
“Cepat minggir!” hardik Devi, kesal pada pria berpenampilan preman depannya yang tak mau mengalah padanya.
Jalanan menuju ke rumahnya saat itu memang ramai di jam ini. Dia juga terburu-buru karena akan menemui jurusan pembimbing skripsinya.
Dia sudah lolos bab satu dan akan mengajukan bab 2 pada dosen pembimbingnya itu.
“Minggir! Aku mau lewat!” bentak Devi lagi, karena Rayhan tak perkeming dan tetap di tempatnya berada.
Rayhan sendiri sebenarnya sudah kesal dengan sikap Devi. Gadis bermulut ular namun bersikap sok suci di balik hijabnya.
Apalagi dengan sikapnya yang menantang dirinya. Yang membuatnya semakin yakin untuk memberinya pelajaran.
“Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa sekarang?” tanyanya dengan suara berat serta dingin.
“Kau siapa?!” Devi malah mencebik menjawabnya, “Yang jelas kau ini sampah masyarakat!” imbuhnya, tak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
Mungkin jika saja Devi tahu siapa Eagle Wave itu, dia tak akan berani macam-macam pada Rayhan.
Di antara sekian geng motor yang ada, Eagle Wave termasuk salah satu geng motor yang cukup ditakuti. Mereka terkenal bengis dalam menghadapi lawannya. Tak segan mengajar hingga babak belur.
“Kau tahu Eagle Wave?” lontar, Rayhan.
Devi tak menjawab dan malah memasang tanpa garangnya dengan menekuk kedua alisnya rapat juga membulatkan matanya penuh untuk menakuti Rayhan.
Eagle Wave? Apa itu? Grup tidak penting sama sekali, cecarnya dalam hati.
“Minggir!” hardik Devi, semakin kesal dibuatnya.
“Oke! Aku akan memberimu jalan,” balas Rayhan lalu melempar seringai senyum.
Setelahnya, ia memberi Devi jalan. Tepatnya ia melajukan motornya kembali dengan cepat lalu menyerempet Devi.
Akh! Devi yang terkejut dengan kejadian yang mendadak juga tak bisa menahan keseimbangannya akhirnya jatuh.
Tubuhnya beradu dengan aspal sejauh setengah meter juga tertimpa motornya sendiri.
“Tolong!”
Anehnya saat itu warga yang berhenti dan melihat kejadian itu hanya bengong menatapnya.
Hiss! Dengan meringis ia pun penari tubuhnya keluar dari motor yang menimpa tubuhnya.
“Hais, tangan dan kakiku lecet,” keluhnya, setelah melihat bagian tubuhnya yang terasa perih.
__ADS_1
“Tolong!” teriaknya lagi, dan barulah warga tersadar.
Beberapa dari mereka kemudian membantu menepikan motor Devi. Beberapa lainnya bahkan ada yang memberinya minum.
“Pak, motor itu yang menyerempetku!” ucapnya, sembari menunjuk ke arah motor Rayhan.
“ Woyy! Preman! Berhenti KAU!” teriak warga langsung, saat motor Rayhan melintasinya.
Rayhan hanya menoleh saja ke belakang dengan melempar seringnya senyum dingin.
Dia bahkan mem-blayer motornyabdengan keras lalu menghilang dengan cepat di jalanan.
“Itu balasan untuk gadis penindas dan sombong sepertimu,” gumamnya tersenyum puas.
Puas karena bisa memberi pelajaran Devi...
***
“Kakimu kenapa, Dev?” tanya seorang mahasiswa di kampus, saat melihatnya berjalan pinncang.
Bahkan dua kelompoknya, Evi dan Santi sampai ikut membantu Devi berjalan masuk ke kelas.
“Pasti dia azab dan diserempet orang,” ceplos mahasiswa lain menimpali tanpa menyaring ucapannya.
“Diam kalian semua!” hardik Evi, bukan Devi.
Dia tak suka ada mahasiswa lain yang menyindir beasti-nya.
“Siapa bilang aku di serempet motor. Yang ada aku beradu dengan geng motor!” timpal Devi, bohong dengan membanggakan dirinya.
Hal itu ia lakukan untuk menjaga harga dirinya. Tak peduli meski harus berbohong sekalipun.
Ck! Mahasiswa lain yang mendengarnya berdecak karena tahu salah satu sikap Devi adalah suka berbohong.
Geng motor? batin Carissa terkejut saat mendengarnya dan menahan tawa pula.
Apakah itu dia? batinnya lagi, teringat pada Rayhan.
Namun pikiran itu segera ditepisnya jauh.
“Tak mungkin itu dia,” lirihnya, mencoba untuk fokus pada buku yang ada di tangannya.
“Siapa Sa, yang kau maksud?” tanya Airin, yang mendengar perkataan Carissa barusan.
__ADS_1
“Tidak ada,” jawabnya singkat, lalu segera mengganti topik pembicaraan.
Siang hari sebelum pulang, Airin sempat bicara dengan Carissa.
“Jangan lupa besok datang ke rumahku lagi untuk mengerjakan tugas skripsi bersama,” ujarnya, sembari menuntun motornya keluar dari tempat parkir.
“Sip!” Carissa mengangguk sambil mengacungkan jempolnya pada Airin.
***
Keesokan harinya.
“Ibu, aku berangkat ke rumah Airin dulu,” ucap Carissa kepamitan namun saat itu ibunya masih sholat.
Jadi langsung saja dia berangkat tanpa menunggu balasan dari ibunya. Beberapa hari ini dia sering ke rumah temannya itu untuk mengerjakan tugas skripsi mereka. Setidaknya jenis penelitian mereka sama, kuantitatif.
“Aku tak ingin melewati markas Eagle Wave,” cicitnya, beberapa meter sebelum melewati markas tersebut.
“Sebaiknya aku memutar saja,” desisnya, lalu mengambil jalan memutar.
Tiga meter sebelum markas yang keluar memang ada gang lain dan itu artinya lewat belakang markas.
“Semoga saja aku tidak bertemu dengannya,” harapnya.
Namun sepertinya kenyataan berkata lain. Dari arah berlawanan ia melihat motor merah menuju ke arahnya.
Memang itu Rayhan yang juga mengambil arah yang lain karena bosan setiap hari lewat jalan itu itu saja.
“Kamu...” ucap mereka berdua bersamaan, saat berpapasan.
Carissa tak menghentikan motornya dan terus melaju pura-pura tidak bertemu.
“Hey! Carissa berhenti!”
Deg!
Carissa terkejut bagaimana berandal itu bisa sampai mengetahui namanya, terlebih kini motor merah itu sudah ada di depannya dan menghadang jalannya.
“Hey, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menghalangi jalanku?!” hardiknya, seperti biasanya.
Rayhan memalangkan motornya di depan motor Carissa. Dengan sorot matanya yang dingin menusuk, menatapnya.
“Kau berhutang dua kali padaku, bayar sekarang.”
__ADS_1
“Dua hutang?!” Carissa bingung, apalagi yang dimaksud oleh berandal itu.