
Carissa menahan rasa kesalnya pada Devi hingga siang hari. Namun ia sudah tak memikirkan itu lagi agar tidak mengotori hatinya.
Pikirannya pun kini teralihkan pada lamaran pekerjaan yang semalam dibuatnya. Ia berencana untuk mengirim lamaran tersebut secepatnya. Karena penutupan terakhir lowongan tersebut dua hari lagi. Dan itu artinya ia harus cepat mengirimkannya jika tak ingin lamarannya ditolak.
“Sa, kamu mau pergi ke mana buru-buru begitu?” tanya Airin, di tempat parkir menghentikan langkah.
“Ini Rin, aku mau mengirim lamaran ini dulu, bye. Maaf aku buru-buru,” sahut Carissa menunjukkan amplop coklat di tasnya lalu kembali menuntun motornya keluar tempat parkir.
Biasanya dia akan berhenti dulu untuk mengobrol dengan Airin jika bertemu di mana pun. Tapi kali ini dia tak berhenti. Selain dia harus buru-buru mengirimkan lamaran pekerjaannya, tadi ibunya juga nitip untuk dibelikan asam jawa di pasar.
Asam jawa yang biasa dipakai ibu untuk membuat rujak habis. Terpaksa ia mau di suruh ibunya itu karena jika tidak dibelikannya sama artinya dia tidak akan makan siang.
Ibunya itu memang asli keturunan Jawa, dari Magelang. Tapi besar dan menetap di Jakarta. Namun masakan Jawa ajaran dari nenek tak pernah dilupakan oleh Nyonya Shara. Bahkan Pak Sholeh pun sangat menyukai masakan ala Jawa buatan istrinya itu.
“Aku ke jasa pos terdekat sini sajalah daripada memutar lagi.” Carissa berhenti di depan sebuah ekspedisi.
Menurutnya sama saja jenis ekspedisi itu, meskipun biasanya dia memakai ekspedisi lain.
“Pak, tolong kirim degan one day service.” Carissa menyerahkan amplop lamaran tadi pada petugas ekspedisi.
“Baik, Non. Hari ini juga surat ini akan dikirim ke tempatnya.”
“Terima kasih.”
__ADS_1
Carissa kemudian segera pergi dari jasa ekspedisi itu dan kembali naik ke motornya menuju ke pasar yang berada tak jauh dari ekspedisi itu berada.
Hanya tiga menit saja, ia tiba di pasar tradisional tersebut.
“Mbak, beli asamnya berapa?” sapa penjual, seorang ibu setengah baya.
Wanita itu hafal dengan Carissa karena saking kerapnya gadis itu beli di sana. Satu lagi, penjual itu juga berasal dari Jawa makanya memanggil Carissa dengan sebutan 'mbak'.
“Tiga kandil saja, Bu.”
“Apa tidak kurang, Mbak?”
“Tidak, Bu. Itu sudah banyak,” timpal Carissa sembari menggeleng. Ia tak berani menambah jumlah pesanannya, atau ibunya akan marah.
Ibunya Carissa itu tidak bisa diganggu gugat soal pendapat atau pesanan. Pernah dulu Carissa diminta beli buah apel 2 kilo saja, tapi Carissa beli 3 kilo. Bukannya wanita itu senang, malah marah dan membuat dirinya harus membayar apel yang kelebihan sekilo.
Setelah membayar tiga kandil asam, Carissa segera pulang.
“Hah! Leganya, semua sudah terlaksanakan,” gumamnya saat berkendara. Namun tiba-tiba dia terkejut saat melirik spion mobilnya.
Ada bayangan motor merah sekelebat dan tiba-tiba hilang. Seketika ia pun mempercepat motornya, khawatir jika itu adalah motor Rayhan.
“Ck! Bagaimana bisa dia mengikutiku sampai kemari? Apa dia memasang chip atau mata-mata seperti yang ada di film-film untuk memantauku?” desau Carissa, merasa lega.
__ADS_1
Namun rasa lega itu terkikis terdengar suara dari motor menuju arahnya. Begitu cepat meluncur dan kini sudah ada di samping Carissa.
“Hey, kau jadi aku tidak salah mengingatmu.” Seorang pria mengurai senyum seringai pada Carissa. Pria itu bukan Rayhan, tapi pria asing yang tak dikenalnya.
Siapa dia? Kukira si berandal Rayhan itu, ternyata bukan.
Carissa sampai menautkan kedua alisnya membentuk busur panah, karena memang tak mengenal pria asing tersebut tapi dari penampilannya bisa pastikan pria itu juga merupakan anggota geng motor.
“Maaf, aku tidak mengenalmu dan tak ada urusan denganmu,” kata Carissa singkat.
“Kau sebelumnya tidak pernah berurusan denganku tapi kau sebelumnya berurusan dengan boss kami dan menyebabkannya ditahan oleh Polisi beberapa waktu lalu. Maka, masalah boss adalah masalahku juga,” terangnya dengan mata berkilat-kilat.
Carissa sendiri masih bingung dan tidak paham apa yang dibicarakan oleh pria itu. Apalagi boss yang dimaksud oleh pria tersebut. Perlahan ia mencoba mengingatnya kembali.
“Geng Kapak Merah?” celetuk Carissa, setelah melihat motor yang ditunggangi pria itu sama dengan motor milik Eagle Wave.
Lagi, dia mengingat nama geng tersebut karena Rayhan sempat menyebutkan nama itu, hingga dia mengingatnya. Barulah dia ingat setelah pria itu mengangguk padanya.
“Bukan aku yang membuat boss kalian ditangkap oleh Polisi. Aku sama sekarang tidak memanggil polisi,” terang Carissa.
Pria itu bukannya menangkap maksud Carissa. Kini malah pria itu menyalip motor Carissa kemudian memaksanya berhenti.
“A-apa yang akan kau lakukan padaku?” pekik Carissa mulai takut.
__ADS_1
“Aku akan membawamu ke markas kami sebagai balasannya.”
“Tidak! Lepaskan aku! Jangan bawa aku. Aku tidak ada kaitannya sama sekali dengan Boss mu.” Carissa berontak saat pria itu mencengkram lengannya dengan erat.