Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 8 Apa Yang Harus Kulakukan?


__ADS_3

Polisi tiba di saat semua anggota geng motor Eagle Wave tadi sudah pergi dari sana. Menyisakan empat orang saja di sana.


“Bapak tidak apa?” tanya Carissa, yang berada tak jauh dari Pak Sarto.


Kondisi Pak Sarto tidak bisa dibilang bagus. Wajahnya babak belur, ungu dan pipi kanannya bengkak. Untung saja tak sampai ada giginya yang patah.


“Wa, akyu baik, non,” ucap Pak Sarto tidak jelas, setengah menggumam. Mungkin saking sakitnya hingga membuat suara yang dikeluarkan tidak jelas.


Carissa kemudian membantu berdiri pria tersebut. Juga membantu mengambil tongkat pemukulnya yang patah jadi dua.


Kukira pria yang pernah menyelamatkan aku tempo lalu itu adalah pria yang baik meskipun dia anggota geng motor. Ataupun mungkin saja bosnya geng motor. Rupanya aku salah kira, desaunya dalam hati, miris menatap Pak Sarto yang sudah babak belur tak berdaya.


“Wah, setiko atah,” ucap Pak Sarto menatap tongkatnya.


Carissa mengerutkan keningnya tak mengerti apa yang diucapkan oleh petugas security itu.


“Yang penting Bapak selamat. Terima kasih sudah membantuku, Pak,” ucapnya mengira-ngira saja apa yang di ucapkan Pak Sarto.


Barulah Airin dan Boy berlari menghampiri mereka berdua. Tepat bersamaan dengan petugas polisi yang juga menghampiri mereka.


“Kalian tidak apa?” tanya salah satu petugas polisi, menatap Pak Sarto dan Carissa bergantian.


“Tapi mereka semua sudah kabur dari sini Pak Polisi,” ujar Airin, geram. Polisi datang terlambat sehingga mereka semua kabur.


Boy tak berkomentar, bukannya tak mau berkomentar tapi takut salah ucap. Apalagi dengan aparat. Takut dia diseret ke kantor polisi.


“Jika begitu kami akan pergi dan mengejar mereka,” ujar seorang petugas polisi.


Setelah memastikan keadaan di sana benar-benar aman, maka mobil patroli polisi segera keluar dari area, mencari juga mengejar geng motor yang mungkin saja masih ada di sekitar sana.


***


Rayhan berada di barisan belakang, sedangkan anggotanya berada di barisan depan.

__ADS_1


Wing-wing! Suara sirine mobil patroli polisi kembali terdengar.


Telinga Rayhan yang tajam, tanpa menoleh ke belakang karena yakin itu pasti suara polisi yang mengejar mereka.


Sial! Cepat sekali mereka berhasil menemukan dan mengejar, umpatnya dalam hati.


Rayhan pun langsung keluar dari barisan belakang dan menyalip semua barisan motor di depannya.


“Polisi datang mengejar. Percepat laju motor kalian!” hentkanya dengan lantang.


Tak menjawab perintah Boss mereka para anggota geng tersebut semuanya memblayer motor dan mempercepat lajunya.


“Woy! Dimana mata kalian?! Apa tak lihat ada orang tua mau menyeberang?!” hardik, seorang pria yang akan menyeberang dengan neneknya, sampai mundur karena takut terserampat oleh konvoi di motor tersebut.


Tapi bukan Eagle Wave, jika diam saja tak membalas.


“Sudah tahu kami lewat malah mau nekat, kalau berani maju saja sekarang!” ucap salah satu anggota geng motor membalas ucapan pria tadi.


Wing-wing! Suaranya sirine mobil patroli polisi terdengar semakin nyaring dan semakin dekat dengan mereka.


“Sial! Mereka berhasil kabur dari kita!” hujat seorang petugas polisi geram, tak bisa menangkap geng motor yang makin hari semakin meresahkan saja.


Beberapa saat setelahnya semua anggota geng motor tadi tiba di markas mereka.


“Haah! Untungnya kita berhasil selamat dari kejaran polisi,” ujar salah satu anggota Eagle Wave.


Beberapa hari berlalu.


Suatu siang, Carissa keluar rumah untuk membeli bahan sayuran setelah disuruh oleh ibunya untuk stok selama 3 hari ke depan.


Dia membeli bahan sayuran itu di pasar. Karena harganya ada selisih jika membelinya di swalayan. Dan bagi keluarganya, selisih harga itu sangat berarti dan bisa dipakai untuk keperluan lainnya.


“Pasar hampir sampai,” desis Carissa, tersenyum tipis setelah menempuh perjalanan 10 menit.

__ADS_1


Buss! terdengar suara desis halus yang lama-kelamaan semakin nyaring dan akhirnya membuat motor yang dinaiki Carissa berhenti.


“Yah, kempes lagi bannya,” gerutunya, saat turun memeriksa ban motornya yang tak hanya kempis saja tapi bannya robek.


Terpaksa Carissa pun menuntun motornya sembari mencari tambal ban terdekat untuk mengganti ban luar matic nya.


“Haduuh! Di mana penambal motor di sini?” keluhnya, dengan berkeringat menyisir jalanan namun tak menemukan keberadaan penambal ban.


Glek! Carissa menelan salivanya. Satu meter di depannya ada sekumpulan orang yang berpenampilan mirip dengan anggota geng motor di depan sebuah rumah.


“Semoga saja, mereka tak mengganggu diriku yang lagi kesusahan,” harapnya, cemas.


Karena biasanya anggota geng motor tak pandang bulu jika melihat orang kesusahan bukannya membantu tapi malah akan membuatnya tersiksa.


Terlihat gambar elang terbang pada jaket bagian belakang yang mereka kenakan, yang membuat Carissa kembali berdesis.


Simbol itu kan, simbol anggota geng motor beberapa waktu yang lalu yang sempat membuat Pak Sarto babak belur, batinnya, masih mengingat dengan jelas logo anggota geng tersebut, meskipun tak mengenal namanya.


Carissa terus menuntun sepeda motornya. tepat di depan markas Eagle Wave, ban depan meledak.


“Aduh, bagaimana ini?” pekik Carissa bingung, karena Ini motor tak bisa berjalan sama sekali atau semua velg maticnya akan penyok.


Ia rasanya ingin menangis saja. Tak ada yang bisa ia mintai pertolongan terlebih kali ini dia tak membawa ponselnya, pikirnya hanya belanja sebentar saja dan akan kembali.


Carissa diam dan berpikir mencari cara.


“Hey, apa kau butuh bantuan dari kami?” tanya salah satu anggota Eagle Wave.


Carissa menggeleng bahkan tak berani menatap wajah mereka dengan terus mendorong motornya yang hanya berjalan 2 senti saja.


“Sombong sekal! Di bantu tapi belagu! Mau aku beri pelajaran kau?!”


Anggota geng motor itu langsung menyatroni Carissa. Dengan tampang sadisnya akan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan.

__ADS_1


“Pergi! Jangan ganggu aku!” bentak Carissa, saat pria tadi mau menarik motor maticnya.


“Apa yang dilakukan Parjo?” lirih Rayhan yang saat itu mendengar suara teriakan seorang gadis di depan markasnya.


__ADS_2