Rindu Suara Adzan

Rindu Suara Adzan
Eps. 29 Mencari Ide Bisnis


__ADS_3

Malam hari di rumah Carissa


Gadis itu nampak tidak tenang. Sedari tadi bukannya mengerjakan tugas dari kampus, tapi malah memikirkan Rayhan.


Eits! Bukannya Carissa teringat pada paras pria itu, tapi teringat pada nominal yang tadi disebutkan oleh Rayhan.


“100 juta dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?” gumam Carissa berpikir keras.


Sampai ia menggigit bibirnya dan tak puas dengan itu, ia menggigit semua kuku jari tangannya.


Carissa jika bingung memang seperti itu. Menggigit tanpa sadar. Bahkan dulu pernah karena takut ketahuan ibunya ponselnya hilang setelah jatuh di jalanan, ia sampai menggigit apa saja yang ada di sekitarnya. Di dekatnya ada korden. Maka ia gigit korden itu sampai berlubang, seperti gigitan tikus.


“Jika aku benar bisa bayar nominal sebesar itu, apa dia benar akan melepaskanku?” cicitnya.


Ia lalu sampai menjadikan tangannya sebagai alas dagunya untuk berpikir dengan nyaman, mencari ide Bagaimana caranya dia bisa mendapatkan uang 100 juta.


“Sa... kenapa kau melamun, Nak?” ucap Ayahnya Carissa, Pak Sholeh.


Pria itu sepulang dari masjid yang ada di dekat rumah setelah memimpin shalat isya berjamaah di sana.


Pak Sholeh termasuk salah satu pria alim di tempatnya. Dia sering menjadi imam masjid, diluar jam kerjanya, meskipun tidak full lima waktu dan hanya pemimpin shalat magrib, isya dan subuh setiap harinya.


Tapi warga sana begitu menghargai dan menghormati pria shalih itu.


“Ayah? Kapan Ayah datang?” Carissa segera tersadar dari lamunannya dan memutar badannya, menatap ayahnya yang berada di ambang pintu.


“Kau memang melamun. Ada masalah apa? Ceritakan pada Ayah, mungkin bisa membantumu.”


Melihat wajah putrinya yang kusut, Pak Sholeh kemudian duduk sebentar di samping Carissa. Ia bisa langsung tahu jika putrinya itu ada masalah. Dilihat dari wajahnya yang acak-acakan.


Padahal biasanya Carissa selalu tampak rapi meskipun di rumah dan itu malam hari menjelang tidur sekalipun, gadis itu selalu nampak rapi juga bersih.

__ADS_1


Aku tidak tahu jika aku menceritakannya pada Ayah Apakah Ayah bisa membantuku?


batin Carissa, berpikir terlebih dulu sebelum bicara.


Ia tak ingin membebani pikiran ayahnya dengan masalahnya. Meskipun Ayahnya itu lebih sabar pada dirinya tinimbang ibunya, tapi bukan berarti ayahnya itu tidak bisa marah padanya.


Malahan orang alim seperti ayahnya kalau marah cukup mengerikan. Bisa-bisa semua surat dan hadis keluar, sampai rasanya Carissa ingin menyumpat kupingnya saja jika mendengarnya.


“Aku ingin mempunyai banyak tabungan Ayah. Aku ingin membuka usaha kecil-kecilan yang bisa menghasilkan uang,” ucapnya nampak gelisah.


“Kenapa? Apa apa ada biaya tambahan kuliah dan nominalnya besar?”


Carissa menggelengkan kepalanya cepat.


“Lalu kenapa tiba-tiba punya pikiran seperti itu?” selidik Pak Sholeh.


“Sebentar lagi aku wisuda. Pasti butuh banyak biaya juga. Selain itu aku rasanya sudah tak sabar ingin bekerja dan punya penghasilan sendiri, Ayah.” bohong Carissa, fasih mengucapkannya.


“Ayah rasa kau harus bersabar sambil menunggu Ija sama keluar baru bisa melamar pekerjaan. Fokus dulu dengan skripsimu sekarang,” tutur Pak Sholeh.


Ia tak ingin putrinya itu terbagi pikirannya dan melakukan pekerjaan setengah-setengah sehingga hasilnya tidak maksimal. Padahal ini sudah hasil akhirnya dan tinggal memetik hasilnya.


“Tapi Ayah aku harus me...” Carissa ketika menahan ucapannya dan tidak meneruskannya.


Hampir saja ia keceplosan, bisa jadi cabe keriting kalau dia sampai mengungkap masalahnya yang sesungguhnya pada ayahnya itu.


“Sudah, jangan membantah Ayah. Sudah malam, cepat tidur.” ucap Pak Sholeh.


Setelahnya Pak Sholeh keluar dari kamar Carissa dan menutup pintu kamar.


***

__ADS_1


Keesokan harinya di kampus


Carissa beberapa kali menguap di kelas dengan mata berair.


“Sa, beberapa hari ini kenapa kamu kurang tidur?” tanya Boy, mendapati temannya itu nampak kurang tidur bahkan matanya pun terlihat berkantung.


“Boy, bisnis apa dengan modal kecil bisa menghasilkan cuan besar?”


Boy penasaran dengan pertanyaan temannya itu. Tumben amat Carissa sampai membahas bisnis segala. Biasanya yang gadis itu bahas seputar pelajaran-pelajaran dan pelajaran.


“Bisnis apa ya?” Boy tampak berpikir.


Sekarang ini banyak bisnis online bertebaran, hanya tinggal pilih saja apa bakat dan minatnya. Mulai dari modal Rp1 hingga jutaan.


“Kau bisa investasi emas yang iklannya sedang booming, harganya cuma 5 ribuan perak dengan gramasi 0.00001 gram.”


“Ck! Kapan panennya jika harganya segitu, Boy?”


“Atau kau bisa main valas.”


“Itu sama saja dengan riba. Tidak, aku tidak mau itu,” tolak Carissa tegas.


“Atau jualan potato crispy yang saat ini jadi booming?”


Carissa menggeleng meresponnya.


Boy kemudian menyebutkan ide bisnis lainnya mulai dari bikin handy craft dari bahan botol plastik tak terpakai sampai jualan es krim. Namun Tak ada satupun yang cocok bagi Carissa.


“By the way, untuk apa kau ingin bisnis sampingan?” tanya Boy penasaran.


“Aku butuh uang 100 juta Boy.”

__ADS_1


Boy tampak terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Carissa.


__ADS_2