
Carissa diam dan bersiap menerima kemarahan anggota geng motor tersebut, atau boss mereka.
Saat Rayhan berhenti, semua anggota Eagle Wave ikut berhenti.
Rayhan turun dari motornya. Kali ini dia turun tangan sendiri. Sedangkan Carissa masih duduk di maticnya.
Sorot tajam mata Rayhan yang dingin seolah menghunus Carissa dan membuatnya semakin gemetar.
“Apa kau tak lihat kami sedang konvoi?” ucap Rayhan, menatap lurus tepat ke mata Carissa.
Carissa diam saja dan terus mendengarkan ucapan Rayhan berikutnya.
Pria ini benar pria yang ku temui beberapa waktu yang lalu dan juga menyelamatkan diriku, tapi kenapa kini dia berbeda dengan sebelumnya? Dan malah marah padaku? batin Carissa memberanikan diri menatap biji mata Rayhan.
“Lalu jika kalian konvoi, apa aku tak boleh lewat? Ini jalan umum dan aiapa saja boleh lewat sini. Lagi, aku juga terburu-buru,” jawabnya pelan namun tegas dan lugas.
Rayhan semakin mempertajam tatapannya, baru kali ini ada gadis berani yang dia temui seperti ini. Padahal biasanya, para gadis menatapnya saja tak berani apalagi sampai bicara padanya.
Meskipun sebenarnya Carissa takut, tapi dia tak menunjukkannya itu. Ia merasa dirinya sama sekali tak berbuat kesalahan.
“Kau... gadis berhijab, tahu apa kau tentang kami? Kau tahu siapa kami? Sepertinya kau tidak takut,” sahut Rayhan tak kalah tegas.
Pria itu diam lalu mengunci pandangannya pada gadis berhijab di depannya. Ia merasa seperti pernah melihat gadis ini tapi ia lupa di mana itu.
Apa aku pernah bertemu dengannya? batinnya, mencoba mengingat, namun tak berhasil me-recall ingatannya itu.
“Aku tidak tahu seperti apa aturan kalian. Tapi menurutku kalian juga sebenarnya melanggar aturan. Tur motor di dekat kampus seperti ini yang juga mengganggu aktivitas mahasiswa,” tukas Carissa.
Entah kenapa sisi dari dirinya tak terima saja dan ingin menegakkan peraturan yang berlaku.
“Mahasiswa beraktivitas di dalam gedung perkuliahan sedangkan kami di luar area kampus bagaimana bisa kami mengganggu?” bantah Rayhan.
Apa yang dia katakan memang benar adanya mereka tak bersinggungan secara langsung. Tapi sayang Rayhan tak tahu itu jika perbuatannya sangat mengganggu sekali aktivitas belajar mahasiswa. Atau sebenarnya dia yang tidak mau tahu saja?
__ADS_1
“Kau... benar-benar tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Eagle Wave bisa melakukan apa saja dengan satu perintah dariku,” ucap Rayhan ketus.
Ia heran saja gadis ini masih bisa menjawab semua ucapannya.
Sepertinya dia bukan gadis biasa, batin Rayhan menilai setiap kata yang diucapkan oleh Carissa sangat berbobot.
Tanpa Carissa ketahui dari balik tempat parkir percakapan mereka terdengar dengan jelas.
“Itu kan suara Carissa?” pekik seorang mahasiswi, dan juga merupakan teman sekelas Carissa langsung bisa mengenalinya meski tak melihatnya.
“Kau yakin?” tanya seorang pria nampak panik. Salah satu mahasiswa terlibat perkara dengan kelompok geng motor.
Akan panjang urusannya jika mereka harus berhadapan dengan geng motor yang tak mudah dihadapi.
Minimal mereka akan babak belur Selain itu mereka juga akan diincar di manapun mereka bertemu dengan geng motor tersebut.
Bisa saja mereka meminta sejumlah uang kepada mereka untuk selamat dan mereka dengan ancaman dari geng motor.
“Kita harus menolong Carissa, Boy. Jika tidak, dia akan dalam bahaya,” tukas Airin.
Pak Sarto merupakan petugas keamanan kampus. Jika ada masalah menyangkut keamanan maka pria itu akan turun tangan dan membantu sebisanya.
Langsung saja mereka berdua berlari dengan cepat menuju ke pos security.
Ada Pak Sarto dan Pak Dani yang saat ini berjaga di pos.
“Pak Sarto, tolong kami. Salah satu teman kami bertemu dengan geng motor di samping tempat parkir, dan sepertinya dia dalam masalah,” terang Airin, dengan panik.
“Apa? Ayo antarkan aku ke sana,” tukas Pak Sarto, merasa geram dengan tindakan para geng motor yang semakin meresahkan.
Padahal selama ini bahkan pihak kampus sudah memanggil apa rat polisi segala untuk mengatasi geng motor liar yang selama ini berkeliaran.
Mereka memang berhenti selama beberapa pekan setelah ada aksi penyisiran dari polisi tapi beberapa pekan kemudian mereka kembali lagi membikin masalah dan membuat gaduh di mana-mana.
__ADS_1
Di saat tiga orang tadi sudah keluar dari tempat parkir, mereka melihat Carissa tak hanya saja menghadapi satu orang pimpinan geng motor.
Tapi tiga anggota lainnya ikut maju untuk membantu Rayhan. Karena berpikir boss mereka itu tak bisa mengatasi seorang gadis, terlihat dari lambatnya pria itu mengambil tindakan.
“Beri saja dia pelajaran, Boss. Jangan pedulikan gender. Tebas saja,” ucap seorang anggota, memprovokasi, sembari melakukan gerakan menyayat dengan tangan pada lehernya sendiri.
Rayhan masih diam saja dan belum mengambil tindakan tegas. Meskipun penampilannya beranda namun ia masih punya hati nurani juga ada seorang wanita. Tak mungkin dia akan main kasar padanya.
“Gadis kurang ajar!” bukan Rayhan yang mengucapkannya melainkan anggotanya, yang ada di samping kirinya.
“Hentikan!” teriak Pak Sarto berlari cepat, menghampiri Carissa. Khawatir geng motor itu akan berbuat brutal pada mahasiswi tersebut.
“Carissa cepat kemari!” panggil Boy dan Airin bersamaan.
Carissa pun segera mundur dan berpindah ke sisi dua temannya memanggil.
“Satu petugas satpam menghadapi kami? Apa kau cari mati?” ucap salah satu anggota, dengan congkaknya.
Pak Sarto berupaya melakukan negosiasi agar tidak terjadi keributan namun ucapannya tak didengar dan malahan mereka bertindak brutal langsung.
Bugh! Beberapa anggota langsung memukul petugas security itu.
“Tidak, ini tak bisa dibiarkan,” ucap Carissa sampai meremas tangannya gemas. Ia tak terima melihat Pak sarto dipukul dan dianiaya seperti itu.
Carissa dengan cepat lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor polisi, memberitahukan jika ada kerusuhan di sana.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara sirine polisi dari kejauhan menuju ke lokasi.
“Argo, hentikan menghajar security itu. Dengar, sebentar lagi petugas polisi akan datang dan mengepung tempat ini,” ucap Rayhan, bisa mendengar dengan jelas suara hasilnya mobil polisi, yang di hafalnya.
“Kali ini kau selamat.”
Salah satu anggota lalu melepaskan Pak sarto dan mendorongnya dengan keras ke tanah.
__ADS_1
Setelahnya mereka segera bubar, sebelum polisi datang dan menangkap mereka semua.
I