Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 36 Rayhan Mendatangi Markas Musuh


__ADS_3

“Ayah, sekarang bagaimana?” ujar Bu Shara masih cemas.


Pak Sholeh membuang napas cepat. Jujur, ia pun sebenarnya bingung dan cemas sekali bahkan lebih cemas dan istrinya mungkin. Jika hal itu benar terjadi, ia berharap tak ada sesuatu yang menimpa Carissa dan putrinya itu akan pulang dengan utuh dan baik-baik saja.


“Tadi sebelum pulang apakah Ibu meminta Carissa pergi ke suatu tempat?” tanya Pak Sholeh.


Bu Shara mengangguk cepat. Ia lalu menjelaskan pada suaminya jika tadi ia berpesan pada Carissa untuk pergi ke pasar tradisional tempat ia biasanya belanja untuk membeli asam kandil.


“Ayah, mau ke mana?” Bu Shara mengejar Pak Sholeh yang tiba-tiba berlari keluar rumah.


“Tentu saja ke pasar tradisional yang Ibu sebutkan, barangkali saja Carissa masih ada di sana,” jawab Pak Sholeh.


Tepat di saat Bu Shara sampai di depan rumah, Pak Sholeh sudah menghilang bersama motor bebeknya.


Pak Sholeh orang lama, jadi dia dia suka menaiki motor matic dan lebih nyaman menaiki motor jenis kopling. Bahkan motor bebeknya itu tak dijualnya Meskipun banyak yang menawarnya. Baginya itu adalah tunggangan setianya dari zaman dulu susah sampai sekarang sudah tak susah lagi.


“Aku harap Carissa ada di pasar tradisional itu.”


Sementara di lain tempat di sebuah jalanan, terlihat Rayhan menyusuri jalan setelah keluar dari markas Eagle Wave. Hari ini dia melewati rute lain. Bosan setiap hari melewati jalan yang sama.


Ibaratnya setiap hari makan sayur lodeh kali ini dia ingin makan sayur sop. Tak sengaja ia lewat sebuah jalanan di mana di sepanjang jalan itu terdapat kompleks pertokoan juga pasar tradisional.


“Kenapa tiba-tiba rasanya haus sekali?”

__ADS_1


Rayhan kemudian berhenti di depan sebuah toko kelontong yang menjual minuman kaleng.


“Bu minuman jeruk kaleng dua,” pesannya pada penjual, dengan suara tegas dan nada tinggi, meskipun tidak dalam kondisi marah.


“Y-ya.” Penjual nampak gemetar melihat pembelinya berpenampilan seperti preman. “I-ini minumnya,” imbuhnya, lalu memberikan dua kaleng minuman jeruk.


Rayhan langsung meneguk dua kaleng tersebut sekaligus. Ia segera kembali ke motornya. Namun setelah beberapa meter melaju di jalanan, tatapannya terpaku pada sebuah motor matic yang terparkir di tepi jalan.


Seketika ia pun mengerem mendadak ketika melewati motor tersebut. Bahkan ia turun dari motornya.


“Ini kan motor Carissa. Kenapa ada di sini? Apa dia sedang main di sini?” celetuk Rayhan.


Ia merasa heran sekali kenapa motor itu berhenti di tempat sejauh ini. Jaraknya dari Kampus Bunga Bhakti ada 10 kilo. Masa iya gadis itu punya teman di area sini?


“Di mana si pemilik motor ini?” tanyanya pada seorang pria berumur paruh baya.


Pria itu kemudian turun dari teras dan mendekati Rayhan. Ia memindai lelaki berpenampilan preman itu dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


Apa dia mau mencuri motor ini? batin pria itu berpikiran negatif.


Wajar saja karena di daerah ini rawan pencurian motor, apalagi melihat penampilan Rayhan yang seperti preman.


“Di mana Carissa? Apa dia di dalam? Panggil dia keluar. Aku ingin bicara dengannya sekarang juga,” ucap Rayhan dengan suara tegas yang membuat lawan bicaranya merinding.

__ADS_1


“Aku tidak tahu ke mana gadis pemilik motor matic ini. Tadi dia sepertinya bertemu dengan beberapa pria lalu pergi bersama mereka.”


Rayhan kembali menautkan kedua alisnya membentuk busur panah. rasa-rasanya tak mungkin seorang Carissa keluar dengan seorang lelaki apalagi lebih dari satu. tiba-tiba perasaannya pun menjadi tak enak.


“Bagaimana ciri lelaki itu?”


“Beberapa pria berambut panjang dan kriwil, terdapat tato di lengan kanan kapak. mereka mengendarai motor merah sama dengan motor milikmu ini,” jelas pria paruh baya.


“Apa kau yakin mereka membawa gadis itu pergi dengan baik-baik?” pekik Rayhan.


“Ya, entahlah aku tak mengerti apa hubungan mereka. Zaman sekarang ini penampilan bisa menipu terlebih siapa saja bisa berteman dengan seseorang yang berbeda dari kelompoknya. Mereka mungkin saja berteman dengan baik.”


Rayhan sampai meremat tangannya mendengarkan penuturan pria paruh baya tersebut. Bahkan tatapan matanya pun kini semakin menakutkan, sedingin es di Kutub Antartika yang membekukan bagi siapa saja yang memandangnya.


Dari penuturan pria tadi ciri-ciri tersebut mengarah pada Geng Kapak Merah.


Tak banyak bicara lagi Rayhan langsung melompat ke motornya lalu melajunya dengan cepat. “Pasti tak salah lagi, itu perbuatan Geng Kapak Merah. Kenapa mereka menculik Carissa?” geramnya.


Rayhan mempercepat laju motornya agar segera tiba di markas geng tersebut.


Tak lama kemudian ia tiba di markas Geng Kapak Merah.


“Keluar kalian semua!” teriak Rayhan, dengan suara menggelegar seperti petir yang siap menyambar siapa saja yang lewat.

__ADS_1


__ADS_2