Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 42 Suara Ameer


__ADS_3

Carissa diam dan menghentikan langkah kakinya. Ia ragu mau meneruskannya atau tidak.


Aku tidak tahu dia ada di dalam sana atau tidak? Tapi yang menyambut keluar bukan dia melainkan anggotanya. Bagaimana jika dia tidak ada di dalam sana? batin Carissa, menghindari catatan pria itu dan malah menatap ke balik punggungnya.


“Hey, kamu punya telinga atau tidak? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” ketusnya lagi.


Carissa sampai tersentak karena nadanya cukup tinggi dan membuat telinganya bergetar.


Anggota Rayhan itu melangkah maju seiring dengan Carissa yang melangkah mundur sembari membuka kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk pertahanan diri.


“Kamu mau cari masalah lagi? Belum cukupkah kamu membuat Boss kami kerepotan?”


“Tidak. Jangan salah paham dulu. A-aku hanya mau mengucapkan terima kasih saja padanya.”


Pria itu kemudian berhenti setelah Carissa memberikan jawaban.


Boss tidak ada di sini. Dia di rumahnya. Mungkin lukanya cukup serius,” terang anggota Eagle Wave.


“Jika begitu sebaiknya aku pergi saja.”


Carissa kemudian segera cabut dari sana, kembali melajukan motornya.


“Itu bukannya si camar?” Seorang gadis yang berada jauh di belakang Carissa, melihat motor matic yang familiar baginya.


Siapa lagi gadis itu juga bukan Devi. Dia memperlambat laju motornya setelah motor matic di depannya itu hilang dari pandangannya.

__ADS_1


“Ya, benar. Itu tadi memang motornya si camar.” Tak sengaja ia berhenti di dekat markas Eagle Wave.


Tadi dia tempat melihat motor matic tersebut keluar dari markas itu. “Norak banget Carissa itu dan munafik! Dia bilang tak ada hubungannya dengan preman itu. Tapi baru saja dia keluar dari sana.”


Devi tiba-tiba menerbitkan senyum culas dan licik khasnya. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu.


“Aku punya rencana yang bagus sekali untukmu,” gumamnya, lalu kemarin melajukan motornya dengan penuh senyum sering kembali menghias ujung bibirnya.


***


“Kak, apakah kepala Kakak sudah baikan?” tanya Ameer di kamar Rayhan.


Rayhan masih mengenakan perban yang membelit kepalanya. Kemarin saat pulang kepalanya masih nyeri berdenyut disertai rasa perih.


Beruntungnya, dahinya itu Tak Sampai dijahit atau akan meninggalkan bekas pada wajahnya yang tak bisa hilang. Dan mungkin saja itu akan mengurangi ketampanannya.


Meski kakaknya bilang kondisinya baik-baik saja, namun Ameer tak serta merta percaya pada mulut manis kakaknya itu yang sering bohong padanya.


Pernah dulu Rayhan demam sepulangnya dari balapan liar di tengah hujan deras di suatu tempat. Malam itu ia pulang dengan wajah pucat dengan tubuh sedingin es.


Namun saat Ameer menanyakan bagaimana keadaannya, kakaknya itu menjawab baik-baik saja tepat seperti sekarang ini. Dan malamnya panas tinggi. Ia tak ingin kejadian itu terulang lagi pada kakaknya.


“Biar aku periksa Kak lukanya sudah kering atau belum?” Ameer sekarang duduk di samping kakaknya.


Ia melepas perban yang membelit kepala Raihan dengan pelan dan hati-hati. Sejak kemarin ia belum melihat luka kakaknya itu, dan baru kali ini dia memberanikan diri melihatnya.

__ADS_1


“Kak, sebenarnya ada kejadian apa, bagaimana bisa Kakak terluka seperti ini?”


“Kau masih kecil jadi tak perlu tahu bagaimana duniaku di luar. Yang terpenting SPP dan biaya lain sekolahmu sudah lunas.”


“Bukan begitu Kak. Aku tak ingin Kakak sampai terluka parah seperti ini di luar sana. Jika saja aku mampu maka aku akan balaskan semua rasa sakit Kakak pada orang yang telah melukaimu.”


Ameer tampak tidak terima melihat luka kakaknya yang sedikit parah, tidak seperti biasanya.


“Aku tidak sengaja mendapatkan luka ini. Luka ini karena aku membantu dan menyelamatkan seorang gadis,” papar Rayhan.


Ameer sampai menautkan kedua alisnya membentuk busur panah. Sumpah demi apapun selama ini ia tak pernah mendengar kakaknya itu menyebutkan atau membahas seorang gadis.


“Gadis? Gadis siapa yang Kakak maksud?” Ameer benar-benar penasaran.


“Gadis di jalanan. Awas sekali lagi kau bertanya maka aku akan mengusirmu pergi dari kamarku,” ancam Rayhan dengan halus tapi sangat menusuk sekali.


Membuat Ameer benar-benar tak berani bicara sepatah kata pun lagi, membahas masalah gadis yang masih membuatnya penasaran.


“Kak, aku sudah selesai mengobati lukamu, aku akan memasang perbannya kembali.”


Rayhan hanya mengangguk saja merasakan adiknya.


Selesai mengobati kakaknya Ameer kembali ke kamar. Anak lagi itu biasanya pada malam seperti ini akan mengaji. Karena PR dari sekolah sudah ya selesaikan sore hari.


Sayup-sayup suara Ameer yang saat ini sedang membaca Al-quran terdengar menembus dinding Rayhan.

__ADS_1


“Suara itu... pasti suara Ameer,” gumamnya, tak terasa menoleh ke sumber suara.


Entah kenapa kali ini saat mendengar suara adiknya mengaji, ada rasa aneh yang menelisik masuk ke hatinya.


__ADS_2