Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 12. Menghindar Dari Rayhan


__ADS_3

Setelah mengebut akhirnya Carissa tiba di rumah Airin. Rumahnya berada setengah kilo dari markas Eagle Wave.


Tapi sebelumnya dia tidak perhatian pada jalanan di sana dan baru mengetahui itu adalah markas geng motor setelah beberapa waktu lalu bersitegang dengan Rayhan.


“Huft! Sampai juga, akhirnya,” hela Carissa lega, sekaligus bisa terbebas dari Rayhan.


Carissa lalu membunyikan klakson motor 3 kali, yang membuat Airin keluar dari rumah.


“Kukira siapa, ternyata kamu Carissa,” celotehnya, nampak kecewa.


Airin sebenarnya menunggu layanan antar go food untuk makan siangnya nanti, karena ibunya sedang ada acara di rumah saudara jadi tidak masak hari ini.


“Apa kau tidak menungguku?” celetuknya, sepertinya temannya itu tak mengharapkan kehadirannya. Padahal mereka sudah janjian sehari sebelumnya.


Airin masih memonyongkan bibirnya beberapa senti ke depan menatap Carissa. Rencananya, menu makan siangnya itu ia makan sekarang saja, karena tiba-tiba lapar.


“Bukan begitu, aku lapar,” timpal Airin, mencubit pipi Carissa. “Ayo, masuk.”


Carissa masuk lalu duduk. Ia segera mengeluarkan bukunya sebelum mulai mengerjakan mencari sampel untuk tugas skripsinya.


“Kenapa kau lemas begitu?” tanyanya, menatap Airin yang memegang perut serta tak bergairah.


“Lapar.”


“Kau belum sarapan?”


“Sudah Sa, tapi entah kenapa perutku masih kurang penuh rasanya, tadi pagi aku hanya makan mie instan.” Carissa sampai berdecak meresponnya. Dikiranya ada masalah apa ternyata hanya masalah perut.


“Tenang,” Carissa langsung mengeluarkan beberapa kue kering yang di bawanya.


Lumayan bisa digunakan untuk mengganjal perut sementara.


“Lanjut, lalu tugas kita gimana?” tanya Airin yang kembali fresh setelah menghabiskan satu bungkus roti kering.


“Ini semua catatan yang bisa kita gunakan untuk mencari sampel,” ujarnya, menyodorkan buku catatan.

__ADS_1


Carissa tergolong rajin, juga cepat dalam berpikir taktis. Dia sudah menyiapkan semua yang diperlukan untuk keperluannya agar memudahkan dalam mengerjakannya.


“Kau selalu dua langkah di depanku,” decak Airin, tersenyum tipis. Ia terbantu dengan kerajinan Carissa.


***


Sore hari, Carissa baru pulang dari rumah Airin setelah selesai mengerjakan tugas mengambil sampel bersama.


“Aku tidak mau pulang lewat markas Eagle Wave,” lirih Carissa.


Ia pun terpaksa memutar Jalan demi tidak melewati markas tersebut juga agar tidak bertemu dengan Rayhan, yang mungkin saja akan tetap menagih hutang padanya.


“Ups, aku sampai lupa belum shalat ashar,” pekiknya baru tersadar.


Tadi di rumah Airin banyak yang harus dia selesaikan sampai ia lupa untuk mengerjakannya dan berniat akan melakukannya di rumah saja.


Namun saat melihat jam yang melingkar di tangannya yang menunjukkan waktu ashar hampir habis, akibat lewat jalan memutar yang menambah waktu semakin lama akhirnya dia putuskan untuk shalat di masjid terdekat saja.


“Ternyata ada masjid di depan sana,” pekiknya, menatap kubah tinggi di ujung jalan.


Masjid sepi, hanya ada dirinya seorang. Dan segera ia tunaikan tugasnya setelah menemukan mukena yang langsung ia pakai.


Ciiit! Seseorang tiba-tiba menghentikan motornya secara mendadak setelah melihat motor Carissa.


“Itu kan motor gadis berhijab itu,” pungkas seorang pria yang tak lain adalah Rayhan.


Rayhan pulang dari markas menuju ke rumah. Tak sengaja ia melihat motor matic yang tak asing baginya dan mudah diingat, karena ada stiker kelinci besar di motor itu.


Kelinci memang favorit Carissa, karena imut dan menggemaskan menurutnya maka ia menempel di motornya dengan stiker kelinci besar, agar mudah ia menemukannya meski dari kejauhan.


“Ya, benar itu motornya. Bannya masih baru,” lirihnya, memastikan kembali sampai melihat ban belakangnya segala.


“Lalu di mana dia?”


Manik mata Rayhan menyapu ke seisi masjid. Dan menemukan sesosok gadis yang mengenakan mukena sedang melaksanakan ibadah sholat ashar.

__ADS_1


“Pembohong begitu, kenapa dia sholat? Apa tak sia-sia ibadahnya itu,” cerocosnya, menghakimi tanpa dosa.


Rayhan yang berada di samping Masjid, mengunci pandangannya pada sosok Carissa. Pikiran negatifnya udara tatkala melihat gadis itu mengangkat kedua tangannya.


Terlihat Carissa berdoa dengan khusyuk. Bahkan hatinya berdesir, tatkala mendengar lantunan doa yang di ucapkan Carissa.


“Oh, dia keluar,” pekiknya.


Rayhan langsung saja mengalihkan pandangan. Tepat di saat dia akan pergi, Carissa keluar dari masjid.


“Semoga saja itu bukan seseorang yang akan mencuri motorku,” lirihnya, khawatir.


Karena beberapa waktu yang lalu tetangganya sempat kehilangan motor juga saat sholat di masjid.


“Hey, kau mau apakan motorku?!” hardiknya, sembari berlari saat melihat pria yang ada di samping motornya mengunci pandangan pada motornya.


“Kau lagi....” decihnya, setelah melihat dengan jelas pria yang berdiri di depannya adalah Rayhan.


Apa dia sampai mau mengambil motorku karena aku belum bayar hutang padanya?


“Mali--” sontak saja Rayhan turun dari motornya dan langsung membekap bibir Carissa, sebelum Carissa meneriaki dirinya maling dan warga akan datang lalu bertindak.


Hmmf! Carissa berontak, sembari menarik tangan Rayhan dari bibirnya.


“Mulutmu kotor. sembarangan menuduh orang. Aku baru akan melepasnya jika kau berjanji tak akan berteriak maling,” ucap Rayhan pelan, tapi sangat mengena.


Hmf! Carissa mengangguk sembari menarik tangan Rayhan. Dan pria itu pun akhirnya melepaskannya.


Hah! Berandal ini. Aku sudah menghindar sampai memutar Jalan agar tidak bertemu dengannya Tapi tetap saja bertemu di sini. Menyebalkan sekali, geramnya dalam hati.


“Menjauh dariku! Atau aku akan berteriak!” hardiknya, balas mengancam.


Kali ini Rayhan mundur.


Carissa memanfaatkan pohon itu dengan baik. Ia segera duduk di motornya dan melajukan motornya dengan cepat kabur dari Rayhan.

__ADS_1


“Sebelumya dia mencaci geng motor tapi dia sendiri ngebut begitu!” rutuk Rayhan, hanya bisa menatap punggung Carissa.


__ADS_2