Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 21 Mencari Rumah Carissa


__ADS_3

Airin hafal betul dengan sikap temannya itu. Jika Carissa sampai dia juga nampak tegang saat dia bertanya Berarti ada sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang berbahaya bisa jadi.


“Sa, sebenarnya ada apa? Karena tak mungkin tiba-tiba kau tak mau mengerjakan tugas bersama tanpa alasan,” desak Airin.


Tak masuk akal rasanya jika Carissa yang semangat sekali mengerjakan skripsi agar cepat selesai tiba-tiba saja berhalangan hadir di rumah Airin.


Padahal mereka berdua berjanji akan menyelesaikan tugas skripsi mereka lebih cepat daripada mahasiswa lainnya di kelas.


“Sa, sebenarnya ada apa? Katakan saja padaku, ceritakan semuanya,” desak Airin lagi.


Carissa menoleh ke samping kiri menatap beasti-nya itu yang kini menunduk.


Hah! Carissa menarik nafas panjang sebelum bercerita. Baginya ia tak bisa bersembunyi dari Airin.


Percuma juga. temannya itu selalu bisa mengetahui jika dirinya sedang atau masalah atau menyembunyikan sesuatu darinya.


“Aku ada masalah Rin dengan geng motor. Tepatnya dengan ketuanya, Eagle Wave.”


Airin sampai tak bisa berkata-kata mendengar apa yang barusan diceritakan oleh Carissa. Mendengar nama game motor saja dia sudah merinding apa lagi ditambah kata Eagle Wave, yang membuat tengkuknya meremang. Takut.


“Bagaimana bisa kau ada masalah dengannya?” tegas Airin.


“Aku tidak ingat kapan tepatnya aku berhubungan dengan berandal sialan itu. Tapi setelah kejadian ramai beberapa waktu yang lalu aku sering bertemu dengannya. Beberapa kali dia juga menolongku tapi aku salah sudah percaya pada seorang berandal seperti dia. Parahnya aku menyetujui permintaannya tanpa berpikir panjang lebih dulu. Aku takut Rin, takut bertemu dia.”


Terlihat Carissa menurut menyesal dengan keputusan yang diambilnya tanpa pikir panjang.


Airin masih diam juga shock mendengar cerita Carissa. Dia mengingat kembali sosok ketua geng Eagle Wave.


“Sa, kau berurusan dengan ketua geng Eagle Wave?!” ia baru sadar dengan sosok Rayhan yang sangat ditakuti warga.


Dia ingat dengan jelas kejadian lama yang sudah berlalu. Jika Rayhan pernah berkelahi dengan salah satu tetangganya yang tak sengaja menabraknya. Tetangganya itu sampai patah tulang dibuatnya.

__ADS_1


“Ya, Rin.” Carissa malah ini terkejut karena melihat justru temannya itu kini merinding menatapnya.


“Lalu menurutmu sebaiknya apa yang harus kulakukan?”


“E-entahlah Sa, aku sendiri juga tidak tahu. Seharusnya kau tidak perlu berurusan dengannya.”


Pernyataan Airin bukannya membuat Carissa tenang, namun malah membuat gadis itu menjadi ketakutan sendiri.


***


Karena takut, Carissa selalu menghindari lewat jalan depan markas Eagle Wave. Bahkan semenjak kejadian itu Airin yang datang ke rumah Carissa. Demi ketenangan dan keselamatan Carissa.


“Ini es teh untuk Airin.” Ibunya Carissa membuat minuman segar untuk Carissa dan temannya itu.


“Terima kasih, Bu Shara,” balas Airin. Shara adalah nama ibunya Carissa.


Mereka berdua kemudian melanjutkan mengerjakan tugas mereka sembari menyeruput es teh dan berapa kali.


Di markas Eagle Wave


Beberapa hari yang lalu dia memimpin anggota Eagle Wave duel di dekat Danau Sentani dengan anggota geng Kapak Merah.


Urusan mereka yang tertunda karena amukan warga beberapa waktu yang lalu sudah mereka selesaikan dengan baik di sana. Geng Kapak Merah kalah di tangan Eagle Wave.


“Ck, dia benar-benar tak lewat sini rupanya. Baik jika begitu aku yang akan mendatangimu,” gumamnya dengan mengulas seringai. Mudah saja bagi Rayhan untuk mendapatkan informasi tentang siapa saja dan kapan saja dia mau.


“Deny, kemari sebentar!” panggilnya pada salah satu anggota.


Deny adalah wakilnya. semua urusan yang berhubungan dengan Rayhan jika dia tak ada diwakilkan pada Deny. Selain itu Deny juga menjadi tangan kanan Rayhan.


“Ya, Boss. Ada apa memanggilku?” tanyanya lagsung, setelah berada di depan Rayhan.

__ADS_1


Rayhan terlihat berbisik dan nampak serius entah apa yang dibicarakannya dengan tangan kanannya itu. Lima menit dia bicara dengan Deny dan barulah ia selesai.


“Baik, boss.”


Selesai bicara begitu, Deny segera keluar dari markas dan menjalankan tugasnya. Mudah saja bagi Deny menjalankan tugas dari Rayhan.


“Tumben sekali boss berurusan dengan seorang perempuan. Tak biasanya dia mau ketulusan dengan wanita,” gumam Deny di jalan.


Dia mendapat tugas dari Rayhan untuk mencari informasi mengenai Carissa. Di mana rumahnya, siapa orang tuanya.


Tentu untuk orang jalanan seperti mereka bukanlah hal yang sulit untuk mencari informasi simple seperti itu.


“Mungkin rumahnya di sekitar area sini jadi warga kemungkinan besar tahu tentang gadis itu.”


Deny menghentikan motornya di sebuah tempat. Ia lalu mencari seseorang yang bisa ditanyai.


Ada sebuah warung kelontong kecil di dekat motornya terparkir. Langsung saja dia masuk ke warung itu.


“Mau beli apa?” tanya pemilik warung kelontong dengan gemetar melihat seorang preman masuk ke warungnya. Takut warungnya akan dirampok atau sesuatu yang buruk lainnya.


“Aku tidak mau beli sesuatu di sini.”


“Lantas situ maunya apa?”


“Aku hanya ingin tahu di mana rumah gadis yang bernama Carissa dan kuliah di kampus Bunga Bhakti?” ucapnya tegas, dan menakutkan.


“C-Carissa putrinya Pak Sholeh?”


Deny mengangguk saja karena tak tahu nama orang tua Carissa.


“Rumahnya di sana.” pemilik warung kelontong menunjuk ke sebuah arah lalu menunjukkan arah tepatnya di mana rumah gadis itu.

__ADS_1


Deny kemudian keluar dari warung kelompok itu dengan mengulas seringai.


“Kenapa preman itu sampai mencari Carissa?” gumam pemilik warung kelontong heran.


__ADS_2