
“Carissa kenapa kau lama sekali baru kembali?” tanya Ibu, setelah gadis itu sampai di rumah.
Ibunya itu memang sudah menunggunya sedari tadi. Biasanya hanya perlu waktu 30 menit saja untuk belanja. Tapi kali ini hampir 2 jam, Carissa baru kembali.
“Maaf, Ibu. tadi di jalan ban motor sobek luar-dalam, jadi perlu waktu untuk mengganti ban belakang dan depan,” tutur Carissa dengan hati-hati.
Ibunya itu, sebut saja Nyonya Khatidja adalah seorang wanita berkarakter tegas, lugas dan mengedepankan kejujuran. Ia tak suka dibohongi. Jangan harap jika ketahuan bohong padanya, wanita itu akan bersikap lunak.
Ayahnya Carissa saja yang pernah pulang terlambat dan berbohong pada ibunya, tak dapat jatah makan sore dan makan malam.
“Kau tidak bohong, bukan?” selidiknya, dengan biji mata membulat memindai putrinya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
Carissa langsung menggeleng dengan cepat untuk meresponnya.
“Pasti habis banyak. Lalu kau pakai semua uang belanja untuk membayarnya?” imbuh Nyonya Shara. Namun Carissa kembali menggeleng dengan cepat.
“Ini, semua pesanan belanjaan Ibu ada di sini dan komplit,” Carissa menyerahkan kantong plastik berwarna hitam yang di dindingnya dari tadi.
Ibunya Carissa menerima kantong plastik tersebut. Bahkan ia mengeluarkan semua isi kantong plastik untuk mengecek apakah ada belanjaannya yang kurang.
Wanita itu memang teliti, bahkan jarum hilang satu pun dia bisa tahu. Sungguh jeli dan teliti sekali.
Semua sayur dan keperluan lainnya lengkap sesuai dengan catatan yang ia bawakan pada Carissa tadi, tak ada satu pun yang terlewatkan.
“Lalu, bagaimana kau membayarnya?” tanyanya langsung.
“Aku ngutang Bu, pada Bapak penambal ban tadi,” tandasnya, lebih baik jujur dan kena marah daripada dituduh bohong.
Hais!
“Kau ini masih kecil tapi sudah belajar ngutang. Itu tidak baik!” Carissa sampai mendelik takut mendengar ucapan ibunya.
“Aku tidak bawa uang, Bu. kalaupun ada jumlahnya kurang,”
__ADS_1
Hiss! Nyonya Shara kembali mendesis.
“Beri tahu Ibu di mana Bapak penambal ban yang kau maksud itu? Berikan alamat yang jelas nanti Ibu akan ke sana, tapi menunggu ayahmu datang dulu,” cerocosnya.
Ibu memang perhitungan. Saking perhitungannya, ia akan minta ganti pada ayah.
Carissa lalu memberitahukan alamat si Bapak penambal ban tadi pada ibunya.
“Ya sudah sana, cepat belajar,” tukasnya lagi.
Carissa hanya mengangguk lalu berlari masuk ke kamar sebelum ibunya itu berubah pikiran padanya.
“Untung, Ibu tak marah padaku,” lirih Carissa di kamar dengan menghembuskan nafas panjang. Lega.
***
Beberapa hari setelahnya, Carissa tak sengaja lewat depan markas Eagle Wave lagi. Kali ini dia bukan pergi belanja seperti sebelumnya, tapi pergi ke rumah Airin.
Ya, Airin teman sebangku Carissa, juga bestie nya. Rumahnya ada di daerah sana.
Ia bahkan sampai menahan nafasnya ketika melewati markas tersebut dan tak berani menoleh ke kanan sedikitpun untuk melihatnya, khawatir pria akan bertemu dengan berandal yang belum diketahui namanya itu.
Bukan takut karena ada masalah tapi takut karena belum bisa membayar hutang padanya. Secara, ia masih mengumpulkan banyak uang untuk tugas skripsinya yang membutuhkan banyak biaya.
Prit! Tiba-tiba terdengar suara peluit yang jadi berulang kali.
Carissa mengabaikan suara peluit tersebut dan terus melaju motornya.
“Hey, berhenti kau!” hardik seorang pria, salah satu anggota Eagle Wave.
Namun Carissa tetap melaju, tak menghiraukan panggilan yang entah ditujukan untuk siapa tapi feelingnya itu untuk dirinya.
Aku tak ingin berurusan dengan mereka para anggota geng motor, batinnya memejamkan mata sepersekian detik.
__ADS_1
Tepat di saat dia membuka mata, dia pun sampai terhenyak kaget. Rayhan tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
Ciit! Langsung saja Carissa mengerem mendadak, hingga motornya itu berhenti tepat di depan Rayhan. Kurang sedikit saja atau telat mengerem pria itu pasti sudah ditabraknya.
Haaah! Carissa menghela nafas panjang. Jujur saja, jantungnya masih badannya tak berirama seakan mau copot saja dibuatnya.
“Kenapa menghentikanku dengan cara mendadak seperti ini. Apa tak ada cara lain yang normal?” desaunya, menatap geram Rayhan.
“Kau ingkar janji. Sampai sore aku menunggumu kau tak juga membayar hutangmu padaku. Sekarang aku tak akan melepaskanmu lagi. Bayar atau kau tak boleh lewat,” ucapnya tegas, lugas dan langsung mengena.
“A-aku masih ada urusan, tolong beri aku jalan,”
Carissa sudah berjanji akan menemui Airin untuk mengerjakan tugas bersama, tugas skripsi. Mereka akan mencari sampel untuk penelitian mereka.
“Itu yang kau bilang padaku tempo hari, dan aku tak akan tertipu untuk kedua kalinya,” tandas Rayhan, mengena.
Karena tak biasanya gadis berhijab itu berbohong. Semua ucapannya bisa dipegang dan dibuktikan tapi nyatanya, tidak dengan Carissa.
Bahkan dia pun sampai mempertanyakannya, apa benar Carissa itu seorang muslimah?
“Tidak, bayar dulu!”
Grrr! Carissa merasa geram sekali, ingin rasanya menabrak Rayhan saja.
“Kenapa aku harus bayar padamu?! Itu artinya aku harus bayar double,” kilahnya, tak terima.
“Bayar dobel?!”
Rayhan menautkan kedua alisnya. Padanya saja Carissa belum membayar mana mungkin dia membayar pada penambal ban?
“Ibuku sudah membayar Bapak penambal ban hari itu juga. Jadi sudah tak ada yang perlu ku bayar lagi, permisi!”
Carissa membelokkan sedikit motornya ke samping Rayhan kemudian segera melajukan motornya dengan cepat.
__ADS_1
“Ck! Berani sekali dia. Baru kali ini aku bertemu dengan gadis aneh seperti itu,” cerocos Rayhan, berbalik dan hanya bisa menatap punggung Carissa saja.