Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 33 Devi Tidak Mengakui


__ADS_3

Carissa menatap fotonya bersama Rayhan masih dengan tangan yang terkepal sempurna. Matanya pun masih membeliak menatapnya.


“Siapa yang sudah mengambil fotoku dan memasangnya di sini?” Dengan cepat ia pun mengambil foto yang dipasang pada majalah dinding tanpa kaca tersebut.


Carissa segera menarik foto tersebut lalu merobeknya dan membuang begitu saja ke tempat sampah yang ada di dekat pintu.


Di tiap pintu masuk setiap jurusan disediakan tempat sampah di dekat pintu, hal itu bertujuan untuk mempermudah mahasiswa yang ada di sana menemukan tempat sampah dan untuk menjaga kebersihan area kampus. Jika tempat bersih maka belajar pun akan nyaman.


“Biasanya yang suka jahil seperti ini padaku adalah Devi, tapi bagaimana dia bisa mendapatkan foto itu?” desau Carissa marah.


Ia kembali berpikir sembari masuk ke kelasnya, mengingat kejadian kemarin. Baginya tersangka utamanya tetap Devi. Setelah dipikir gadis itu juga sebelumnya bertemu dengan Rayhan. Malah ada masalah dengan berandal itu. Selain itu saat dirinya sedang ada masalah dengan dia, Rayhan datang membantunya.


“Ya, pasti Devi berpikir aku ada hubungan dengan berandal itu. Lantas buat apa dia sampai memanjangnya di majalah dinding segala? Apa maunya?” kesal Carissa.


Ia tak habis pikir kenapa Devi itu selalu saja mencari masalah dengannya setiap saat. Tak ada lelahnya.


Dari bangku belakang terlihat Devi sudah duduk manis di sana dan menatap punggung Carissa degan santainya.


Semua pasti sudah melihat sendiri fotomu dengan preman itu. Meskipun aku tidak yakin kalau ada hubungan dengannya. Tapi setidaknya Bayu akan melihatnya dan dia akan tahu jika kau sudah punya kekasih, Carissa, batin Devi dengan mengulas senyum tipis.


Beberapa mahasiswa lain yang masuk ke kelas menatap sinis pada Carissa.

__ADS_1


“Kukira kau gadis alim, tapi ternyata munafik. Kau di belakang menjalin hubungan dengan preman,” ucap seorang mahasiswi berhenti di depan bangku Carissa.


“Apa maksudmu?” Carissa menatap tajam temannya itu.


“Hey, sudah cepat duduk saja,” bisik mahasiswi lain pada temannya tadi. Sehingga tak ada lanjutan pembicaraan lagi dengan Carissa.


Ada lagi mahasiswa lain yang datang dan masuk ke kelas. Tatapan mata mereka langsung tertuju pada Carissa. Namun mereka hanya berbisik saja dan setelahnya tersenyum.


“Sa, sebenarnya kenapa mereka pada melihatmu?” tanya Boy, penasaran. Ia baru datang dan duduk di samping Airin, tak melihat foto Carissa di MaDing. Wajar jika dia bingung dan tak tahu duduk permasalahannya.


Carissa diam tak merespon. Bukannya dia tak mau membahas itu, tapi dia masih kesal saja. Ingin rasanya dia membuat pengumuman saja agar semuanya tahu jika foto dirinya dengan rayhan hanyalah fitnah belaka. Tapi apa juga untungnya jika dia jelaskan itu semua? Mungkin tak ada gunanya dan tetap tak akan merubah pandangan buruk mereka pada dirinya.


“Itu Fitnah. Siapa yang mau menjalin hubungan dengan berandal seperti itu? Tapi sudahlah tak perlu dibahas lagi, terserah saja orang bilang mau apa,” tutur Carissa tampak sudah adem dan tenang.


Bayu, yang memang ada rasa pada Carissa dan menunggu waktu pas untuk mengungkapkannya, bernapas lega setelah mendengarnya.


Huh! Aku rasa Bayu sudah mengetahuinya dan pasti pria itu salah paham. Semoga saja percaya dengan penuturan camar itu, batin Devi yang sedari tadi tak bisa melepaskan pandangannya dari Carissa, terlebih di sana ada Bayu sekarang.


Devi sudah lama memendam rasanya pada Bayu, tapi pria itu tak pernah mengetahui perasaannya sejak semester 3 dulu. Bahkan ia dengan kedua telinganya sendiri mendengar pria itu pernah bercerita pada mahasiswa lainnya jika dia menyukai Carissa.


Apapun akan dia lakukan supaya Citra Carissa buruk di mata Bayu.

__ADS_1


“Jadi begitu masalahmu. Pasti si Devi yang melakukan itu padamu,” ungkap Boy, setelah Bayu pergi dan mengetahui semuanya.


“Tak ada bukti, jadi aku tak berani menuduh sembarangan. Bukankah itu sama artinya dengan memfitnah seperti yang dilakukan padaku ini?”


Boy hanya diam tak merespon lagi. Dari sekian mahasiswi yang pernah dia temui memang Carissa masuk dalam hitungan gadis tersabar. Sampai detik ini pun Carissa selalu tahan menerima bully-an dari yang lain.


“Baik, kita mulai pelajarannya sekarang.” Dosen pengajar tiba-tiba datang dan membuat semua mahasiswa terdiam kala itu.


***


Siang hari di toilet, Carissa sedang mencuci wajahnya di salah satu wastafel. Tiba-tiba Devi datang dan masuk.


“Hey, aku sungguh tak menyangka sama sekali ternyata kamu ada hubungan dengan preman itu,” ucapnya menyindir.


Carissa segera menyudahi mencuci mukanya demi beralih menatap Devi.


“Jadi kau yang memasang foto itu di MaDing?”


Devi tidak membalas dan segera masuk ke toilet, mengulas senyum licik yang tak dilihat oleh Carissa.


Kesbaran itu ada batasnya. Tapi sesabar-sabarnya semut pun, akan menggigit jika merasakan sakit, batin Carissa meremat tangannya, kala Devi sudah hilang dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2