
Keesokan harinya di kampus
Carissa masuk kuliah seperti biasanya. Tapi ada yang perbedaan dengan dirinya kali ini.
“Sa, kenapa kamu pakai masker? Ada apa dengan wajahmu?” tanya Airin, saat Carissa duduk di sampingnya. “Oh, Ya kemarin kamu tidak masuk kenapa?” imbuhnya sekalian daripada bertanya bolak-balik.
Carissa bingung tak tahu apa yang harus dilakukan karena hingga pagi ini wajahnya masih merah meskipun sudah berkurang. Maka ia pun menutupinya dengan masker. Jadi hanya bagian mata yang terlihat.
“Aku flu, Sa. Kemarin badanku meriang jadi aku tak masuk. Karena belum sembuh, maka aku pakai masker takut jika menulari yang lain,” ungkap Carissa, terpaksa berbohong.
Tiba-tiba Devi mendatangi kursi Carissa setelah mendengar percakapan mereka berdua.
“Halah, paling juga kamu tidak flu, Sa. Paling-paling mukamu itu sedang jerawatan atau bruntusan,” cemoohnya, mengulas seringai.
Dasar Devi ini, kenapa dia sembarangan ngomong dan bicara seenaknya saja? geram Carissa dalam hati.
“Kau ini bicara apa?” Bukan Carissa yang bicara tapi Airin.
Sungguh dia kesal sekali pada tingkah Devi. Meskipun dia berhijab sikapnya tak lebih baik dari mahasiswi lain yang tidak mengenakan hijab. Jika saja sekarang ini tidak di kelas maka, ingin saja rasanya dia melepas hijab gadis itu.
“Airin, sudah jangan ladeni dia.”
Carissa langsung menarik temannya itu untuk duduk saat terlihat emosi dengan memegang buku tebal, yang bisa jadi akan di lempar pada Devi.
“Kita buktikan saja ucapanku apakah itu benar?”
Dengan cepat Devi lalu menarik masker Carissa.
“Nih, lihat sendiri. Wajahnya merah ternyata. Dia pakai masker untuk menutupi mukanya!”
Devi terkekeh melihat muka Carissa yang merah. Dia tertawa puas penuh kemenangan ternyata ucapannya benar adanya.
__ADS_1
“Devi, lancang kau ya!” Airin kembali gemas pada sikap gadis yang lebih pantas di panggil iblis itu.
Sementara Carissa segera mengambil kembali maskernya dari tangan Devi lalu memakainya dengan cepat.
“Dasar gadis naif. Pembohong!” ucap Devi berjalan melewati Carissa.
Carissa diam saja sambil meremat tangannya. Ingin sekali rasanya dia mendorong gadis itu hingga terpental ke dinding. Tapi ia tahan emosinya dan amarahnya.
Bukannya ia takut pada Devi, tapi dia masih punya iman di dada. Dia tak ingin mencari masalah. Selain itu bukankah jika dibalas dengan yang sama maka itu artinya dia lebih buruk daripada Devi, bukan?
“Sudah Sa, tenangkan dirimu.”
Airin menepuk bahu temannya itu karena ia tahu kalau saat ini Carissa sedang menahan amarah.
Ibaratnya gunung berarti tinggal meledaknya saja. Sungguh tingkah Devi memang keterlaluan.
***
Sengaja, ia lewat sana karena ingin mengetahui kabar Rayhan saja. Setelah dipukul oleh warga kemarin dan melihat wajahnya yang babak belur, membuatnya kembali merasa bersalah.
Di mana dia? Dia tak ada di depan? Tidak mungkin juga aku akan berhenti lalu masuk ke markas itu dan melihatnya sendiri secara langsung, batin Carissa.
Ia berhenti sebentar di depan markas Eagle Wave, menoleh samping kiri dan menatap lurus markas tersebut.
“Woy! Ngapain kamu berhenti di sini?!” Tiba-tiba beberapa anggota geng motor itu keluar saat melihat Carissa. Apalagi penampilannya aneh dengan mukanya dengan masker seperti itu. Pikirannya jadi negatif. Mengira dia adalah maling dan sejenisnya.
“Oh, tidak! Aku tak ingin berurusan dengan mereka lagi!” pekik Carissa.
Sebelum beberapa anggota Eagle Wave itu menyeberang dan mengejarnya, maka ia kabur terlebih dulu.
Sungguh ia tak ingin mereka mem-bullynya lagi. Kemarin air garam yang dioles ke mukanya bisa jadi nanti air cabe akan yang dioles ke mukanya. Bisa rusak wajahnya kalau begitu.
__ADS_1
“Sialan! Dia sudah kabur!” umpat anggota Eagle Wave setelah mendapati Carissa kabur.
Carissa bener-bener ngempet karena ia takut para anggota geng motor itu akan mengejarnya dengan motor mereka.
Fyuh! Untung lah mereka tidak mengejarku.” Carissa berhenti setelah melihat dari kaca spion jika mereka tak mengejar dirinya.
Tepat di saat dia akan melanjutkan motornya kembali seorang menghentikannya dari depan.
“Oh...” keluhnya, dan ketik itu juga kepalanya terasa pusing berdenyut.
Bagaimana tidak pusing jika lepas dari mulut buaya kini masuk ke mulut singa.
Di depannya saat ini ada Rayhan. Pria itu menahan motor Carissa.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini,” ucap Rayhan menatap tajam Carissa.
Meskipun gadis itu saat ini mengenakan masker untuk menutupi mukanya tapi ia bisa mengenalinya dengan mudah, dilihat dari motor yang dikendarai Carissa kali ini.
“A-apa yang mau kau lakukan padaku?” Carissa sampai gemetar saat berucap.
Ia takut jika Rayhan ingin balas dendam padanya karena yang menyebabkan dia babak belur dianiaya warga. Bahkan wajah pria itu saat ini masih sedikit memar.
Shat! tiba-tiba saja Rayhan menarik masker Carissa. Dan kelihatan wajah Carissa yang merah.
“A-apa...” Carissa benar-benar gemetar hanya dengan melihat senyuman Rayhan.
Terlebih pria itu membuka tangannya dan memberi kode dengan jarinya untuk mendekat. Tapi dia tetap diam saja tak bergeming juga tak bergeser maju sedikitpun.
“Kau harus tanggung jawab,” ucapnya pelan, namun menuntut.
Carissa mendelik takut apa yang akan diminta oleh Rayhan padanya. Tenggorokannya bahkan kini terasa tercekat. Ia harusnya tak berurusan dengan seorang ketua geng motor.
__ADS_1