Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 6 Berpapasan Lagi


__ADS_3

Keesokan harinya Rayhan bersama anggota geng Eagle Wave mengadakan acara rutin. Tour kecil-kecilan dengan motor sport berkeliling, sekedar untuk memanasi mesin motor saja.


Semua anggota geng sudah berkumpul di depan markas dan duduk di motor masing-masing, bersiap untuk menunggu perintah Boss mereka.


Namun sudah 30 menit mereka berada di depan markas, namun sang Boss belum memberinya perintah.


“Boss, kita tour ke mana?” ucap Ujang, salah satu anggota geng memberanikan diri untuk bertanya.


“Rute biasa saja,” sahutnya singkat.


Sepertinya Boss sedang tidak mood saat ini. Kenapa ya? Padahal kemarin dia menang balapan. batin Ujang, lagsung bungkam tak berani bertanya lagi.


Anggota lain pun ikut bungkam, tak berani bertanya melihat reaksi bossnya seperti itu.


Rayhan memang tidak mood. Dia masih kesal dengan perkataan ibunya kemarin, yang memintanya untuk bekerja saja.


Dia pun melaju motornya dengan tatapan dingin.


Anggota geng Eagle Wave segera bergerak tiga menit kemudian ke rute yang disebutkan oleh Rayhan.


Mereka biasa melewati rute pendek di sekitar area Kampus Bunga Bhakti. Tidak setiap hari mereka mengadakan tugas saya tapi hanya beberapa kali saja dalam seminggu. Bisa sekali, dua kali. Terkadang mereka juga mengadakan tur ke rute lainnya.


Beberapa saat setelahnya suara riuh mesin motor menderu terdengar di sekitar Kampus Bunga Bhakti.


Tiga puluh anggota Eagle Wave melintasi area dekat tempat parkir kampus. Tidak semua anggota ikut tur saat ini, separuh anggota ada di markas dan stand by di sana.

__ADS_1


“Aduh, gendang telingaku rasanya seperti dipukul alat berat. Konvoi liar motor sport ini, sungguh mengganggu sekali!” keluh seorang mahasiswa, kesal. Sampai menutup telinganya.


Mahasiswa lain yang juga memarkir motornya di sana, sampai naik ke atas motor untuk melihat ke arah luar.


Dinding tempat pa


“Woy! Geng motor sialan! Kalian pagi-pagi sudah bikin berisik. Pergi kalian dari sini!” hardiknya dengan kesal.


Salah satu anggota geng motor Eagle Wave yang ada di dekat tempat parkir mendengar apa yang diucapkan pria tadi meski suara deru motor terdengar bising.


“Hei! Berani kau cari masalah dengan kami. Kalau berani, keluar kau dari sana dan hadapi kami!” bentaknya tegas dengan mata melotot.


“Siapa takut?!”


“Juna! Hei, jangan terpancing oleh mereka atau kau akan kena masalah dan mungkin saja diskors dari kampus,” ucap seorang mahasiswa lain yang ada di tempat parkir dan melihat itu, mencoba menahannya.


Benar juga apa yang barusan diucapkan oleh Edi itu. Aku Sudah semester akhir jika membuat masalah Mungkin saja akan kena D.O, batinnya mempertimbangkan.


Juna lalu segera turun dengan melompat dari motor.


“Jaga emosimu, jangan sampai kau ladeni mereka. Gunakan otak, jangan otot seperti mereka, kita ini mahasiswa berpendidikan.” jelas Edi lagi, untuk meyakinkan temannya.


Juna mengangguk saja meresponnya, malahan ia berjalan cepat keluar dari tempat parkir menuju ke kelasnya daripada semakin emosi.


“Dasar mahasiswa bodoh dan penakut. Ternyata tak punya nyali sedikitpun. Gitu tadi mentang-mentang.” gerutu salah satu anggota Eagle Wave.

__ADS_1


Ia tersenyum miring kita mencibir ke arah tempat parkir di mana pernyataan ini tiba-tiba hilang begitu saja tanpa suara.


Dari arah perlawanan terlihat Carissa datang mengendarai maticnya. Dari jarak radius empat meter, dia bisa melihat dengan jelas saat itu ada konvoi motor sport di depannya.


“Aduh, pagi-pagi begini sudah ada geng motor yang lewat sini. Mereka ini kurang kerjaan sekali,” gerutunya kesal.


Carissa terus melaju dan dia mengambil jalan lajur kiri juga menepi agar ada jarak jika dia melintasi konvoi geng motor tadi.


Mereka pun kemudian berpapasan di jarak tiga meter. Carissa dengan tenang melaju motornya. Bukan pertama kali ini dia berpapasan dengan geng motor seperti itu, jadi dia sudah biasa. Apalagi hampir empat tahun mengenyam pendidikan di Kampus Bunga Bhakti ini, bertemu banyak geng motor dari berbagai kelompok sampai ia mengetahui beberapa nama dari kelompok tersebut.


“Minggir! Atau berhenti! Apa tidak tahu kami sedang tur?!” ucap salah satu anggota geng motor, menatap tajam ke arah Carissa.


Kenapa mereka menghargai Kau seperti ini. Apa mereka pikir ini jalan mereka? Jadi tak ada orang yang boleh lewat di sini selain mereka? batin Carissa dongkol.


Baginya semua geng motor mempunyai kesamaan sikap. Egois dan suka menang sendiri.


Carissa terus berjalan dan tak berhenti meskipun mendapat teguran seperti itu. Menurutnya dia tidak salah dan dia juga punya hak lewat jalan yang sama dengan mereka.


Kedua pihak tak mau mengalah. Saat itu Rayhan ada di barisan depan dan memimpin tur.


“Berhenti!!” teriaknya lantang, saat motornya tinggal beberapa senti saja sudah akan menyenggol motor Carissa.


Tak hanya anggota geng motornya yang berhenti namun sampai Carissa pun saat itu ikut berhenti.


“Suaranya menakutkan sekali,” racaunya sedikit gemetar.

__ADS_1


Baru kali ini, dia takut mendengar suara dari seorang anggota geng motor.


__ADS_2