
Rayhan tiba di depan markas dengan tenang di tengah kepungan para aparat kepolisian yang sudah murka sekali padanya.
Sebenarnya murka itu mereka tujukan secara umum pada semua anggota geng motor yang ada, bukan secara spesifik menunjuk pada siapa. Berhubung ada masalah barusan, jadinya mereka lampiaskan saja semua amarah itu pada Geng Eagle Wave.
“Ikut bersama kami ke kantor polisi sekarang!” perintah petugas kepolisian dengan tegas.
Tatapan mereka menghujam tajam pada Rayhan yang juga dibalas dengan tatapan yang tak kalah tajam dari Rayhan.
Tak hanya sekali atau dua kali dirinya dan anggota gengnya itu terlibat dengan urusan polisi. sudah berulang kali dan tak bisa dihitung dengan jari jika diingat.
Dulu mereka pernah berurusan dengan Polisi karena kasus perkelahian masa di arena sepak bola. Egle Wave mendukung pemain sepak bola, tapi yang mereka dukung kalah. Alhasil mereka emosi atas kekalahan itu dan membuat keramaian, serta gempar di arena stadion pertandingan sepak bola, dan masih banyak hal lainnya yang cukup banyak jika harus disebutkan.
“Aku tidak melakukan apapun hari ini kenapa harus ikut ke kantor polisi?” balas Rayhan, tanpa rasa takut sedikitpun.
“Tak melakukan apapun kau bilang? Lalu ini apa? Kau lupa dengan kejadian barusan, ha?!”
Polisi menunjukkan dompet anggota dewan yang tadi dipungutnya pada Rayhan.
“Aku tak mengerti dan dompet itu milik siapa aku pun tak tahu,” balas Rayhan masih nampak tenang, dengan mengangkat kedua bahunya.
Yang membuat petugas kepolisian semakin geram saja dibuatnya.
“Jangan berkilah kau preman! Sudah jelas tadi kau mencopet dompet milik anggota dewan lalu masuk kemari!”
“Aku?! Kurasa kalian salah orang.” Rayhan seketika berbalik dan dengan santainya melangkahkan kaki masuk kembali ke markas.
“Berhenti! Jika melangkah sekali lagi dan kabur dari kami maka akan tahu rasa!”
__ADS_1
Petugas kepolisian mulai mengeluarkan pistol mereka dan mengangkatnya ke atas, mengarahkan pada Rayhan.
Tap! Rayhan berhenti melangkah tapi bukan berarti dia menyerah. Terpaksa ia terbalik untuk menatap petugas Kepolisian yang sudah bersiap menembaknya.
Namun bukan Rayhan jika takut pada peluru yang akan bersarang di tubuhnya. Meskipun itu akan merenggut nyawanya, jika dia tak bersalah dia tak akan mundur.
“Aku sudah bilang pada kalian semua aku tidak mengambil dompet itu. Tembak saja jika kalian terus memaksa. Bagaimana hukuman untuk para aparat yang main hakim sendiri? Atau aparat yang tidak punya bukti dan mengadili orang hingga merenggut nyawanya? Apakah mereka akan merasakan jeruji besi juga?” cecar Rayhan, dengan tenang, namun tampak menantang aparat kepolisian.
“Jangan pernah main-main dengan aparat kepolisian ataupun menantangnya!”
Dor! Terdengar sebuah tembakan.
Deg!
Jantung Carissa yang sedari tadi melihat kejadian itu kembali terpompa semakin cepat. Bahkan tubuhnya mulai gemetar mendengar suara tembakan.
Ia sampai tak berani membuka mata karena saking takutnya. Sungguh baru pertama kali ini ia melihat secara langsung penembakan di depan matanya.
Dibukanya kelopak matanya perlahan, jantungnya kini mulai berdetak normal saat melihat Rayhan masih dalam keadaan utuh, tak terkena tembakan.
“Jika masih tak mau mengaku dan tak mau bekerja sama maka pistol ini setelah ini akan melayang tepat ke sasaran tidak seperti sebelumnya!” hardik aparat kepolisian.
Ternyata dengan ancaman itu Rayhan sama sekali tidak takut namun malah Carissa yang takut.
Entah malaikat mana yang membisiki dirinya kala itu untuk membantu dan menyelamatkan Rayhan.
“Tunggu! Berhenti!” teriak Carissa, tapi di saat polisi mengangkat pistolnya dan akan menarik pelatuknya.
__ADS_1
Ia pun segera berlari berhambur masuk dan kini berada di samping Rayhan. Tak hanya Rehan saja yang terkejut namun petugas polisi pun ikut terkait dengan kedatangan Carissa yang mendadak juga menjeda aksi mereka.
“Siapa kau? Minggir! Dan jangan ikut campur urusan kami!” hardik petugas Kepolisian.
“Maaf, di sini aku tidak membela siapapun tapi aku akan menyampaikan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri, kejadian yang sebenarnya.”
Rayhan menautkan kedua alisnya mendengar pernyataan Carissa. Sedangkan polisi memicingkan mata mereka.
“Katakan apa yang kau lihat pada kami. Jika yang kau katakan itu memang benar, maka pria ini akan lepas. Namun jika yang kau katakan itu salah maka kau akan terseret pula dalam masalah ini.”
Carissa seketika menelan salivanya dengan berat mendengar pernyataan aparat polisi barusan. Jujur, sebenarnya ia takut dan merinding tapi semuanya sudah terlanjur dan dia harus menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.
“Begini, aku kebetulan lewat sini. Aku melihat seorang pria mengendarai motor berwarna merah. Pria itu dengan sengaja melempar sebuah dompet ke depan markas ini, kemudian pergi begitu saja. Aku bahkan mengingat nomor platnya,” papar Carissa panjang lebar.
Ia bahkan menyebutkan nomor plat motor yang diingatnya tadi.
“Kurang ajar! Itu nomor plat motor anggota Geng Kapak Merah.” Rayhan langsung ikut menanggapinya dengan geram.
Ia hafal nomor plat geng yang sering cari masalah dengannya itu karena seringnya berinteraksi dengan mereka. Ia semakin kram dengan aksi mereka yang sengaja melempar masalah padanya.
“Aku bisa pastikan itu adalah motor milik Geng Kapak Merah. Ini alamat mereka dan ini nama ketua geng mereka.” Rayhan menulis pada secarik kertas lalu memberikannya pada aparat polisi.
Polisi tak serta merta percaya pada ucapan Rayhan. Mereka mengecek semua motor anggota Eagle Wave yang mencari nomor plat yang disebutkan oleh Carissa barusan.
“Nomor plat yang disebutkan gadis ini tak ada di sini. Ingat bukan berarti kalian tidak terbukti dalam masalah. Jika sampai aku menemukan kalian berbuat onar lagi maka tak ada ampun lagi untuk kalian!”
Polisi segera pergi dari sana dan tempat itu kembali tenang saat ini.
__ADS_1
Bugh! Carissa langsung terjatuh ke lantai begitu polisi tadi sudah pergi, kakinya terasa lemas.