Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 27 Hutang Lagi


__ADS_3

Dari kejauhan terdengar suara deru motor nyaring, menunju ke arah Carissa dan Devi saat ini berada.


Motor itu kemudian berhenti di dekat Carissa. Motor itu memang motor Rayhan. Pria itu tak sengaja lewat samping Kampus Bunga Bhakti.


Bukan sengaja dia ke sana untuk mencari Carissa. Tapi dia baru saja mengejar geng motor lainnya yang menantangnya.


“Berhenti kubilang!” sentak Rayhan.


Ia berjalan dengan cepat menghampiri Devi. Saat itu Devi yang dikuasai oleh amarah tak menghiraukan sama sekali teriakan dari Rayhan.


Phak! Bukan suara Devi yang mendaratkan tangannya di pipi Carissa. Tapi suara tangan Rayhan yang menampik tangan Devi dengan kasar.


Akh! Devi sampai memekik sakit karenanya.


Carissa yang tak merasakan tamparan tangan Devi dan malah mendengarkan suara gadis itu merintih kesakitan, membuka matanya dengan cepat.


“Kau?!” ucap Devi dan Carissa bersamaan saat melihat Rayhan.


Mereka merasa aneh saja tiba-tiba pria tak diundang datang, mencampuri masalah mereka. Terlebih Devi.


Dia masih mengingat dengan jelas kejadian terakhir dengan Rayhan yang sampai membuat dirinya luka dan kakinya pincang.


Kebetulan sekali aku bertemu dengannya di sini. Lalat datang minta untuk di raket, menarik, batin Devi malah tersenyum.


Ia ingin membalaskan dendamnya pada Rayhan sekarang juga.


“Kau harus bertanggung jawab atas luka yang kau sebabkan padaku tempo hari yang lalu!”


“Luka? Bertanggung jawab? Kau kira aku petugas medis?” Rayhan malah mencebik. Seolah menyindir Devi.

__ADS_1


Ia merasa heran, apa gadis itu mengenal dirinya? Sehingga berani sekali padanya, bahkan jika dibilang lebih berani daripada Carissa.


Devi dan Rayhan terlibat dalam sebuah perdebatan setelahnya.


Apa aku sebaiknya kabur saja dari sini di saat mereka berdua tidak memperhatikan diriku? Batin Carissa memanfaatkan situasi yang ada.


Baginya baik Devi maupun Rayhan sama saja. Mereka berdua itu pembawa masalah baginya. Jika bisa dia ingin jauh dari mereka berdua. Atau mereka berdua itu sebaiknya tinggal di planet Pluto saja.


Greng! Carissa langsung memacu motornya dengan cepat, secepat yang dia bisa meninggalkan Devi dan Rayhan yang masih berdebat.


“Sialan! Dia kabur!” umpat Devi dan Rayhan bersamaan.


“Enak sekali dia memanfaatkan kesempatan yang ada untuk kabur!” desau Devi geram.


Ia kemudian beralih menatap Rayhan tajam.


Membuat Rayhan semakin emosi dan marah saja pada dengan dituding seperti itu. Sama saja itu penghinaan besar baginya. menginjak harga dirinya.


Sebaiknya aku cepat-cepat beri dia pelajaran baru mengejar Carissa. batin Rayhan.


Rayhan sendiri sebenarnya bukanlah tipe pria yang banyak bacot. Sedari tadi dia hanya menanggapi beberapa kali ucapan sarkas Devi.


“Dasar berandal sampah! Sampah masyarakat kau!” sentak Devi sarkas.


Rayhan sedari tadi mencoba menahan amarahnya karena yang dihadapinya adalah seorang wanita, bukan seorang pria. Namun rahangnya saat ini sudah menggemeletuk rasanya. Ia sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.


“Kau sendiri keraknya neraka!” sentak Rayhan, lalu dengan cepat melayangkan tangannya ke pipi Devi.


“Itu pantas kau dapatkan. Ingat jika kau berani mengganggu Carissa lagi, maka kau akan berhadapan denganku!” sentak Rayhan.

__ADS_1


Ia segera kembali ke motornya dan pergi dari sana meninggalkan Devi seorang diri yang masih memegangi pipinya yang terasa berdenyut hebat.


Tak hanya berdenyut nyeri, pipinya Devi itu juga terlihat sangat merah seperti tomat rebus.


“Siapa sebenarnya brandal itu? Kenapa dia membela Carissa?” gumamnya, masih memegang pipinya yang kini terasa panas.


Devi melihat simbol elang di punggung Rayhan. “Simbol apa itu?” lirihnya.


“Aku akan mencari informasi tentang pria itu,” gumamnya tersenyum miring.


***


“Huft! Leganya... bisa lepas dari mereka berdua.” Carissa menghela napas panjang dan memelankan laju motornya.


Ia pikir dia sudah berhasil kabur dan aman dari jangkauan Rayhan karena berapa kali ia melihat dari kaca spion, pria itu tak nampak batang hidungnya.


“Hey, kenapa kau cengar-cengir sendiri? Apa kau pikir kau berhasil kabur dariku?” Rayhan tiba-tiba datang dan muncul dari arah depan.


Sungguh, itu sangat mengagetkan sekali bagi Carissa. Sampai dia menginjak rem dalam, dan membuatnya berhenti seketika.


Langsung senyum dari bibir Carissa itu ambyar, hilang entah ke mana begitu mendengar suara Rayhan dan melihat sosoknya sudah ada di depannya, juga menghadang dirinya.


Bagaimana bisa dia sudah ada di depanku seperti ini? Bukannya tadi dia masih berdebat dengan Devi?! pekik Carissa dalam hati.


“Lagi, kau berhutang padaku. Aku sudah membantumu memberi pelajaran gadis tengil itu,” ucap Rayhan dengan dingin.


“Hutang?! Tunggu! Aku tidak pernah minta bantuanmu untuk membantuku. Jadi itu tak bisa dihitung sebagai hutang,” kilah Carissa.


Sungguh ia tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Rayhan. Kenapa pria itu jika ingin menolongnya tidak dengan ikhlas tapi malah pamrih seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2