengar itu.
Bahkan Carissa kini ikut tersenyum tipis, melihat Devi gelagapan menerangkan materi di depan. Baginya dia sudah mendapatkan hukuman setimpal karena telah menindas dirinya tadi.
Dosennya ini memang terkenal killer. Bagi siapa saja yang ramai atau berisik, maka angkat langsung kena hukuman.
***
“Oh, apa yang kupikirkan ini,” desau Rayhan di tengah jalan, setelah keluar dari markas Eagle Wave.
Entah kenapa setelah melihat Carissa yang menitikkan air mata tadi hatinya berdesir tanpa sebab, perih. Padahal dia tak mengenal gadis itu sama sekali.
“Woy! Pakai mata dong kalau jalan!” bentak seorang gadis, di tengah jalan.
Rayhan yang saat itu melamun segera tersadar. Ditatapnya gadis yang berani menghardiknya itu.
__ADS_1
“Dia kan...” Rayhan mengulas seringai tipis, melihat gadis yang ternyata adalah Devi.
“Kebetulan sekali bertemu dengannya di sini,” imbuhnya, dengan mata berkilat-kilat menatap Devi.