
Hiss! Carissa mendesis takut.
Entah kenapa rasanya ditatap tajam oleh dua berandal membuat Carissa bergidik ngeri bahkan dia sampai mendelik.
Tubuhnya rasanya kaku tak bisa digerakkan melihat secara langsung dua pria baku hantam seperti adegan film action di serial drama yang dia lihat.
“Apakah mereka akan menyeret ku dalam masalah mereka?!” pekik Carissa.
Dua pria tadi tak melepaskan kuncian mata darinya, seakan mau menelannya bulat-bulat.
“Celaka. Kenapa tadi aku lewat sini?” gumamnya menyalahkan dirinya sendiri. “Aku harus angkat kaki dari sini,” imbuhnya.
Masih dengan gemetar karena baru pertama kalinya ini dia melihat seseorang bertengkar, Carissa memaksa tangannya bergerak dan menarik gas. Namun motor itu tak bergerak sama sekali.
Rayhan memanfaatkan kesempatan yang ada di saat Sony teralihkan perhatiannya pada Carissa, ia segera melayangkan pukulan.
Bugh! Sebuah pukulan mendarat pada muka Sony yang langsung membuatnya jatuh tersungkur.
“Astaga!” pekik Carissa, terpaksa melirik apa yang terjadi sekarang.
Sungguh Carissa merasa merinding. Tengkuknya sampai dingin melihat Sony bangkit kemudian membalas pukulan Rayhan.
Bugh! Kali ini Sony berhasil memukul Rayhan, meski tak sampai membuat pria itu terjengkal.
Jika terus dibiarkan seperti ini mungkin mereka berdua akan terus adu pukul, entah sampai kapan. Mungkin sampai salah satu dari mereka tak berdaya baru berhenti.
“Tidak, aku tak ingin melihat kejadian ini terus berlanjut,” lirihnya, sembari memutar otak.
“Bagaimana cara mengakhiri duel mereka tanpa aku perlu terlibat?” imbuh Carissa.
Gadis itu berpikir keras hingga akhirnya menemukan sebuah ide.
“Tolong! Tolong! Ada yang berkelahi!” teriak Carissa nyaring.
Markas Eagle Wave memang berada di tengah perkampungan warga, jadi mereka bisa mendengar suara teriakan Carissa.
“Ada suara minta tolong! Ayo kita lihat!” ucap seorang warga yang mendengar suara teriakan.
__ADS_1
Beberapa warga seketika keluar menuju ke sumber suara berteriak.
Ternyata keramaian tadi berasal dari geng motor yang sedang berkelahi, yang membuat mereka kesal.
“Geng motor meresahkan! Siang-siang begini sudah bikin kerusuhan!”
“Hentikan saja mereka!”
Beberapa warga langsung menuju markas Eagle Wave.
Awalnya mereka melerai dua pria tersebut.
"Lepaskan!” hentak Sony dan Rayhan bersamaan, saat warga memegang mereka.
Warga yang sudah biasa dengan pemandangan ini bahkan jenuh serta muak memegangi dua berandal itu dengan erat.
“Hajar saja mereka!”
“Benar, biar tahu rasa mereka. Selama ini selalu bikin keributan dan membuat warga sekitar sini resah.”
Akh! Carissa sampai menjerit dan memejamkan mata melihat penganiayaan yang dilakukan oleh warga pada dua berandal itu.
Bugh!
Bagh!
Bugh!
Baik Rayhan dan Sony tak bisa membalas warga, karena gerak mereka dibatasi.
Sedangkan anggota Eagle Wave yang ada dalam markas dan mendengar keributan di luar, tak berani menampakkan diri mereka saat melihat banyak warga di depan markas.
Kalau sudah di tangan warga bisa runyam urusannya. Selain dua orang tadi yang memukul mereka berdua kini bertambah warga lain yang menyaksikan juga melampiaskan kemarahan mereka selama ini dengan ikut memukulnya beramai-ramai.
Hiss! Carissa sampai menggigit bibirnya melihat kejadian itu.
Miris. Dan ia benar-benar tak tahan melihatnya. Dua pria yang di amuk massa. Padahal yang awalnya hanya ingin membantu saja untuk melerai perkelahian mereka, tapi malam terakhir seperti ini.
__ADS_1
“Tidak, aku tak boleh biarkan hal ini berlanjut atau mereka akan benar-benar remuk atau bisa jadi mati,” gumamnya, dengan bibir bergetar.
Carissa yang masih gemetar dengan bercampur rasa takut juga bingung langsung turun dari motor dan berlari menuju ke markas Eagle Wave, menyusup ke tengah warga.
“Hentikan! Tolong hentikan semuanya! Kurasa kalian sudah cukup memberi mereka pelajaran, jangan sampai melewati batas hingga membuat mereka sampai kehilangan nyawanya. Masih ada hukum di sini yang bicara,” cecar Carissa.
Warga yang saat itu memegangi juga memukuli Sony dan Rayhan diam seketika. mereka melepas dan berhenti memukuli dua pria itu setelah mencerna apa yang diucapkan oleh Carissa.
Dalam hati, mereka takut juga jika polisi akan menyeret dan menghukum mereka atas tuduhan penganiayaan massal.
“Kurasa mereka berdua sudah cukup diberi pelajaran.”
“Sekarang tinggalkan saja mereka berdua.”
Para warga lalu buyar seketika dan markas menjadi sepi.
Carissa menatap iba pada sosok berandal yang saat ini bonyok.
Sial! Aku lagi apes! rutuk Sony dalam hati atas kejadian tak menyenangkan yang tidak diharapkan.
Pria itu kemudian langsung berdiri. Di tengah rasa sakit yang mendera, ia masih sempat menatap tajam pada Rayhan.
“Ingat! Urusan kita belum selesai! Kita lanjutkan dengan kita lain waktu!” Sony segera naik motor merahnya dan meluncur dengan cepat di jalanan.
Carissa menatap iba pada Rayhan. Meskipun dia kesal padanya namun melihatnya Bapak belum membuat hati nuraninya terketuk juga.
“Kau tak apa?” tanya Carissa, menghampiri Rayhan.
Pria itu hanya diam dan menatap Carissa dengan tajam.
“Semua ini karena kau ikut campur. Jika saja kau tak berteriak tadi pada wanita maka semua ini tak akan terjadi.”
Carissa hanya diam saja tak berani menjawab, dalam hati dia mengakui salah tapi dia juga tak berani minta maaf.
Tepat di saat Carissa akan membantu Rayhan, terdengar derap langkah berat dan cepat keluar dari markas.
“Hey kau gadis sialan! Kau yang menyebabkan semua ini terjadi! Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu pada Boss kami!” tuntut mereka beramai-ramai.
__ADS_1