Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 30 Menemukan Lowongan Kerja


__ADS_3

Boy tak percaya dengan apa yang barusan diucapkan oleh Carissa.


“100 juta buat apa, Sa?” pekik Boy, yang masih terkejut dan heran saja.


“Aku punya hutang.”


“Apa? Kamu punya hutang 100 juta? Buat apa?”


Ssts!


Boy langsung mengatupkan mulutnya karena teman di sampingnya pada menoleh ke dirinya.


“Panjang ceritanya dan bikin sebal. Intinya saja ya aku jelasin. Aku harus bayar segitu pada ketua Eagle Wave, agar dia menjauh dariku,” ungkap Carissa, lirih.


Ia tak mau ada yang sampai mendengar aibnya itu. Bisa dijadikan bahan bully-an lagi nanti dia. Sedangkan daftar bully nya sudah panjang. Mulai dari mahasiswi teladan, kutu buku, bermuka dua, sok cantik, burung camar dan seabrek lainnya, yang cukup panjang jika disebutkan.


Bahkan Airin yang juga duduk di samping Carissa, sampai terkejut mendengarnya.


“Sa, bukankah sudah kubilang padamu untuk tidak berhubungan lagi dengan ketua geng Eagle Wave itu?”


“Aku inginnya juga begitu, Rin. Tapi entah kenapa aku terus masuk dalam jebakannya. Dia sampai mau ambil Fitri segala,” papar Carissa.


Kini raut mukanya yang tadi kesal kini berubah lemas. Jika membahas soal Fitri, ia tak bisa berkutik. Ia sangat sayang sekali pada adiknya itu. Bukan tanpa alasan dia sampai bela-belain Fitri seperti itu.

__ADS_1


Dulu sekali, adiknya itu pernah keserempet mobil untuk menyelamatkan dirinya yang sedang menyeberang jalan dengan pikiran kosong. Carissa selamat sedangkan Fitri masuk rumah sakit dan dirawat selama satu minggu penuh. Hal itu yang selalu diingatnya sampai sekarang, tentang jasa adiknya itu.


“Hey, laporkan saja pada polisi dengan dugaan kasus pemerasan,” saran Airin. Masuk akal juga. Tapi Carissa langsung menggelengkan kepalanya.


Jika ia melaporkan kasus itu pada polisi, itu artinya semua akan mengetahuinya nanti termasuk ayah dan ibunya. Lalu akan jadi apa dirinya nanti? Bisa-bisa Carissa benar-benar diusir dari rumah oleh mereka berdua.


“Aku bingung Rin, sungguh. Jika saja aku bisa pindah, aku ingin pindah ke planet Jupiter saja. Jadi aku takkan bertemu dengan berandal sialan itu,” ucap Carissa sembari memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


***


Di rumah, sampai sore hari pun Carissa masih memikirkan hal itu. Ia sampai lupa makan siang akibat terus berkutat dengan laptopnya.


“Aduh... bisnis part time sekarang banyak yang tipu-tipu begini. Bukannya dapat cuan malah nombok,” desaunya setelah melihat puluhan jenis bisnis part time palsu.


“Oh... aku lelah. Usaha apa yang bisa mendapatkan keuntungan banyak dan rutin?” lirih Carissa.


Di ujung rasa lelah dan asanya ia menutup laptopnya agar penatnya hilang. Ia pun berjalan masuk ke kamar dengan memegang kepalanya yang terasa berdenyut dan berat.


***


Hah! Carissa membuang napas panjang di siang hari yang terik di parkiran kampus.


“Lebih baik jika menemukan sebuah warung atau toko aku akan mampir sebentar untuk beli es,” cicitnya sembari mengusap peluhnya.

__ADS_1


Ia lalu keluar dari kampus dan menyisiri jalan dengan menyapukan pandangan ke sekitar mencari toko yang menjual minuman yang segar-segar karena dia merasakan panas tenggorokan yang menyambar.


“Sepertinya warung makan itu jual es campur,” ucapnya setelah membaca plakat besar yang terpampang di depan warung dan menyebutkan menu berbagai es.


Tentu saja itu sangat menggoda di cuaca panas terik seperti ini. Padahal sebenarnya minum es adalah larangan bagi Carissa.


Karena dulu dia menderita penyakit amandel namun sudah sembuh tapi tidak memungkinkan bisa kambuh jika tidak menjaga pola makan dan menghindari es, terlebih makanan pedas. Namun Carissa tak mempedulikan itu.


“Bu, tolong es campur satu dan seblak pedas level tiga,” pesannya pada pelayan warung.


“Baik, Non.”


Carissa lalu duduk menunggu pesanannya datang. Di meja tempatnya duduk kebetulan ada koran. Iseng dia membukanya dan terus baca sampai pada info lowongan pekerjaan.


Ia baca dengan teliti semua informasi mengenai lowongan pekerjaan tersebut. Barangkali saja ada pekerjaan yang menarik dan cocok untuknya.


“Di butuhkan wanita untuk posisi marketing kosmetik. Bisa kerja dari rumah. Sistem target tutup poin.” ucap Carissa, membaca satu lowongan pekerjaan yang menurutnya pas untuk dirinya.


“Ini cocok sekali untukku!” serunya riang. Ia bahkan langsung mengambil ponselnya dan memotret info lowongan tersebut.


Karena jika menulis akan memakan waktu dan ia sedang malas untuk menulis, jadinya ia potret saja biar praktis.


“Tunggu! Gadis itu bukannya, Carissa? Lama dia tidak muncul setelah janji mau bayar hutang padaku, ternyata aku melihatnya di sini, hm.” Rayhan yang berniat mencari warung di jam makan siang tersenyum miring.

__ADS_1


__ADS_2