Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 39 Siapa Penyelamatmu?


__ADS_3

Carissa sempat berhenti dan menatap ke sumber suara saat dia keluar dari masjid yang terletak di bagian ujung rumah sakit dekat dengan jalan raya.


“Carissa!” Bahkan suara yang memanggil itu kemudian menepikan motornya setelah melihat sosok Carissa.


Meilihat siapa yang datang, gadis itu pun sampai berlari berhambur ke luar menuju jalan berbeton kasar nan panas itu.


“Ayah!” panggil Carissa. Ia benar-benar tak menyangka sama sekali bisa bertemu dengan ayahnya secara tak sengaja di depan rumah sakit.


Dengan raut muka yang masih pias karena lecutan ketakutan yang meraup jiwanya, Pak Sholeh menghampiri putri sulungnya. Bahkan masih ada sisa ketakutan di sana, saat Carissa menyentuh tangan ayahnya yang gemetar.


Pak Sholeh sempat mengatur nafasnya yang masih naik turun akibat berlari barusan hingga rongga paru-parunya terasa melebar kembali dan memberikan ruang yang cukup banyak untuk oksigen masuk ke sana.


“Sa, kamu dari mana saja? Kenapa tak segera pulang dan malah ke sini? Ibumu khawatir sekali padamu.”


Carissa bingung mau menjawab apa dengan cecaran pertanyaan dari ayahnya. Rasanya masih belum hilang rasa takutnya tadi saat di sekap juga saat Rayhan pingsan.


Pak Sholeh menatap wajah putih Carissa yang semakin bertambah putih Karena pucat. Dan itu membuatnya yakin jika terjadi sesuatu.


“Siapa yang sakit?”


Lagi-lagi Carissa nampak bingung oleh berondongan pertanyaan dari ayahnya itu. pertanyaan yang sebelumnya dari pria berkumis tipis itu saja belum dijawabnya dan sekarang sudah ditambahnya lagi.


Carissa menarik napas panjang dan dalam sebelum menjelaskannya pada ayahnya.

__ADS_1


“Aku tidak tahu harus mulai bercerita dari mana, tapi aku akan menceritakannya meski tidak berurutan.”


Ia lalu mengajak ayahnya untuk duduk sebentar di depan masjid. Saat itu masjid sudah lenggang. Para jamaah sholat ashar sudah bubar.


Duduklah mereka di keramik putih mengkilat.


“Aku di sekap oleh anggota geng motor. Tapi untungnya aku diselamatkan oleh seseorang. Namun yang menyelamatkan diriku saat ini terbaring di rumah sakit,” jelas Carissa mengungkapkan poin-poinnya.


Pak Sholeh bisa menangkap apa yang dijelaskan oleh Carissa padanya. Membuat kedua alisnya terpaut.


“Bagaimana kau bisa berurusan dengan anggota geng motor?”


Carissa menunduk untuk sejenak. pertanyaan yang barusan meluncur dari bibir ayahnya itu yang dia takutkan, ternyata muncul juga. Bagaimana dia menjelaskannya?


Nampak rasa penyesalan bercampur dengan rasa takut yang tergambar jelas pada sorot mata sayu Carissa.


“Kalau saja kau bilang lebih awal pada Ayah, mungkin Ayah bisa membantumu mengatasi mereka,” balas Pak Sholeh.


Ia tak menyalahkan Carissa. Memang banyak geng motor sekarang di mana-mana yang jumlahnya semakin bertambah banyak dan merasakan sakit.


“Lalu bagaimana dengan orang yang menyelamatkanmu. Apakah dia baik-baik saja?” Pak Sholeh seketika teringat pada cerita awal putrinya.


Ia sekaligus ingin berterima kasih pada orang yang telah menyelamatkan putrinya.

__ADS_1


Carissa nampak menggigit bibirnya. Bingung. Bagaimana jika ayahnya tahu siapa yang menyelamatkan dirinya? Apakah ayahnya tidak akan kaget?


“Apa dia terluka parah?” Carissa menggeleng. “Lalu kenapa?” Carissa tampak ragu mau mengucapkan.


“Antar Ayah sekarang ke tempat orang itu dirawat.” Pak Sholeh langsung berdiri dan menarik tangan Carissa. Meminta putrinya itu segera menunjukkan di ruangan mana pasien itu.


Pak Sholeh lirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. Waktu menunjukkan sudah sangat sore sekali dan satu. jam lagi akan maghrib.


“Cepat tunjukkan ruangannya pada ayah kita harus ke pulang atau ibumu akan semakin bertambah cemas,” pinta Pak Sholeh.


Tanpa bisa menolak lagi, Carissa yang masih enggan menunjukkan dimana Rayhan dirawat akhirnya menunjukkan ruangan itu juga.


“Di sini Ayah.” Mereka berdua kini berada di depan sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Pak Sholeh segera mendorong pintu yang membuatnya terbuka.


Bagaimana ini? Aku tidak tahu seperti apa reaksi Ayah nanti, batin Carissa tergugu.


Di ruangan itu tergolek seorang pria yang masih belum sadarkan diri. Pak Sholeh segera mendekat untuk memastikannya.


Betapa terkejutnya dia melihat sosok pria dengan wajah tegas nan ganas yang masih bisa terlihat meski tak sadarkan diri, di tambah pakaian dan aksesoris yang dikenakannya mirip seperti preman.


“Sa, kamu yakin pria ini yang menyelamatkan dirimu, bukan yang menyekapmu?”


Carissa mengangguk dengan berat. “Benar Ayah, dia yang menyelamatkan aku.” Suaranya bergetar lalu ia beranikan diri menatap manik mata ayahnya. “Dia... anggota geng motor juga Ayah.

__ADS_1


Cukup lama Pak Sholeh terdiam, lalu membuang napas kasar. Hingga membuat Carissa jantungnya terpompa semakin cepat. Ditambah dengan tatapan tajam dari ayahnya yang seolah siap membelahnya menjadi dua bagian.


__ADS_2