
KERAJAAN AKADIA.
Ellora masih tertidur pagi ini, karena peperangan yang terjadi sepanjang malam. Ia tidak merasakan ada yang sedang memperhatikannya dengan tatapan lembut.
Everald belum menutup matanya sedetik pun dari tadi malam, hanya terus menerus menatap istrinya. Ia takut jika dia menutup matanya sebentar saja, istrinya akan menghilang lagi darinya.
Ketakutan yang dia rasakan sekarang benar-benar membuatnya masih belum bisa merasa lega sepenuhnya, bahkan setiap satu jam sekali dia membangunkan istrinya dan ketika istrinya bergumam menjawab dia baru bernapas lega.
Ellora juga sebenarnya merasakan ketakutan suaminya itu, tapi dia benar-benar sangat kelelahan jadi ketika suaminya selalu membangunkannya dia hanya bergumam tanpa membuka kedua matanya.
Everald terus menerus membelai wajahnya, seakan masih belum percaya mereka bisa bertemu kembali dan akhirnya bisa bersama. Ketika dia masih membelai wajah istrinya tiba-tiba ada sebuah ketukan di pintu, dia cepat - cepat turun dari ranjang karena tidak ingin ketukan di pintu mengganggu tidur istrinya.
Saat membuka pintu dia melihat para pelayan berjajar dengan membawa makanan untuk sarapan.
Ayah mertuanya Raja Rebellion mengerti bahwa pengantin baru pasti ingin makan di dalam kamar.
Everald memberi tanda diam dengan telunjuk di bibirnya kepada para pelayan agar mereka masuk dengan diam dan tidak berisik, sebelum dia menyuruh para pelayan masuk dia kembali dulu ke tempat tidur untuk menutupi sebagian tubuh polos istrinya yang terlihat.
Kemudian dia menyuruh para pelayan masuk menyuruh mereka diam dan menyuruh mereka bekerja dengan tenang.
Para pelayan itu menganguk menuruti suami dari Putri majikan mereka itu, makanan disimpan di meja dan pelayan yang lainnya menyiapkan semua perlengkapan untuk Putri ketika dia sudah terbangun nanti. Termasuk semua perlengkapan untuk Pangeran, kemudian mereka semua undur diri.
Everald pergi untuk membersihkan dirinya, setelah selesai dia keluar memakai jubah mandi dan segera memakan sarapannya. Sudah lama dia tak menikmati hari bahagia seperti ini, sudah lama juga dia tidak bisa menikmati makanan yang sekarang terasa sangat lezat di mulutnya sampai dia memakannya dengan sangat lahap.
Sekitar siang hari Ellora terbangun karena merasa perutnya sakit karena kelaparan, ia membuka matanya dan langsung melihat suaminya yang sedang menatapnya.
"Tuan Putri-ku, apakah Anda sudah bisa bangun sekarang. Apakah kamu tidak malu oleh matahari yang sekarang sudah berada di atas puncak kepala kita? Kamu tau, sekarang sudah sangat siang, dasar kucing malas!" Kata Everald lalu mengecup bibir istrinya singkat.
"Em... benarkah sudah siang. Ahhhh segarnya! Sudah lama sekali aku tak bisa tidur nyenyak seperti ini." kata Ellora sambil menguap besar dan merentangkan tangannya tanpa memperdulikan imagenya.
Tapi disaat dia mencoba bangun untuk duduk, dia langsung memekik kesakitan. "Aaawwww..." pekiknya.
Everald seketika merasa bersalah melihat istrinya kesakitan seperti itu, dia tau tadi malam adalah pertama kalinya untuk Ellora, tapi dia malah menyerangnya dengan sangat ganas tadi malam.
__ADS_1
"Maaf Sayang, aku sudah membuatmu kesakitan," kata Everald dengan muka imut yang dibuatnya sedemikian rupa seperti wajah bayi yang menggemaskan.
Ellora melihat wajah suaminya yang lucu dan sangat menggemaskan itu, akhirnya hanya mencubit pipinya. "Belajar dari mana membuat wajah baby face seperti ini? Kamu mulai belajar jadi lelaki imut di depanku. Jadi sekarang, kamu sudah menemukan cara agar aku tidak marah." kata Ellora sambil tersenyum lalu memeluk suaminya.
"Baby face?" tanya Everald.
"Artinya seperti wajah bayi sayang, tapi aku sangat suka."
"Baiklah, karena kamu sangat suka aku akan menjadi bayi besar-mu mulai sekarang."
"Kamu memang tak tau malu!" balas Ellora sambil tertawa. "Sayangggg.... aku ingin mandi, tapi seluruh tubuhku kesakitan. Apalagi yang dibawah sana, sakit sekali dan juga sangat lengket." ucap Ellora manja sambil memelas dan jari telunjuknya menunjuk ke bawah tubuhnya.
Everald tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Baiklah Putri-ku, sekarang waktunya hamba menjadi budak mu. Hamba siap melayani mu Tuan Putri," seraya berkata dia langsung mengangkat tubuh istrinya berjalan menuju kamar mandi.
Ellora tertawa puas ia mengaitkan kedua tangannya ke leher suaminya.
"Sayang, apa kamu tau? Aku paling tidak suka lelaki yang tidak pernah merasa puas. Aku pasti akan segera meninggalkannya!" ucap Ellora sengaja bermuka galak.
Everald seketika mengerutkan tubuh bagian bawahnya, untuk menyembunyikan senjatanya yang sudah terbangun agar tak terlihat oleh istrinya. Ellora berpura-pura tak melihatnya dan malah sengaja menarik tangan suaminya yang sedang memandikannya.
"Sayang... disini, bersihkan disini! Lihat aku masih merasa lengket," jahilnya pada suaminya seraya menarik tangan Everald ke bagian bawah tubuhnya.
Ellora mengerang membuat darah panas di tubuh Everald terpacu, suhu ruangan kamar mandi langsung naik drastis menjadi panas level tertinggi, Everald benar-benar dengan sekuat tenaga menahan hasratnya.
Tahan! Tahan Everald !Jika kamu tak bisa menahannya, kamu akan kehilangan istrimu!
Tapi sekuat apapun tekadnya bukan berarti tidak akan pernah tergoda, "Ahhhh... sayang... enak sekali, tanganmu sangat kuat dan hebat. Aku merasa akan-" Ellora terus menerus mengerang.
Akhirnya pertahanan Everald jebol, ia tak kuasa menahan gairahnya lagi. Dia melancarkan serangannya, tanpa menunggu lama langsung menembakkan senjatanya ke dalam tubuh istrinya.
"Sayang... Kamu tidak takut jika aku meninggalkanmu..." Kata Ellora disela e-rangannya.
__ADS_1
"Shhhh~ Jangan bicara sekarang sayang, aku akan menerima hukumanku nanti. Sekarang mari puaskan dulu tubuh kita," ucapnya serak tubuhya tak berhenti bergerak.
Tak berapa lama mereka merubah posisi, Everald menekan tubuh istrinya ke dinding. Ia melakukannya dengan perlahan untuk menikmatinya, tangannya sangatlah aktif mengelus setiap inci tubuh istrinya.
"Sayang~ aku sudah tak kuat... lagi... ahhhhh~" Rengek Ellora menggigit bibir bawahnya.
"Tahan sayang, sebentar lagi."
Lelaki itu tak kuat menahannya lagi, ia segera mempercepat gerakkannya. Peluru - peluru dari tembakannya dengan sangat kuat menerobos masuk ke dalam tubuh Ellora. Mereka terengah - engah berpelukan.
Ellora merasa kelelahan ia hanya bisa pasrah tubuhnya dibersihkan sekali lagi oleh suaminya. Everald membawanya keluar dan mengeringkan seluruh tubuhnya.
Setelah selesai memakaikan pakaian pada istrinya, Everald langsung mengambil makanan karena istrinya sudah merengek meminta makan.
"Sayang, aku tidak akan meninggalkan mu. Tapi terima hukuman mu nanti." kata Ellora yang masih saja menggodanya.
"Oke! Tuan Putri, budakmu ini akan menerima dan melakukan apapun yang kamu perintahkan." jawab Everald mengikuti kata modern yang selalu istrinya ucapkan seraya memasukan makanan ke dalam mulut isrtinya menyuapinya.
"Terima kasih kucing nakal-ku, kamu sudah melengkapi kebahagiaan ku."
Setelah itu mereka mengobrol tentang banyak hal, tentang kehidupan Ellora saat kembali ke zaman modern. Juga tentang kehidupan Everald yang ditinggalkan oleh wanita itu.
Saat Ellora mendengar cerita kehidupan suaminya saat ditinggalkan oleh ya, Ellora langsung menangis tak kuasa menahan sakit di hatinya, ketika mengetahui keadaan suaminya sampai depresi.
Ellora meminta maaf lalu menciumi seluruh wajah suaminya satu persatu. Ia mencium kening turun ke mata terus ke hidung lalu berakhir di bibir. Ellora mencium suaminya dengan sangat lembut, seperti sebuah permintaan maaf yang mungkin saja bisa menutupi semua luka suaminya.
Bersambung...
---Like dan Komen jangan lupa 😊
---Rate juga ya, Baby 😘
---Terima kasih, Love You All 💜
__ADS_1