
Karena Carissa tidak mendekat sesuai dengan perintah Rayhan, maka pria itu yang mendekat padanya.
“A-apa yang kau minta?” ucap Carissa bergetar, lalu mundur menjauh.
Dia merasa risih saja apabila ada seorang lelaki mendekatinya sedekat itu. Selain bukan muhrimnya, jujur ia sedikit deg-degan jika ada lelaki mendekati dirinya seperti itu.
Itu bukan pengecualian untuk Rayhan saja, tapi semua lelaki. Maka dari itu dia jarang punya teman dekat seorang lelaki. Jika pun punya itu bisa dihitung dengan jari.
“Bayar dua hutangmu sekarang,” ucapnya singkat, namun tegas.
Wajahnya terlihat datar, namun tatapannya tajam seperti biasanya. Kali ini Rayhan terlihat serius berkata demikian.
Dia butuh uang untuk biaya SPP Ameer yang nunggak dua bulan. Jika saja dia tidak babak belur di di massa warga, maka ia bisa keluar seperti biasanya untuk ikut balapan, main catur atau lainnya.
Tapi dirinya tak mungkin keluar rumah dengan kondisi seperti itu jadinya dia tak mendapatkan hasil apapun. Jadi sebagai gantinya dia minta pada Carissa, adil bukan?
“Tidak, aku tidak punya uang,” tolak Carissa tegas. Ia sendiri juga butuh uang saat ini untuk biaya skripsinya.
Rayhan tampak diam dan berpikir. Apa yang sekiranya pantas sebagai gantinya.
“Jika begitu setiap hari kau harus memberiku kue bikinanmu,” tuntut Rayhan.
“Apa?” Jika ia setiap hari harus memberikan kue pada Rayhan, bisa dibayangkan berapa yang harus dia keluarkan. “Tidak!!”
Gadis ini ternyata memang susah untuk diajak koordinasi. Apapun caranya, dia harus membayarnya padaku. batin Rayhan, kembali berpikir.
“Ini adalah pilihan terakhir. Tak ada pilihan lain lagi.”
Carissa sampai mengangkat dua alisnya, sekaligus berdebar. Apa yang sebenarnya diminta oleh si berandal ini.
“Kau harus....” Rayhan lalu membisikkan sisa kalimatnya hingga akhir.
Carissa hanya bisa menelan salivanya, mendengar permintaan si berandal Rayhan.
Sedangkan Rayhan hanya mengulas senyum tipis.
__ADS_1
“Ya, baiklah,” jawab Carissa pada akhirnya.
Tak lama setelahnya Rayhan membukakan jalan untuknya dan dia segera kabur secepatnya, menuju ke rumah.
***
“Kenapa jalanmu lemas begitu, Sa?” tanya ibu saat melihat Carissa masuk rumah.
“Tidak kenapa-napa, Bu,” balasnya, tanpa berhenti dan terus berjalan menuju ke kamar.
“Aneh sekali,” gumam ibu, sampai mengerutkan keningnya. Tak biasanya putrinya itu lemas setelah pulang dari kampus.
Di kamar, Carissa tetap bersandar ke dinding dengan lemas. Setelah perkataan Rayhan tadi.
“Bodohnya aku, kenapa aku tadi setuju saja pada permintaan si berandal Rayhan?!” rutuknya menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan ia berulang kali menepuk kepalanya atas kebodohannya.
Kebodohannya yang gampang sekali ditakuti oleh berandal Eagle Wave hingga ia tak berpikir dulu saat menjawabnya, atau mempertimbangkannya.
“Kau harus siap sedia membantuku apapun itu di saat aku butuh.”
“Oh, bodohnya aku. Jika dia minta semua uangku bagaimana? Atau minta aku menjadi anggota geng motor? Atau minta sesuatu yang lain? batinnya mulai frustasi dan kini sampai memukul kepalanya.
Keesokan harinya. Siang hari di Kampus.
Airin dan Carissa pulang bersama setelah pelajaran usai.
“Sa, sekarang saja ke rumahku untuk ngerjain tugasnya daripada nanti sore,” ucap Airin.
“Tidak!” Carissa langsung menolaknya dengan tegas saat itu juga.
“Kenapa? Bukankah tadi kamu bilang setuju?”
“Itu... tiba-tiba badanku meriang. Mungkin mau flu.” ungkapnya bohong. “Hachi...” bahkan ia pura-pura bersin segala untuk meyakinkan temannya itu.
Padahal sebenarnya dia takut saja bertemu dengan Rayhan. Takut jika berandal sialan itu meminta sesuatu padanya yang tak bisa dia berikan.
__ADS_1
“Flu mu parah. Ya sudah, besok saja kita kerjakan.”
Untungnya, Airin percaya dengan sandiwara Carissa.
Di markas Eagle Wave, terlihat saat ini Rayhan duduk di luar dan menatap jalanan. Ia perhatikan setiap motor yang lewat, terutama matic.
Di mana dia? Tak muncul hingga hari ini setelah kemarin? Ternyata dia penakut juga, ternyata dugaaku salah. batin Rayhan mencibir Carissa.
“Apa yang dilakukan boss di luar sana? Sedari tadi menatap motor yang lewat,” bisik seorang anggota Eagle Wave lirih.
Jika sampai percakapan mereka terdengar sampai ke telinga Rayhan tentu saja mereka akan mendapatkan hukuman dari pria itu karena berani membicarakannya di belakang dirinya.
“Entahlah, mungkin boss sedang melamun atau bisa jadi membuat agenda untuk kita semua,” tutur anggota lain menimpali.
“Hey, kalian berdua tidak sedang membicarakan aku, bukan?!” sentak Rayhan, tiba-tiba masuk.
Dia bosan memandang jalanan, terlebih para pengendara perempuan yang menaiki motor matic, hanya membuatnya kesal saja.
“T-tidak Boss, tentu saja kami tak berani membicarakan Boss. Kami hanya membahas rencana rahasia,” paparnya, bohong.
“Awas saja jika kalian berani membicarakan aku di belakangku. Kalian out dari Eagle Wave!”
Dua anggota Eagle Wave tadi langsung menunduk dan tak berani bicara lagi meskipun Rayhan sudah pergi.
***
Keesokan harinya, Rayhan yang berada di markas kembali duduk di teras sambil menatap jalanan. Biji matanya menyapu setiap motor matic yang lewat depan markasnya.
Ck, sepertinya Carissa tak berani lewat sini, batinnya kecut. Ternyata seorang gadis berhijab pun bisa ingkar dengan ucapannya sendiri. Tak ada yang bisa dijadikan pegangan sekarang ini, meskipun berhijab, belum tentu dia menjalankan semua ilmu yang sudah dipelajarinya dengan baik.
Hingga satu minggu lamanya Carissa tidak lewat sana, tentunya dia juga tidak pergi ke rumah Airin.
“Sa, kenapa selama satu minggu ini kamu tak mau ke rumahku untuk mengerjakan tugas?” tanya Airin di kelas.
Carissa tampak diam dan terlihat tegang.
__ADS_1