Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 26 Masalah Dengan Devi


__ADS_3

“Sa, kenapa kau seperti tak mendengarkan yang diucapkan dosen sekarang?” tanya Boy, lirih saat di kelas.


Boy adalah teman Carissa, Selain Airin. Bisa dibilang mereka dekat. Karena di antara lelaki yang ada di kelas hanya Boy yang sering terlihat duduk bersama Carissa, juga sering satu kelompok bila ada tugas.


“Apa? Apa yang kau bilang tadi?” Carissa segera menoleh ke samping kiri menatap temannya itu. Jujur, dia tidak dengar sama sekali apa yang diucapkan oleh Boy padanya.


“Kenapa kau melamun?” ceplos Boy, tak bisa menahan lagi apa yang ada di pikirannya saat ini. Karena memang temannya Itu tampak memikirkan sesuatu.


“Aku kesal Boy. Aku kena prank.”


“Kalau soal prank, bukankah kau sudah terbiasa dengan itu?”


Carissa memang kerap kena prank juga bully-an dari Devi. Tak hanya sekali dua kali, tapi sering. Boy dan Airin kadang terlibat untuk membantu Carissa saat mengetahui hal itu. Tapi Carissa sendiri selalu diam tampak tenang, menghadapinya.


Bahkan menurut Boy terlalu sabar. Ia hanya beberapa kali melihat Carissa pernah marah pada Devi, itupun karena sudah sangat-sangat keterlaluan sekali.


Pernah Carissa dulu di kunci oleh Devi saat pergi ke toilet yang mengakibatkan gadis itu terpaksa tak mengikuti satu jam pelajaran, karena tak ada yang mengetahuinya terkunci di sana. Untungnya saat itu ada petugas kebersihan yang sedang lewat dan membukakan pintu toilet untuknya.


“Tapi prank ini bukan dari Devi atau lainnya, Boy. Ini dari Eagle Wave,” ungkap Carissa.


Boy langsung terdiam mendengar kalimat itu disebut. Eagle Wave baginya lebih terdengar sebagai malaikat maut daripada seorang geng.


“A-apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Boy, tergagap.

__ADS_1


“Kau kenal ketua mereka, si Rayhan itu?”


“Maksudmu pria berambut panjang seleher dan biasanya diikat itu? Yang pernah ramai denganmu beberapa waktu yang lalu juga yang pernah memukuli Pak sarto sampai babak belur?”


Carissa mengangguk meresponnya, dan Boy semakin terkejut. Ia kira masalah selesai saat itu dan ternyata masih berlanjut sampai sekarang.


“Dia bilang menyandera adikku di markasnya. Lalu aku ke sana, tetnyata itu hanya akal bulus mereka membohongiku supaya aku tunduk dengan mereka.”


Rayhan sebelumnya tak memberikan perintah secara spesifik pada Deny untuk membawa Carissa ke markas. Lah ternyata Deny sendiri yang mengarang cerita. Jadi bukan salah Rayhan memanfaatkan kesempatan itu, bukan?


“Aku sudah terikat perjanjian dengan mereka, Boy. Aku harus bersedia membantu Boss mereka apapun caranya, saat dibutuhkan.” terang Carissa lagi dengan menggebu-gebu.


Rayhan akhirnya memanfaatkan nama Fitri, adik Carissa untuk mengikat perjanjian dengan dirinya. Dan tentu saja Carissa terpaksa menerimanya dengan berat. Ia tak mau terjadi sesuatu pada adiknya.


Pada akhirnya Carissa hanya berdesis saja meresponnya. Berharap temannya itu bisa membantunya, eh... ternyata sama saja.


***


Siang hari Carissa pulang dengan malas. Di tengah jalan seseorang yang bertemu dengannya membuatnya bertambah semakin malas saja.


“Hey, burung camar berhenti kau!”


Siapa lagi dia jika bukan Devi.

__ADS_1


Devi bahkan sampai turun dari motor demi bisa bicara dengan Carissa dan memperjelas semuanya.


Huh! Carissa hanya menarik napas panjang. Kesal dan malas sekali ia jika harus berurusan dengan Devi. Mungkin lebih pantasnya gadis itu dipanggil dare devil saja, karena lebih sesuai dengan sikapnya. Apalagi kini yang akan di cuit kan gadis itu untuk dijadikan sebuah masalah?


“Hey, aku sudah bilang berapa kali padamu jangan dekati Bayu. Tapi masih saja kau tidak mendengarku!” ucap Devi, dengan nada tinggi.


Carissa memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


“Aku tidak pernah mendekati Bayu. Dia sendiri yang sering datang padaku dan menanyakan berbagai hal. Lalu sebagai teman yang baik aku akan membantunya jika dia ada masalah. Sudah itu saja, tak ada hal lainya seperti yang kau pikirkan,”jawabnya, tenang plus malas.


Malas karena Devi selalu saja menyalahkan dirinya jika pria itu bicara dengannya. Malas berhadaban dengan mulut kasarnya yang akan bicara melantur tak masuk akal itu.


Devi memang memendam rasa suka pada Bayu. Namun sepertinya Bayu tidak mengetahui hal itu. Mungkin saja jika pria itu tahu Devi menyukainya, Carissa berharap pria itu akan menerima Devi saja. Mungkin Devi akan berperilaku lebih beradab karenanya.


“Minggir, aku mau pulang.” ucap Carissa, meminta Devi yang menghalangi jalannya untuk bergeser agar ia bisa lewat.


Namun Devi salah tangkap dan malah marah padanya.


“Sok kau ya! Mentang-mentang nilaimu di kelas bagus, lalu kau pikir dirimu cantik? Ngaca sana!” Devi tampak terbakar emosi dengan perkataan Carissa, terlebih memintanya minggir. Dia pikir dia siapa?


Devi yang terbakar emosi tanpa mengangkat tangannya dan akan menampar pipi Carissa.


“Berhenti!”

__ADS_1


__ADS_2