Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 9 Bantuan Rayhan


__ADS_3

Carissa mendelik saat Parjo menatapnya dengan mata membulat sempurna.


Seolah mata itu akan menelannya hidup-hidup. Bahkan biji mata itu terlihat hampir jatuh dari tempatnya. Jika saja Carissa membawa garpu, dia pasti akan menusuknya. Tapi lalu membuangnya ke tempat sampah.


“Jangan tarik motorku! Kau lihat sendiri bukan, motor ini bocor. Aku sedang mencari tambal ban di sini, tapi kau malah menggangguku,” tandas Carissa, mencoba untuk tidak takut dan tetap tenang.


Tetapi Parjo yang merupakan anggota geng Eagle Wave merasa tertampar oleh ucapan Carissa. Alhasil dua orang itu kemudian terlibat adu mulut.


Siapa sebenarnya yang sedang membuat gaduh di luar sana? batin Rayhan.


Sungguh pria itu merasa berisik dan itu cukup mengganggu konsentrasinya pada saat ini, yang sedang berpikir untuk kegiatan geng mereka.


Eagle Wave rutin mengadakan kegiatan 1 bulan sekali. Kegiatan itu bisa berupa touring, balapan atau kegiatan lainnya yang bisa dilakukan beramai-ramai. Dan akhir pekan ini waktunya mereka mengadakan kegiatan itu.


“Jika kau berani menyentuh motorku sedikit saja maka aku akan melaporkanmu pada polisi,” ancam Carissa.


“Kaucoba saja!”


Makin lama suara di luar sana makin berisik hingga membuat Rayhan sampai keluar dari markas.


“Parjo! Apa yang kaulakukan?!”


Sebenarnya Rayhan bukannya menghardik, tapi mendengar ucapannya saja, anggotanya itu segera panik.


Karena memang Bossnya itu cukup disegani dan ditakuti tak hanya oleh para anggotanya, tapi juga warga lainnya yang tinggal di sekitar sana.


“Ti-tidak, Boss. Hanya operasi seperti biasanya. Ini ada seorang gadis yang menantang dan aku hanya memberinya sedikit pelajaran saja,” terang Parjo,


Rayhan kemudian mendekat untuk melihat gadis berhijab itu.


“Kau... ?!” pekiknya, terkejut.


Kali ini dia mengingat sosok Carissa. Gadis yang sudah beradu mulut dengannya beberapa hari yang lalu di area sekitar kampus Bunga Bhakti.


Y**a tak salah lagi itu memang dia, yakinnya mantab.

__ADS_1


Astaga, kenapa aku bertemu dia lagi? Sungguh aku tak ingin cari masalah dengan siapapun ataupun dengannya hari ini, batinnya terkejut.


Carissa memegang puncak kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing tanpa sebab. masalahnya belum selesai kini tambah lagi kedatangan Rayhan.


“Apa Benar kau cari masalah dengan anggotaku?” tanya Rayhan, aktif.


Pagi-pagi begini di tak ingin ada masalah, apalagi dengan seorang gadis. Berhijab pula.


“Benar, aku ada masalah. Maksudku masalah dengan motorku. Kedua bannya bocor dan aku mencari tambal ban. Tapi anggotamu ini cari masalah denganku,” jelasnya, sembari menatap tajam Parto.


Rayhan kemudian beralih menatap motor Carissa. Dan benar saja bannya sobek. Gadis itu tak bohong padanya.


“Permisi.”


Carissa bermaksud kabur sebelum timbul masalah. Dia kembali menuntun motornya.


“Ugh, berat sekali. Ayolah, please help me,” desisnya.


Namun sedikitpun motornya tak bergeser.


Parjo sampai ketawa menatapnya.


“Sudah pergi sana kamu!”


“Ya, Boss.”


Pria berambut kriwil dan berkulit sawo matang itu segera menyingkir dari sana sebelum kena makian dan sejenisnya.


Kini hanya ada Rayhan dan Carissa saja. Ditatapnya gadis berhijab itu.


Peluh bercucuran dari dahi Carissa. Lumayan menguras tenaga rasanya. Namun ia paksakan untuk terus menuntun ngetiknya agar tak timbul masalah kembali dengan geng motor.


Baginya kemarahan ibunya lebih mengerikan daripada kemarahan geng motor. Jika ibunya yang marah, bisa saja dia tak akan mendapatkan uang saku bulanan. Dan tentunya itu sangat-sangat menjadi masalah baginya.


Karena banyak pengeluaran, apalagi di akhir semester. Sedangkan dia belum bekerja, jadi hanya mengandalkan uang saku dari ibunya.

__ADS_1


“Hey, berhenti!” ucap Rayhan, menatap lurus punggung Carissa.


Bukannya malah berhenti mendengar panggilan Rayhan, Carissa terus menuntun motornya meskipun hanya bergeser beberapa inci saja.


Kenapa dia tidak berhenti juga? Apa dia tuli atau pura-pura tuli? batin Rayhan geram.


Karena tak berhenti juga meskipun ia sudah memanggilnya kembali maka, Rayhan menarik bagian belakang motor Carissa.


“Lepaskan! Jangan ganggu aku, please! Aku sedang buru-buru. Ada sesuatu yang lebih penting setelah ini,” desisnya, sampai menoleh ke belakang.


Tatapannya lurus pada biji mata Rayhan yang tampak dingin dan datar.


“Baik, itu permintaanmu.”


Ia melepas pegangannya dari bagian belakang motor dan sontak saja, Carissa nyaris saja jatuh jika tak bisa menahannya.


Carissa mencoba untuk tetap tenang dengan perlakuan itu. Ia bahkan sampai memejamkan matanya beberapa detik untuk menahan rasa kesalnya.


Pria ini.... Batinnya sembari meremat tangan gemas bercampur kesal.


Rayhan sebenarnya juga menahan ketawa melihat sikap Carissa.


Kali ini dia kembali menarik bagian belakang motor Carissa dan membuatnya benar-benar berhenti.


“Apa lagi?!” ucap Carissa, mulai kesal.


“Minggir!”


Rayhan segera mengambil alih motor tersebut dan kini menuntunnya.


“Hey, kembalikan motorku! Kau mau apakan motorku?!”


“Diam! Kau akan tahu sendiri, nanti!” tukas Rayhan, dengan nada yang selalu tinggi meski tidak marah. Memang pembawaannya begitu.


Rayhan terus menuntun motor tersebut. Langkahnya panjang hingga membuat Carissa berjalan cepat setengah berlari untuk mengejarnya.

__ADS_1


Dan tak lama kemudian pria itu berhenti di depan sebuah tambal ban.


“Pak, tambal ban ini.”


__ADS_2