
Rayhan pun segera melajukan motornya ke warung makan tempat Carissa berada.
Broom! Carissa yang masih sibuk membaca lowongan kerja di koran sampai menaruh korannya begitu mendengar suara dari motor yang menuju ke arahnya.
Dari kejauhan terlihat motor itu berwarna merah dan seketika membuatnya waspada. Ia takut jika saja itu motor Rayhan.
Semoga saja itu bukan motor si berandal, batin Carissa.
Jujur saja beberapa waktu ini dia merasa takut sendiri saat melihat motor sport berwarna merah saat berada di jalanan. Ia takut jika motor itu adalah milik Rayhan. Semua motor merah di jalanan selalu ia hindari saat berpapasan.
Pernah beberapa hari yang lalu Carissa bertemu dengan motor sport merah dan motor itu mengikutinya. Ia sampai merinding sekali sampai-sampai tak berani menoleh ke belakang. Tapi untungnya ternyata dugaannya salah ternyata itu motor pengendara biasa yang jenisnya memang sama.
“Mungkin itu bukan motornya. Itu motor orang lain yang mirip.” Carissa menyimpulkan.
Ia tak mau ambil pusing dan segera menyeruput es jeruk yang sudah ada di meja dua menit yang lalu dan belum ia sentuh sama sekali karena masih fokus melihat berita loker lainnya.
Biji matanya seketika membulat penuh saat motor tadi berhenti di depan warung. Terlebih setelah melihat pria yang turun dari motor.
“K-kau kenapa kemari?” ujar Carissa terbata sekaligus syok melihat Rayhan berjalan masuk dan kini berdiri di depannya.
Ia bahkan sampai tersedak karena saking terkejutnya. Sungguh ia tak berharap bertemu dengan pria itu kembali hari ini, besok, lusa dan seterusnya. Seumur hidup dia tak ingin bertemu, apalagi berurusan dengan brandal seperti dia lagi.
“Tentu saja untuk makan,” jawab Rayhan singkat lalu duduk.
__ADS_1
Dengan santainya ia mengambil seblak milik Carissa yang masih hangat dan belum tersentuh sama sekali. Asap dan uap pedas yang menguar dari mangkuk putih itu sangat mengundang perutnya yang kembali berdecit perih.
“Lumayan untuk mengganjal perut.” Rayhan langsung menyuapkan sesendok ke mulutnya.
“Kau ini benar-benar ya? Main comot saja milik orang tanpa permisi dulu. Apa itu kebiasaanmu?!” Carissa kesal sekali.
Sengaja ia mendiamkan seblak itu agar tidak terlalu panas saat di makan. Sebab setelah minum es jika langsung makan makanan panas giginya akan terasa ngilu, mungkin saja bisa berlubang setelahnya.
Tapi sekarang seblak itu sudah dimakan Rayhan. Tentu saja tak mungkin ia mengambilnya lagi dan memakan bekas Rayhan.
“Ini adalah milikku jadi wajar saja jika aku memakannya,” jawab Rayhan dengan entengnya, tanpa rasa berdosa sedikitpun.
“Milikmu? Bagaimana bisa itu jadi milikmu sedangkan aku yang memesannya.” Carissa menyanggah.
“Karena kau masih punya hutang padaku, maka anggap saja ini milikku. Kau bayar hutangmu dengan ini.”
“Hais! Perutku tak bisa diajak kompromi.” Carissa memegang perutnya yang terasa perih melilit. Dengan terpaksa ia memanggil pelayan di warung.
“Bu, aku mau tambah seblak satu mangkuk lagi,” ucapnya memesan.
“Iya, Non.”
Carissa kembali menatap Rayhan yang kini mulai berpeluh dan mengambil tisu untuk mengusap peluhnya.
__ADS_1
Kenapa seblak ini rasanya pedas luar biasa? Batin Rayhan. Lidahnya terasa terbakar dan panas.
Sepertinya dia tidak doyan pedas. Rasakan! Salah sendiri makan punyaku langsung comot saja! maki Carissa dalam hati sembari tersenyum tipis.
“Ini Non, seblaknya.” Pelayan mengantar pesanan.
Carissa lalu segera menyantap seblak yang sudah dihidangkan di depannya, karena sumpah demi apapun dia sudah tak bisa menahan perutnya yang melilit-lilit.
Aneh sekali, dia sama sekali tidak berkeringat seperti diriku. Apakah dia penggemar pedas? batin Rayhan, menatap Carissa.
***
Carissa buru-buru menyelesaikan makannya, selain karena lapar ia tak mau berurusan lagi dengan Rayhan. Bisa-bisa pria itu minta padanya untuk dibelikan minum juga. Padahal uangnya semakin menipis, dan ia harus berhemat sampai akhir bulan.
“Mau ke mana kau? Jangan pergi kalau tidak bayar punyaku juga,” tanya Rayhan menarik kakinya keluar dari meja untuk menghalangi Carissa.
“Aku akan bayar makanan yang kau makan. Tapi semua hutang ku lunas.” Carissa melangkahi kaki Rayhan menuju ke kasir untuk membayar.
“Hey, tunggu dulu!”
Rayhan berlari mengejar Carissa keluar dari warung makan.
“Aku sudah bayar. Tapi kenapa kau masih mengikutiku?!” ujar Carissa, risih.
__ADS_1
Dari arah belakang mereka berdua melintas motor Devi. Gadis itu penglihatannya tajam jika menyangkut Carissa. Ia bisa tahu dengan jelas meskipun dari kejauhan.
“Bukankah itu Carissa?” gumamnya melihat sosok rivalnya, “Dan pria itu... bukankah dia preman yang memberiku pelajaran beberapa waktu lalu? Kenapa dia ada bersama camar itu lagi?” imbuhnya merasa heran.