Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 38 Suara Adzan Yang Menggetarkan


__ADS_3

Semuanya terjadi dengan cepat begitu saja tanpa bisa dihindari. Carissa tak tahu jika lemparan kayu itu mengenai kepala Rayhan. Sialnya lagi, saat ini Rayhan tidak mengenakan helm. Hingga mengakibatkan ujung kayu yang runcing itu menggores keningnya.


“Berhenti saja. Aku ingin melihat lukamu dulu,” ujar Carissa dengan suara bergetar.


Bergetar karena masih terkejut dengan semuanya yang terjadi secepat. Bergetar karena takut baru pertama kali ini melihat seseorang menyelamatkan dirinya sampai terluka. Bergetar karena khawatir pada kondisi Rayhan.


“Tidak! Aku tak apa. Jika berhenti mereka akan mengejar dan aku tak tahu apa yang akan terjadi pada kita.” Rayhan bukannya memerankan motornya malah melesatkan motor secepat kilat.


Di tengah jalan, Rayhan merasa pandangannya makin lama makin kabur. Sudah sejak tadi tapi ia menahannya. Karena ia hanya seorang diri saja, jadi sekuat apapun dia jika menyerang pasti akan tumbang jika dikeroyok orang yang jumlahnya tak ada habisnya.


Bagaimana ini... batin Rayhan kini menatap jalanan yang semakin nampak tak jelas.


Beberapa detik kemudian tiba-tiba Rayhan menghentikan motornya karena memang tak kuat menahan tubuhnya lagi yang terasa oleng dan ia takut akan jatuh dari motor lalu membuat dirinya dan Carissa terluka.


Deg! Jantung Carissa merasa berhenti berdegup terlebih Rayhan tak bersuara ataupun bergerak setelahnya.


“Ada apa ini sebenarnya?” Dengan rasa takut luar biasa Carissa turun lalu melihat kondisi Rayhan.


Pria itu kini memejamkan mata dengan darah yang membasahi bahu.


“Hey, bangunlah. Jangan bercanda denganku.” Ia mencoba membangunkan Rayhan dengan menangkup pipinya.


Tapi pemilik alis tebal itu tak kunjung membuka matanya juga. Membuat Carissa semakin panik.


“Tolong! Tolong!” Carissa berteriak meminta tolong pada siapa saja yang lewat di tengah rasa kebingungannya yang membuncah menjalari hatinya dan menghilangkan akalnya.


Beberapa orang yang ada di dekatnya kemudian segera datang dan membantu.

__ADS_1


***


Dalam mobil ambulans, Carissa duduk di samping Rayhan yang terbujur lemas tak sadarkan diri menuju ke rumah sakit terdekat.


“Cepat bawa ke ruangan dan periksa,” ujar seorang petugas medis pada harganya setelah Rayhan di bawa turun dari ambulans.


“Silakan tunggu di luar dulu, Nona.”


Petugas medis segera menutup pintu ruangan dan melakukan pemeriksaan serta perawatan pada Rayhan. Sedangkan Carissa nampak cemas duduk menunggu di kursi luar ruangan dan beberapa kali meremat ujung bajunya.


Hingga satu jam lamanya ia menunggu petugas medis belum keluar dari ruangan.


Klak! Pintu terbuka 5 menit kemudian dan Carissa segera berhambur menghampiri petugas medis.


“Bagaimana keadaan pasien?”


Carissa menerbitkan senyum tipis di ujung bibirnya. segera ia masuk ke ruangan berwarna serba putih itu setelah petugas medis keluar.


Dipandanginya sosok pria yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan dirinya itu dengan intens.


Terbersit rasa bersalah melihat keadaan Rayhan yang seperti ini karena dirinya. Entah kenapa rongga paru-parunya terasa sesak menghimpit tidak menyisakan ruang oksigen baginya.


“Cepatlah sadar. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan padamu. Terima kasih sudah membantuku. Meski sebenarnya aku sangat membencimu.”


Carissa tidak tahu jika saat itu ujung jemari Rayhan bergerak meskipun matanya masih belum terbuka.


Bola mata Carissa dari tadi berair namun ia tahan sebisa mungkin. Bahkan ia sampai lupa jam berapa sekarang.

__ADS_1


“Sekarang sudah masuk waktu ashar rupanya,” gumamnya menatap jam besar yang tergantung di dinding.


Suara adzan sayup-sayup terdengar lirih menggema ke seisi rumah sakit.


Carissa sampai ikut mengucap mengikuti adzan yang berkumandang. Sudah kebiasaan baginya turut mengucapnya di setiap waktu sholat, meskipun dia bukanlah muadzin.


“Sebaiknya aku tunaikan salat ashar dulu di masjid yang ada di rumah sakit ini.”


Ia melirik sebentar menatap Rayhan yang belum siuman lalu meneruskan langkahnya menuju ke suara sumber adzan terdengar.


Tepat setelah pintu ruangan tertutup, jari Rayhan kembali bergerak. Ia bisa mendengarkan adzan yang dikumandangkan oleh Carissa.


Ia sampai merinding mendengarnya. Bahkan setelah gadis itu pergi pun rasa merinding itu tak kunjung hilang dari tubuhnya yang kini semakin meremang sampai ke ubun-ubun.


Selama ini aku sudah banyak melakukan kesalahan dalam hidupku. batin Rayhan.


Semua kilas perilakunya yang tidak baik terlintas dalam benak pikirannya yang membuat hatinya terasa diremas, sakit dan perih. Baru kali ini hatinya ketuk dan tersentuh begitu dalam oleh suara adzan yang ia rindukan jauh dalam lubuk hatinya.


Apa yang kuperbuat selama ini? Aku telah menyakiti dan mengecewakan ibu...batin Rayhan masih dengan mata terpejam.


Ia berusaha untuk bangun tapi sepertinya efek obat bius belum habis sehingga memaksanya tetap memejamkan mata, meskipun kesadarannya sudah pulih.


***


Carissa selesai berdoa dan keluar dari masjid. Setidaknya sekarang dirinya lega melihat kondisi Rayhan yang sudah stabil. Namun beralih hatinya merasa cemas memikirkan kedua orang tuanya yang pasti saat ini mencarinya.


“Carissa! Apa itu benar kau, Nak?”

__ADS_1


__ADS_2