Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 16 Membayar Hutang


__ADS_3

Carissa menatap bola mata hitam Rayhan. Mata yang dingin, sedingin kutub es dan membuatnya merinding seketika.


“Aku tidak punya hutang ada siapapun termasuk padamu.”


Rayhan mengulas seringai tipis.


“Siapa yang beberapa hari lalu menangis karena hijabnya dilempar ke tanah?”


Terang saja Carissa syok mendengar apa yang barusan dilontarkan oleh Rayhan. Sebelumnya pria itu mengetahui namanya dan kini mengetahui apa yang terjadi padanya.


“Apa kau memata-mataiku?” tuduh Carissa.


Rayhan menggelengkan kepala. Buat apa juga memata-matainya, sedangkan pekerjaannya saja banyak di markas yang belum dia selesaikan.


Urusan anggota gengnya yang bermasalah, urusan dengan beberapa warga dan urusan lainnya yang tentunya akan membuat pusing jika disebutkan.


“Apa si sipit itu hari ini pincang kakinya?” ucap Rayhan lagi.


Rayhan tak tahu nama Devi. Sedangkan ciri khasnya mata gadis itu sipit. Jadi asal saja dia menamainya begitu.


“Sipit?” Carissa mencoba berpikir dan mengingat siapa temannya yang bermata sipit dan pincang.


Setelah mengingat lagi semua teman sekelasnya yang bermata sipit hanya ada satu, Devi. Dia memang keturunan China.


“Astaga! Jadi kau yang menyerempet Devi?!” pekiknya lagi, lebih terkejut.


Seketika kepala Carissa terasa berdenyut. Bagaimna bisa pria itu memberi pelajaran Devi?


“Hey, berandal... aku tak memintamu memberi pelajaran, jadi aku tak punya hutang.”


Dipanggil dengan sebutan berandal membuat sorot mata Rayhan semakin tajam menghujam.


Selama ini tak ada yang berani bercanda dengannya apalagi sembarangan memanggil namanya.


“Hey, jaga mulutmu jika bicara! Aku punya nama dan ibuku memberikan nama yang bagus untukku, Rayhan. Jadi Jangan sebut namaku sembarangan lagi seperti itu!” hardiknya tegas.


Carissa mengkerut, merinding juga mendengar ucapan Rayhan yang dingin.


Ternyata seperti ini berandal kalau ngamuk.


“Ya, aku aku akan memanggilmu Rayhan nanti,” lirihnya nyaris tak terdengar, namun Rayhan bisa mendengar itu.

__ADS_1


“Aku ini lebih senior daripada dirimu, jadi tak sepantasnya memanggil namaku langsung seperti itu!” hardik Rayhan lagi.


Raysa menautkan kedua alisnya. Bingung. Dari lingkar garis mata Rayhan, Carissa bisa tahu usia Rayhan tidak terpaut jauh darinya. Tiga atau empat tahun di atasnya.


Tapi ia tak tahu berandal itu ingin dipanggil apa? Takut salah ucap.


Sudahlah, itu tak penting bagiku. Kenapa aku harus memikirkan panggilan segala untuknya.


Carissa melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.


Ck, aku sudah membuang waktu 10 menit lebih di sini. Aku harus cepat ke rumah Airin.


“Ya senior, aku pergi dulu.” Carissa kembali memiringkan motornya ke samping kiri Rayhan untuk mencari jalan.


“Eits, mau ke mana?!” Rayhan kembali menarik bagian belakang motor Carissa, membuatnya berhenti.


Hais! Carissa mendengus kesal. Ternyata tak mudah berurusan dengan berandal.


“Kau belum bayar hutangmu! Bayar dulu baru pergi,” tukas Rayhan.


Hah! Carissa kembali menarik nafas panjang kembali berpikir apa yang bisa diberikan pada Rayhan.


Uang di dompetnya tinggal selembar berwarna merah, itu pun untuk jatah sampai dua minggu ke depan. Dan dia harus mencukupkannya sendiri.


Rayhan pun beralih menatap tas yang tergantung di gantungan motor Carissa. Dari balik kantong menyembul camilan.


“Jika begitu bayar saja dengan kue malkismu itu,” tunjuk Rayhan.


Carissa tadi membantu ibu praktek membuat kue Malkist Dan ia membawanya beberapa untuk diberikan pada Airin sebagai camilan.


“Baiklah, bawa ini.”


Setelah menyerahkan kue tersebut barulah Rayhan melepaskan tangannya dari motor Carissa.


Rayhan mengulas seringai tipis melihat punggung Carissa berlalu darinya semakin jauh.


Tak lama kemudian, Carissa tiba di rumah Airin.


“Sa, kamu lama sekali? Ku kira kau tak jadi kemari,” ucap Airin, setelah mengajak temannya itu masuk.


“Ada sedikit masalah tadi. Sudah sekarang ayo kita kerjakan tugas kita.”

__ADS_1


***


“Boss, ada masalah.” Seorang anggota Eagle wave menghampiri Rayhan yang duduk di markas.


“Masalah apa? Katakan saja.”


Pria itu segera bangkit dari duduknya kemudian berbalik dan menatap tajam anggotanya.


“Deny, Boss. Dia cari masalah dengan geng Kapak Merah.”


“Kapak merah?”


Kapak Merah merupakan anggota geng motor lainnya. Dia salah satu musuh Eagle Wave. Awalnya mereka bukan musuh, tapi karena anggotanya sering bersi tegang dengan kelompok itu saja, mereka jadi bersinggungan.


“Apa yang dilakukan Deny?” tanya Rayhan, dengan sorot mata sangar dan dingin.


Anggotanya itu kemudian menceritakan duduk perkaranya dari awal sampai akhir. Jika Deny tak sengaja menyerempet anggota geng Kapak Merah, saat di jalan.


“Aku akan urus Deny nanti jika ketemu.”


Selepas bicara demikian Rayhan keluar markas. Baru saja dia duduk di motornya tiba-tiba ada motor lain yang datang menghampirinya.


Seorang pria turun dari motor merah. Pria bertato kapak berwarna merah di lengan kanan dengan tampang garang menantang Rayhan.


“Aku mau selesaikan masalah denganmu,” ucapnya tegas.


Rayhan langsung turun dari motornya dan membalas tatapan pria itu dengan dingin pula.


“Karena anggotamu cari masalah, maka itu jadi masalahku juga. Kita selesaikan sekarang secara laki-laki!”


Rayhan langsung menajamkan matanya dan waspada karena bisa saja secara mendadak pria itu memukulnya.


“Sony, cara seperti apa yang kau mau?” Terlihat bara api saat Rayhan bicara. Sony adalah ketua Geng Kapak Merah.


Tanpa bicara, Sony lalu menarik kerah baju Rayhan. Di menit berikutnya pria itu melayangkan pukulan pada Rayhan.


Tepat di saat suasana ramai, terjadi adu pukul antara Rayhan dan Sony, Carissa lewat, berangkat ke rumah Airin.


“Ada keributan apa ini?!” lirihnya berhenti di markas Eagle Wave, dimana terdengar suara pukulan di sana.


Akh! Carissa sampai berteriak saat melihat dua pria sedang adu otot.

__ADS_1


Dan karena jeritannya, dua pria tadi ketika mengarahkan tatapan tajam pada Carissa.


__ADS_2