Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 35 Carissa Hilang


__ADS_3

Carissa kini sudah berada di markas geng Kapak Merah. Cukup dengan sebuah panggilan maka beberapa rekan dari anggota geng tersebut kemudian datang, lalu membawa pergi Carissa ke markas mereka.


“Lepaskan aku! Apa salahku pada kalian? Aku tak ada sangkut pautnya dengan geng ini,” pekik Carissa.


Ia berontak dan mencoba melepaskan diri dari dua berandal yang saat ini memegang kedua lengannya dengan erat. Sedikit pun ia tak bisa melonggarkan cengkraman erat pria berotot kekar itu dari lengannya.


Pikirannya pun pias. Dengan Eagle Wave saja ia sudah dibikin kerepotan oleh mereka lalu bagaimana dengan Geng Kapak Merah ini yang sama sekali tidak ia ketahui. Apa akan mereka lakukan padanya?


Sungguh Carissa sampai merinding hanya dengan memikirkannya saja. Berbagai hal negatif terlintas dalam pikirannya. Mulai dari dia akan disiksa, sampai hal terparah yang tak pernah dipikirkannya, yang membuatnya tak berani mengungkapkan pikirannya tersebut.


“Percuma saja kau berontak. Malah tenagamu akan habis sia-sia. Maka menurut lah pada kami,” tutur salah satu anggota Kapak Merah.


Carissa bukannya menurut pada mereka. Tapi jujur ia merasa sudah kehilangan banyak tenaganya setelah berontak selama lebih dari 30 menit lamanya. Sungguh tenaganya seperti habis mencoba melepaskan diri dari dua pria berotot ini.


Ia pun diam kali ini tapi bukan berarti dia menyerah. Dia masih mencari salah untuk bisa kabur dari sana.


“Kita apakan dia sekarang?” tanya salah satu anggota.


“Sekap saja dia dulu baru nanti kita pikirkan hukuman apa yang pantas untuk gadis ini.”


Carissa memejamkan mata saat dia kembali diserap oleh dua orang pria lainnya masuk ke sebuah ruangan. Di sana ia langsung diikat kedua kaki dan tangannya. Bahkan mulutnya pun saat ini disumpal. Usahanya pun untuk membuahkan hasil hingga akhirnya dia hanya bisa pasrah meringkuk di sudut ruangan lembab dalam posisi tak berdaya.

__ADS_1


“Hiruplah udara tinggal di sini selagi kau bisa menghirupnya sampai puas,” ujar seorang anggota geng.


Dengan senyum yang terkembang di ujung bibirnya, pria itu kemudian melenggang pergi dari ruangan dan menutup pintu rapat.


Menyisakan Carissa seorang diri di sana.


Ayah, Ibu tolong aku. Aku takut berada di sini. Aku tak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku? Tolong aku... batin Carissa seketika teringat pada sosok kedua orang tuanya.


Ia berusaha melepaskan ikatan di kaki dan tangannya pun tak bisa. Ia menahan cairan bening yang akan tumpah dari kelopak matanya.


“Tenang Sa, kamu pasti akan selamat dan akan ada seseorang yang akan menyelamatkanmu. Ayah dan Ibu pasti akan mencarimu,” batin Carissa menyemangati dirinya sendiri.


***


“Ayah, ini sudah sore tapi Carissa kok belum pulang juga?” tanya Ibu terlihat khawatir.


Saat ini sudah pukul 17.00. Bahkan Pak Sholeh pun sudah di rumah. Biasanya Carissa jarang pulang sore seperti ini.


“Mungkin dia ada di rumah Airin, coba Ibu telepon,” Saran Pak Sholeh.


Bu Shara pun segera mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi nomor Airin. Ia sengaja menyimpan nomor teman dekat putrinya itu, khawatir jika ada apa-apa dengan Carissa.

__ADS_1


“Halo, Airin. Ini Tante Shara. Apakah pulang dari kampus tadi Carissa mampir ke rumahmu untuk mengerjakan tugas?” ujar Bu Shara, setelah panggilan telepon tersambung.


“Maaf, Bu Shara. Carissa hari ini tidak ke rumahku dia sudah pulang dari kampus dari jam 13.00 tadi,” terang Airin dalam sambungan ponsel.


Wanita itu seketika tangannya bergetar, bahkan tak menjawab panggilan Airin yang masih belum menutup teleponnya. Refleks ia pun segera mematikan panggilan telepon.


“Ayah, Carissa tak ada di rumah Airin dia bilang Carissa sudah pulang sejak jam 13.00 siang tadi,” ujarnya semakin panik.


“Tenang Bu. Mungkin dia mampir ke rumah temannya lain. Coba telepon.”


Saat itu yang ada di pikiran Bu Shara adalah Boy. Ia tahu dua teman dekat putrinya itu. Selain itu hanya dua nomor itu yang dipunyanya. Dengan cepat, ia pun lalu menelepon nomor Boy.


“Halo, Boy. Ini Tante Shara. Apakah Carissa main ke tempatmu?” tanyanya, setelah telepon tersambung. Meskipun setahunya jarang sekali Carissa mampir ke sana dan seringnya mampir ke rumah Airin.


“Tidak Tante, tadi aku melihat Carissa langsung pulang setelah pelajaran berakhir,” jelas Boy di seberang telepon.


Bu Shara langsung berkeringat dingin setelah mendengar penuturan Boy yang sama dengan apa yang Airin tuturkan padanya.


“Terima kasih, Boy.” Tanpa menunggu jawaban dari Boy, Bu Shara langsung mengakhiri panggilan yang menyisakan banyak tanya untuk Boy.


Ia pun menaruh ponsel itu sembarangan karena panik. “Ayah, Carissa juga tak ada di rumah Boy. Bagaimana ini?” ungkap Bu Shara semakin cemas.

__ADS_1


“Maksud Ibu, Carissa hilang?” Kali ini ganti Pak Sholeh yang tampak terkejut dan bingung setengah mati.


__ADS_2