Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 13 Burung Camar


__ADS_3

“Kakak sudah pulang?” tanya Ameer, menyambut kepulangan kakaknya setelah mendengar suara di motor di depan rumah.


Rayhan mengangguk, merespon adiknya. Datar dan dingin seperti biasanya.


“Bagaimana ujianmu, lancar?”


Rayhan membawa helmnya dan akan menaruhnya ke tempat helm.


“Biar aku saja, Kak,” tapi Ameer langsung merebutnya, lalu menaruhnya ke tempat helm.


Mungkin itu salah satu cara Ameer membalas kebaikan kakaknya selama ini juga salah satu cara menunjukkan rasa hormatnya pada Rayhan.


“Ujianmu bagaimana, lancar?” ulangnya, karena adiknya itu belum meresponnya juga.


“Ah, ya lancar, Kak. Ujian akan selesai lusa,” terang Ameer.


“Belajar yang rajin. Agar kelak kau bisa jadi pengusaha sukses,” tutur Rayhan.


Lama Ameer terdiam. Baginya impiannya bukanlah menjadi seorang pengusaha, tapi menjadi seorang ustadh.


“Ya, Kak,” balasnya pada akhirnya dengan terpaksa. Untuk menghargai kakaknya saja.


***


Rayhan masuk kamar setelah keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada, karena lupa membawa baju ganti saat tadi mau mandi.


Ia ambil handuk putih yang ada di gantungan baju untuk mengusap rambutnya yang basah setelah keramas.


Di punggungnya terlihat jelas tato besar bergambar elang persis seperti pada logo jaketnya.


“Rasanya segar setelah mandi. Semua penatku hilang tersapu air,” cicitnya.


Di luar sana terdengar suara adzan berkumandang.


“Sudah isha rupanya,” imbuhnya lagi, setelah menatap jam yang tergantung di dinding.


Mendengar suara adzan itu, tiba-tiba dia teringat kembali pada sosok Carissa. Gadis berhijab yang belum sempat ia tanyakan siapa namanya.

__ADS_1


“Bukan itu yang ingin ku tahu darinya,” desisnya menyangkal.


Sejujurnya, ia teringat pada cara berdoa Carissa yang begitu syahdu hingga membuat hatinya berdesir.


“Apa yang dipanjatkan gadis itu?” lirihnya berpikir.


Tadi ia sempat melihat Carissa menitikkan air mata saat berdoa, padahal sebelumnya sama sekali tak nampak raut kesedihan pada wajah berserinya.


“Kenapa aku memikirkan dia?!” pekiknya, menyadarkan pikirannya sendiri.


“Itu tidak penting.” Cepat-cepat Rayhan mengenyahkan pikiran itu darinya.


Di rumah Carissa, gadis itu sedang duduk di depan meja dengan buku yang bertebaran di mana-mana. Di lantai, di meja juga di tempat tidur.


“Kakak belum tidur?” tanya seorang gadis, masuk ke kamar Carissa.


“Ya, Fitri. Kau tidur duluan. Kakak masih banyak tugas,” jawabnya, tanpa menoleh pada adiknya.


Fitri adalah adiknya Carissa. Dia masih berusia 10 tahun. Jaraknya dengan Carissa jauh di karenakan ibunya dulu sebenarnya hanya ingin punya satu anak saja, ternyata setelah bukan usia produktif untuk hamil dan lepas KB malah hamil Fitri.


“Oh, Kakak akan ambil sekarang.”


Carissa langsung berdiri dan memungut bukunya, lalu menumpuknya di meja. Dan kini mejanya tampak penuh.


“Jika aku besar nanti, aku akan jadi gadis yang rapi. Tidak baca buku ataupun menaruh buku sembarangan seperti ini,” celotehnya, jujur.


Carissa hanya tersenyum kecil saja merespon adiknya. Adiknya itu belum mengerti saja, maka ia biarkan adiknya itu berceloteh sesuka hati.


Bahkan adiknya itupun saat ini bercerita pada Carissa.


“Kak, tadi di sekolah Bu Ira bercerita tentang kisah seorang pria anggota geng motor, bla-bla...” ceriwisnya panjang lebar.


Anehnya, meskipun sibuk Carissa tetap mendengar celoteh adiknya itu. Dia memang sayang dan perhatian pada Fitri. Sesibuk apapun, dia akan luangkan waktu untuk adiknya. Karena ia sadar, tak selamanya dia bisa menemani adiknya itu di rumah.


“Dasar berandal,” ceplosnya, tiba-tiba jadi teringat pada sosok Rayhan yang begitu menyebalkan.


“Kakak marah?”

__ADS_1


“Tidak! Lanjutkan saja ceritanya. Kakak akan mendengarnya. Si berandal yang kau ceritakan itu membuatku kesal,” gerutunya.


Fitri hanya garuk-garuk kepala saja, bingung. Kenapa kakaknya bisa kesal hanya dengan mendengar ceritanya saja?


***


Keesokan harinya di kampus saat siang hari.


Terdengar suara seruan adzan di sana. Para mahasiswa yang ada pun segera menuju ke masjid yang terletak di samping tempat parkir untuk menunaikan sholat.


“Lihat itu, burung camar datang!” bisik seorang gadis pada temannya, di masjid sembari menatap Carissa.


Julukan Carissa adalah burung camar. Itu karena di antara mahasiswi yang berhijab hanya dia yang memakai hijab lebar sampai ke pinggang.


Jika dia berjalan cepat, hijab hitam itu bergerak-gerak seperti sayap burung camar, makanya panggilan itu pas untuknya.


“Hey camar, kenapa kau sholat di sini? Harusnya kau sholat di ranting pohon saja dengan kelompokmu,” sindirnya, memaki.


Astagfirullah.... Kenapa mereka selalu memakiku dan cari masalah denganku,” desau Carissa dalam hati. Mencoba untuk tenang.


Carissa tak menggubris perkataan mereka. Dan langsung saja mengambil air wudhu. Ternyata tetap saja ada dari mereka yang mengikutinya.


“Sepertinya kau ini memang salah satu dari aliran sesat,” decaknya, setelah memperhatikan cara wudhu Carissa yang berbeda dengan cara berwudhunya.


Lama-lama kuping Carissa panas juga mendengar ocehannya. Sebut saja dia Devi.


Devi dan teman-temannya memang kerap mem-bully Carissa. Entah apa awalnya hingga dia dan kelompoknya berbuat seperti itu pada Carissa.


“Dev, kalau sudah selesai wudhu lebih baik cepat pergi. Masih banyak yang mengantri,” ucapnya dengan nada sedikit tinggi, mengusir.


Bukannya Devi pergi, dia malah mematikan kran air yang dipakai Carissa untuk berwudhu, baru pergi.


Tapi dua kelompoknya tiba-tiba datang. Mereka juga cari gara-gara.


“Hey, kembalikan hijabku!” teriak Carissa saat ada yang mengambil hijab yang disamparkannya.


“Ambil saja jika bisa.” Gadis tadi lalu melempar hijab berwarna hitam itu ke jalanan, keluar dari masjid.

__ADS_1


__ADS_2