
“Tidak!” pekik Carissa, melihat tatapan mata para pria yang merupakan anggota geng Eagle Wave.
Para anggota Eagle Wave itu menatapnya dengan sadis.
“Kita beri dia pelajaran sekarang.”
“Tidak! Lepaskan aku..... !!!” teriak Carissa membahana.
***
“Sa, kamu tidak ke kampus hari ini?” tanya ibu.
Wanita itu masuk ke kamar Carissa. Biasanya putrinya itu rajin bangun pagi dan tak pernah terlambat masuk sekolah. Bahkan jarang absen dari kampus.
Cita-citanya tidak muluk-muluk, Carissa pernah bilang pada ibunya ingin menjadi sekretaris di sebuah perusahaan. Sudah itu saja, simple bukan? Karena itu dia jarang absen dari kampus.
“Sa, jika kamu tidak segera mandi nanti kamu akan terlambat, Nak,” imbuh ibunya lagi.
Entah kenapa putrinya itu tidak meresponnya. Maka ia pun mendekat untuk melihatnya sendiri.
“Tidak Bu, aku tidak enak badan. Aku tidak masuk hari ini. Selain itu hari ini hanya ada satu mata kuliah saja,” jawabnya pada akhirnya.
Namun dia miring ke kiri memunggungi ibunya saat menjawab, seolah menghindar dan tak mau memandang wajah ibunya.
“Oh, ya ampun...” Ibunya itu kemudian keluar dari kamar dan membiarkan putrinya itu beristirahat.
“Huft! Untunglah, ibu tidak melihatku,” gumamnya, segera duduk.
Muka Carissa saat ini merah. Merahnya bukan karena malu. Tapi karena ulah para anggota Eagle Wave.
Mereka melumuri wajah Carissa dengan air garam sebagai hukuman telah menyebabkan Boss mereka kena amukan massa.
Itupun sebenarnya hukumannya bukan berupa itu. Seharusnya hukuman Carissa adalah tamparan dari setiap anggota geng, tapi karena Rayhan melarang, dan meminta mereka memperingan hukuman jadinya mereka menggantinya dengan melumuri muka Carissa dengan air garam.
“Hais! Ini semua gara-gara Boss geng sialan itu. Terkutuk dia!” geramnya, sampai meremat tangan.
Carissa lalu berdiri di depan cermin dan melihat mukanya yang masih merah.
“Astaga, apa yang harus kulakukan?”
Di tengah kebingungannya, dia pun akhirnya mempunyai ide untuk mengoleskan masker pada wajahnya. Dia mengoleskan masker bengkoang ke wajahnya sampai merata.
__ADS_1
“Dengan begini beres sudah. Wajahku yang merah tak akan kelihatan. Mungkin juga nanti akan kembali normal, karena masker ini terasa dingin,” cicitnya.
Sambil menunggu masker kering, Carissa pun kembali rebahan di tempat tidur.
Ibunya Carissa tak sengaja lewat depan kamar putrinya itu yang pintunya terbuka. Dari luar terlihat Carissa sedang membaca sebuah buku.
Bukannya tadi dia bilang meriang? Kenapa malah belajar?
Karena penasaran, wanita itu pun masuk ke kamar Carissa lagi.
“Carissa kenapa wajahmu? Mengagetkan Ibu saja!” Sungguh ia kaget sekali melihat wajah Carissa yang teramat putih, bahkan bisa dibilang mirip hantu.
“Ini... wajahku kusam, Bu, makanya aku memakai masker.”
“Bukannya tadi kamu bilang tak enak badan? Malah belajar sambil maskeran!”
Carissa bingung mau menjawab apa.
“Ya, Bu. Meskipun sedikit meriang, aku harus tetap menyelesaikan tugas akhirku,” jelasnya.
Ibu mengerutkan keningnya, curiga namun pada akhirnya ia keluar juga dari sana.
“Jika memang meriang tak usah dipaksa. Tidur lah,” ucapnya di ujung pintu, kemudian menutup pintu kamar.
Karena bicara dengan ibunya tadi membuat masker di wajahnya pecah dan sebagian rontok.
“Yah, maskerku pecah,” keluhnya, saat sebagian masker jatuh di tangannya.
Daripada mejanya semakin kotor maka ia pun membersihkan maskernya tersebut.
Akh! Jeritan kembali terdengar saat gadis itu bercermin. Ternyata mukanya bukannya kembali normal, malah semakin merah.
“Bagaimana ini?!” pekiknya bingung plus frustasi.
Di waktu yang sama di rumah Rayhan
Ibunya Rayhan sudah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga di meja makan. Namun hanya Rayhan saja yang belum datang.
“Coba Panggil kakakmu untuk sarapan pagi,” pintanya pada Ameer.
“Ya, Bu.” Ameer segera berdiri nyari tempat duduknya lalu masuk ke kamar kakaknya.
__ADS_1
“Kak, dipanggil ibu. Sarapan pagi sudah siap,” ucapnya menghampiri kakaknya.
Rayhan kembali kemudian duduk di tempat tidurnya, yang membuat Ameer terkejut setengah mati melihatnya.
“Astaga! Kakak kenapa?!” pekiknya, terkejut melihat muka kakaknya itu memar dan babak belur.
“Apa Kakak dipukuli warga?”
Sontak saja Rayhan membekap mulut adiknya itu karena suaranya nyaring. Ia tak ingin ibunya sampai mendengar dan mengetahui itu.
Ssts!
“Bilang pada ibu aku sedang tak enak badan. Bawakan saja sarapanku ke kamar.”
Ameer mengangguk paham. Ia keluar dari kamar lalu kembali ke ruang makan.
“Kakak bilang sedang tak enak badan, Bu. Dia memintaku untuk membawakan sarapan ini ke kamarnya.”
Ameer membawa seporsi makanan kemudian kembali masuk ke kamar kakaknya tanpa menunggu jawaban dari ibunya.
Hingga seharian penuh, Rayhan tidak beranjak dari kamarnya. Ia malas, jika ketahuan oleh ibunya akan diomeli panjang lebar seperti biasanya. Dan itu membuat kepalanya berdenyut.
Hiss! Rayhan merintih merawat luka memarnya sendiri pada wajah.
Hingga sore hari, ibunya itu seharian tak melihat Rayhan keluar dari kamar dan itu membuatnya cukup curiga.
“Ada apa dengan Rayhan, apa dia benar-benar sakit?” gumamnya, khawatir.
Lagsung saja ia bergegas masuk ke kamar Rayhan. Nampak pria itu sedang tidur.
Ibu mendekat dan betapa terkejutnya dia melihat kondisi putranya itu.
“Anak ini... jadi dia seharian di kamar karena mukanya memar? Dia pasti berkelahi lagi.”
Antara rasa kesal dan kecewa juga bercampur amarah, ia pun kemudian mengambil obat dan salep.
Dengan hati-hati ia oleskan pada muka Rayhan agar membuatnya tetap tidur.
Hah! Ibu menghembuskan nafas panjang setelah selesai mengobati luka Rayhan. Ia lalu keluar dari sana.
Ibu, ternyata meskipun biasanya kau cerewet minta ampun, tapi sebenarnya hatimu lembut.
__ADS_1
Rayhan sebenarnya tidak tidur dan hanya pura-pura tidur saja karena tak ingin mendengar omelan panjang lebarnya.
Dadanya rasanya sampai berdesir pada sikap ibunya barusan.