
Devi menatap Rayhan dan Carissa dengan mata memicing. Terbit rasa curiga dalam pikirannya tentang mereka berdua.
“Apa berandal itu ada hubungannya dengan Carissa?” gumamnya, “Menarik sekali.” lanjutnya tersenyum licik.
Entah apa yang ada di pikiran gadis itu. Setelah tersenyum aneh gadis itu segera pergi berlalu. Entah apa yang akan ia rencanakan pada Carissa, tak ada yang tahu.
“Pergi! Jangan ikuti aku lagi! Kau sudah cukup membuat hidupku tidak nyaman dan juga tidak tenang. Aku tak ingin kamu mah hidupku lebih kacau lagi!” Carissa menyentak.
Gadis itu segera naik ke motornya tanpa mempedulikan Rayhan lalu melaju motornya dengan cepat seperti biasanya untuk menjauh sejauh mungkin dari Rayhan.
“Gadis itu, kenapa dia seperti belut dan susah ditangkap?!” desau Rayhan.
Melihat Carissa yang sudah hilang dari pandangannya maka ia pun segera pergi dari sana.
***
Malam hari di rumah...
Carissa menatap ponsel di meja kamarnya. Tugas dari kampus sudah ia selesaikan 10 menit yang lalu. Kini perhatiannya tersita pada benda pipihnya itu.
“Apa saja persyaratan melamar sebagai sales kosmetik la jasmine?” Carissa segera membuka kembali ponselnya dan melihat lowongan pekerjaan yang tadi di fotonya.
Setelah membaca apa saja persyaratan yang harus dilampirkan untuk mengirim lamaran pekerjaan, Carissa tak main-main dan segera meraih laptopnya, mengetik lamaran kerja.
Masalah lamaran, dia bisa mengetiknya dengan cepat dan juga mendesainnya dengan cantik pula sebagai hasil dari nilai akademik komputernya yang A.
__ADS_1
Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit semua berkas lamaran dan persyaratan lainnya sudah ia lengkapi. Kini ya memasukkan semua berkasnya tadi dalam sebuah amplop coklat.
“Aku tinggal mengirimnya via pos saja daripada mengirimnya langsung ke alamatnya.” Carissa menaruh amplop tersebut di meja.
Setelah membereskan laptopnya, gadis itu berbaring di ranjangnya. Sebelum ia berlayar ke pulau kapuk nan indah permai, pikirannya kembali terlintas pada sosok Rayhan.
“Jika nanti aku diterima kerja aku bisa membayar hutangku padamu, agar kau menyingkir selamanya dariku.”
Tak lama setelahnya Carissa pun telah dalam tidur.
Di luar kamar nampak Pak Sholeh yang berhenti di depan pintu kamar Carissa yang terbuka.
“Apa dia lupa menutup pintunya?” Pak Sholeh melihat Carissa yang terbaring di tempat tidur dengan mata yang terpejam, namun pintu kamar belum ditutup.
“Amplop apa ini?” Ia langsung meraih amplop coklat tersebut dan membacanya.
Ternyata sebuah amplop lamaran kerja. Bisa dibaca dengan jelas alamat perusahaan yang dituju.
“Jadi yang diucapkannya beberapa waktu yang lalu itu benar?” Pak Sholeh sampai terkejut melihatnya.
Putrinya itu kini ternyata memang benar-benar sudah dewasa. Tapi sungguh, Sebenarnya dia tak menginginkan Carissa untuk bekerja lebih dulu sebelum memegang ijazah kelulusan.
“Aku harap kau tak diterima kerja di sana,” gumam Pak Sholeh menaruh kembali amplop tersebut ke meja.
Ia belum rela jika Carissa sampai diterima kerja. Pastinya putrinya itu akan sulit membagi waktu. Parahnya lagi jika itu sampai mengganggu kuliahnya yang hanya kurang beberapa bulan saja.
__ADS_1
“Kenapa kau tidak bisa bersabar sedikit saja?” Pak Sholeh kemudian keluar dari kamar Carissa setelah menatapnya untuk yang terakhir kalinya.
Keesokan paginya, Carissa membawa lamaran kerja tersebut dan menyelipkannya dalam tas agar siapapun tak ada yang melihatnya.
“Aku harus cepat berangkat sekarang.” Carissa segera duduk manis di motornya dan melenggang menuju ke Kampus Bunga Bhakti.
Baru saja ia berjalan di lorong menuju ke kelasnya. Banyak pasang mata yang menetapnya dengan tetapan aneh.
Kenapa mereka menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku? batin Carissa, kembali mendapatkan tatapan tak enak.
Bahkan ia melihat banyak mahasiswa yang melewati dirinya kemudian berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan.
“Ada apa sebenarnya ini?”
Setelah beberapa langkah Carissa pun menemukan jawabannya. Ia melihat foto yang ada di majalah dinding yang berada persis di samping pintu masuk kelasnya.
Di majalah dinding itu biasanya dipajang beberapa pengumuman penting, seperti program baru kampus, info beasiswa, daftar nilai UAS, juga jadwal kegiatan ekstrakurikuler atau artikel lainnya.
“Apa ini sebenarnya?!” Carissa gemas melihat foto yang terpampang di majalah dinding kali ini. Bukannya foto artikel penting ataupun foto kegiatan mahasiswa, atau informasi lainnya namun foto dirinya.
Tepatnya foto dirinya sedang bersama Rayhan dengan background warung makan tempat ia makan kemarin bersama Rayhan.
Darahnya semakin mendidih saat membaca judul artikel tersebut yang menyatakan jika dirinya punya hubungan khusus dengan preman.
“Apa-apaan ini?” Carissa sampai gemas sendiri melihatnya dengan meremat tangannya. “Siapa yang melakukan ini?”
__ADS_1