Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 40 Rayhan Sadar


__ADS_3

Carissa sudah pasrah dengan tatapan tajam ayahnya yang siap meledakkan amarah atau apa saja itu yang bisa membuat jantungnya copot atau berhenti berdetak seketika.


Meskipun mungkin dia seorang preman atau berandal sekalipun tapi yang terpenting dia sudah menyelamatkan putriku, batin Pak Sholeh sekali lagi menatap pria yang terbaring tak sadarkan diri di depannya.


“Bagaimana bisa pria ini menyelamatkan dirimu?”


Carissa menggeleng pelan. Takut ayahnya itu akan memarahi dirinya. Karena mengira dirinya berteman dengan preman.


Melihat wajah putrinya yang menjadi pias, Pak Sholeh tak tega untuk memarahinya.


“Ya sudahlah. Ayah harap kau tak berteman dengan mereka para geng motor atau sejenisnya.” Carissa seketika melukis senyum di sudut bibirnya. Ternyata Ayahnya tidak marah. “Jika begitu biar Ayah yang akan membayar biaya perawatan rumah sakitnya. Setelah ini kita pulang.”


Bukan tanpa alasan Pak Sholeh ingin segera mengajak Carissa pulang ke rumah. Selain karena waktu hampir maghrib, ponselnya bergetar beberapa kali di saku celananya.


Tadi dia mengalihkan ponsel ke mode silent karena istrinya berulang kali menelepon sedangkan dia tak mungkin mengangkat telepon saat berkendara di tengah jalan. Dan sampai sekarang pun ponsel itu masih bergetar.


Beberapa saat yang lalu ia sempat mengintipnya dan benar itu memang istrinya, Nyonya Shara. Baginya lebih enak dijelaskan secara langsung daripada menjelaskan ditelepon karena bisa berbeda makna ataupun penangkapan.


Sekali lagi aku ucapkan terima kasih padamu. Maaf aku tak bisa menunggumu. Sayangnya itu hanya Carissa ucapkan dalam hatinya saja.


Ia menatap Rayhan sebelum pergi meninggalkannya. Dalam hati sebenarnya ia merasa berat untuk meninggalkannya. Mungkin ingin berterima kasih secara langsung.


“Sa, kenapa masih diam saja di sana? Ayo kita pulang sekarang. Ibumu sudah mengkhawatirkan dirimu,” ujar Pak Sholeh.


Bahkan ia sampai menarik kembali tangan putrinya itu.

__ADS_1


“Ya, Ayah.” Carissa menoleh terakhir kali menatap pada Rayhan sebelum menutup pintu ruangan itu.


Setelahnya Pak Sholeh bergegas menuju ke ruang administrasi.


“Jadi berapa total biaya semuanya?” tanyanya pada tugas administrasi rumah sakit.


Petugas menyebutkan berapa nominal yang dibebankan pada perawatan Rayhan.


“Ini.” Pak Sholeh segera menyelesaikan administrasi tersebut. “Tolong jangan bebankan biaya tambahan pada pasien tadi.”


“Baik, Pak. Sepertinya sudah tidak ada tambahan biaya lagi.”


Setelah urusannya beres, Pak Soleh kembali berjalan dengan ketukan yang keras menyapu keramik putih mengkilap di rumah sakit.


“Kita pulang sekarang,” ajak Pak Sholeh setibanya mereka di tempat parkir.


“Apa ada yang ketinggalan atau kurang?” tanya Pak Sholeh.


“Motorku, Ayah. Ketinggalan di jalanan.”


Pak Sholeh merupakan ayah yang sabar sekali. Dia pengertian dan tidak langsung memarahi putrinya meskipun salah. Biasanya jaga kesalahan itu fatal sekali dia akan menasehatinya panjang lebar.


“Katakan pada Ayah di mana motormu berada.”


Carissa memberitahukan lokasinya dan mereka berdua segera menuju ke sana.

__ADS_1


***


Satu jam setelah kepergian Carissa, Rayhan bangun. Efek obat biusnya habis dan kesadarannya mulai boleh.


“Astaga... aku berada di rumah sakit,” pekik Rayhan saat duduk dam menyadari keberadaannya di mana sekarang setelah menyapukan pandangan ke sekitar.


Ia merasakan kepalanya yang berdenyut dan perih. “Awh!” Bahkan ia meringis saat menyentuhnya.


Rayhan lalu bangkit untuk duduk. Setelah kesadarannya sepenuhnya pulih, dan kepingan ingatannya kembali. Ia baru menyadari keberadaan Carissa. “Dimana dia? Aku tak melihatnya.”


Netra Rayhan beralih menyapukan netranya ke arah luar pintu setelah ia membuka pintu tersebut, untuk mencari sosok Carissa. “Dia juga tak ada di luar sini.”


Dengan kepala yang masih terasa berdenyut Ia pun berlari menuju ke pusat informasi untuk menanyakan keberadaan Carissa.


“Nona yang Anda cari sudah keluar dari rumah sakit ini 60 menit yang lalu bersama ayahnya. Oh, Ya. ayahnya tadi sudah melunasi administrasi perawatan Anda,” terang petugas informasi menanggapi pertanyaan Rayhan.


“Terima kasih.” Rayhan pun berlari keluar.


Sebenarnya bukan itu yang dia cari. Tapi ia hanya ingin melihat Carissa, karena masih mengkhawatirkan kondisinya. Takut kalau anggota Geng Kapak Merah masih mengincarnya. “Tapi, tugas tadi bilang jika dia kembali bersama ayahnya. jadi pasti keadaannya saat ini baik-baik saja.”


Rayhan kembali masuk ke ruang tempatnya dirawat, lalu duduk. setelah beberapa menit berlalu pikirannya pun mulai tenang.


“Suara adzan tadi, apakah Carissa yang mengucapnya?” Tiba-tiba saja ia teringat suara merdu dan menusuk hati yang terasa sembilu, menghujam tepat ke jantungnya. Bahkan saat ini tubuhnya kembali bergetar tatkala mengingatnya.


Suara Carissa tadi masih Tangiang di telinganya.

__ADS_1


“Kenapa, kenapa hatiku rasanya seperti diremas, sakit dan perih seperti ini.” Rayhan sampai meremat tangannya.


Ia merasakan sepasang bola matanya berair. Namun Ia segera mengatupkan kelopak matanya untuk menahannya agar tidak menerobos jatuh berderai.


__ADS_2