Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 37 Membawa Carissa Kabur


__ADS_3

Rayhan pun masuk ke markas Geng Kapak Merah. Bola matanya bergerak liar menyapu seisi ruangan itu, untuik mencari keberadaan Carissa.


“Hey! Kenapa kau kemari? Kami tak ada urusan denganmu,”sentak salah satu anggota Geng Kapak Merah melihat seseorang menerobos masuk ke markasnya. Terlebih itu adalah musuh abadinya


Rayhan tak mempedulikan perkataan yang ditujukan padanya. Ia fokus melihat satu per satu pintu ruangan yang ada dalam markas.


Pikirannya simple. Pasti mereka menyekap Carissa di salah satu ruangan. Karena sesama anggota geng motor ia bisa membaca sedikit banyak pikiran mereka.


Terdengar suara gebrakan pintu yang ditendang oleh Rayhan di mulai dari ruangan paling ujung.


“Hey, Kau! Kenapa tiba-tiba datang kemari dan memporak-porandakan markas ini?”


Anggota geng Kapak Merah itu sudah menahan amarah yang membuncah sedari tadi sejak Rayhan menapakkan kaki ke markas mereka.


“Memungut sesuatu yang kau curi di jalan.” Rayhan menjawab tanpa berbalik.


Ruangan di depannya kosong, hanya udara hampa di sana yang terasa, memaksanya untuk berpindah ke ruangan lain dan memeriksanya.


Kembali terdengar suara gebrakan pintu yang kali ini terbuka oleh ayunan tangan Rayhan yang terkepal.


“Di sini juga kosong, berarti ada di ruangan lain.”


Sengaja Rayhan mendapat pintu tersebut meskipun sebenarnya bisa dibuka. Ia geram saja dengan geng ini yang semakin lama semakin ngawur saja. Apalagi sampai melibatkan Carissa di tengah mereka sekarang.


“Berhenti! Atau aku akan bertindak,” ancamnya. Namun tak berpengaruh sama sekali pada Rayhan.


Pria itu dengan cepat berpindah ke ruangan ketiga. Ia mendobrak lagi pintu itu hingga terdengar suara retakan pintu pada bagian tengahnya.

__ADS_1


“Kau, berani-beraninya mengobrak-abrik tempat ini!”


Satu anggota Kapak Merah yang sudah tak bisa menahan kesabarannya lagi melihat markasnya yang morat-marit dengan satu handle pintu terlepas dari daun pintu, teronggok di lantai.


Rayhan segera berbalik setelah menatap Ruangan ketiga dan tak ada penghuninya, hanya ada meja dan beberapa kursi di sana.


Tepat di saat dia berpindah ke ruangan keempat, kini bukan hanya satu orang yang menghadapinya tapi anggota lain pun ikut keluar, setelah mereka menerima kode.


Brak! Sepuluh orang maju secara bersamaan mengepung Rayhan.


Rayhan berhasil merampas lima orang lawannya ke pintu yang membuat pintu di belakangnya terbuka seketika.


Bugh! Di saat lima pria terjerembab ke lantai, Rayhan melirik dengan sorot mata tajamnya menyisir seisi ruangan itu.


Rupanya di sini juga kosong. Tak salah lagi, Carissa pasti ada di ruangan kelima, batin Rayhan.


Rayhan berpindah menuju ke ruangan kelima yang merupakan ruangan terakhir yang ada di sana. Dengan para anggota Geng Kapak Merah yang masih mengikutinya.


Ternyata mereka tak bisa diajak bicara dan langsung saja menyerang Rayhan. Terjadi baku hantam sengit di sana.


Di balik ruangan terlihat Carissa yang membulatkan matanya menatap ke arah pintu yang tertutup. “Suara apa itu? Kenapa berisik sekali di luar?”


Kini malah terdengar suara pukulan, tendangan bahkan rintihan.


Membuat Carissa tengkuknya meremang ketika. Pikirannya pun melantur ke mana-mana.


Siapa yang sedang berkelahi di luar sana? Apakah ada yang lain yang kemarin dan mereka berkelahi? batin Carissa lagi, menatap nanar me pintu.

__ADS_1


Bola matanya berair tapi masih ia tahan agar tidak meleleh dari kelopak mata. Pikirannya pias. Ia tak tahu Ada siapa di sana dan apa yang akan mereka lakukan pada dirinya nanti.


Brak! Terdengar tabrakan pintu yang terbuka setelahnya.


Deg! Degup jantung Carissa terpompa tak karuan. Bola matanya semakin membulatkan kalau melihat siapa yang ada di balik pintu.


Rayhan si berandal itu kenapa dia datang kemari dan berkelahi dengan mereka.


Tak ada pikiran sama sekali dari Carissa jika pria itu datang untuk menyelamatkan dirinya.


Carissa melihat pertunjukan yang luar biasa di depan matanya. Bagaimana lengan kekar Rayhan yang berotot itu bisa menumbangkan satu per satu orang yang mengepung hingga pria itu berdiri seorang diri di depannya.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Rayhan cepat sembari melepas ikatan di tangan Carissa.


Carissa hanya menggelengkan kepala karena mulutnya masih tersumpal. Ia masih tak percaya bisa selamat dari aksi gila geng motor ini, terlebih lagi Rayhan, orang yang dibencinya yang menyelamatkan dirinya.


“Tenang, aku akan melepasnya.” Rayhan membuang kain yang menyumpal mulut Carissa setelah melepas ikatan di kaki.


Carissa masih gemetar dan nampak lemah saat akan berdiri.


“Cepat pergi dari sini.” Melihat Carissa yang susah untuk berdiri, Rayhan pun segera menarik tangannya.


Ia membawa Carissa keluar masih dengan cengkerama erat di pergelangan tangan gadis itu.


“Jangan lihat ke belakang.” Dengan suara seraknya Rayhan bahkan masih mengajak beberapa anggota yang masih menyerangnya sampai mereka ke luar dari markas.


Carissa hanya mengangguk dengan gemetar. Ini bukan kali pertamanya dia melihat perkelahian geng motor, sebelumya ia juga beberapa kali melihat Rayhan berlekahi.

__ADS_1


“Jangan harap bisa kabur dengan selamat!” seorang anggota keluar dari markas kemudian melemparkan benda keras ke arah motor Rayhan yang sudah melaju di jalanan dengan membonceng Carissa.


“Astaga!” pekik Carissa kini melihat cairan merah menetes dari kening Rayhan.


__ADS_2