
Tempat Penyihir.
Sang Ratu Letizya semakin marah mendengar bahwa Penyihir Zyir tak bisa menembus untuk melihat kepada Istri Pangeran Ketiga, dia berpikir sebenarnya kekuatan apa yang dimiliki wanita itu.
Akhirnya Ratu Letizya memutuskan akan meminta bantuan kepada Klan-nya untuk mengintai putri. Jika Putri Ellora akan menjadi penghalang besar untuknya, maka dia akan menyuruh Klan-nya untuk membunuh Putri Ellora terlebih dulu.
***
Sebulan Kemudian........
Pesta Ulang Tahun Eloisa.
Di sebuah Aula besar di kediaman seorang Bangsawan alunan musik untuk berdansa terdengar, di tengah lantai dansa terlihat orang-orang berdansa berpasangan.
Termasuk Ellora dan Everald, tapi ekspektasi di pikiran Everald tak sesuai dengan kenyataannya. Sang Putri yang adalah istri tercintanya, ternyata mempunyai kelemahan juga, dia sama sekali tak pandai berdansa.
Meskipun Everald sudah mengajari istrinya dari sebelumnya, tapi sekarang dia angkat tangan menyerah membantu istrinya itu berdansa. Langkah dansanya sangatlah kacau, sampai membuat kaki Everald terasa sakit hingga sekarang karena terus terinjak olehnya.
"Sayang, sepertinya kamu harus menyerah dengan dansa, kamu benar-benar sangat payah. Dan aku sudah menyerah mengajarimu, maafkan aku. Lihatlah! Kamu menginjak kakiku sampai bengkak begini." Kata Everald dengan wajah memohon sambil memperlihatkan kakinya.
"Ish! Kamu benar baby, aku tak berbakat berdansa. Coba kalau bertarung, aku pasti akan menjadi pemenangnya. Jadi jika ada penjahat, kamu tenanglah, kamu berlindung saja di belakangku. Hihihi......" Ellora terkekeh geli.
"Hei! Aku ini lelaki, tidak mungkin bersembunyi di belakang wanita. Mau ditaruh dimana harga diriku?!." Balas Everald menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, kamu benar. Sekarang mari kita berhenti berdansa, aku juga sudah bosan." kata Ellora sambil menggandeng tangan suaminya pergi dari lantai dansa.
Mereka pergi menemui Eloisa yang sedang berdiri mengobrol dengan teman-temannya, dia terlihat sangat cantik dan semakin terlihat dewasa sejak terakhir kali dirinya melihatnya.
"Hai adik-ku sayang, kamu malam ini adalah wanita paling tercantik. lihatlah banyak mata pria memandangmu." Goda Ellora pada Eloisa.
"Ish! Kak Ellora menggodaku. Mana ada kecantikanku bisa menandingi kecantikanmu! Huh!" balas Eloisa bercanda.
"Bagaimana dengan Putra Bangsawan yang dijodohkan denganmu, berlanjutkah?." tanya Ellora.
"Tidak! Jangan bicarakan pria itu, aku bahkan sampai sekarang masih mengutuknya. Pria itu benar-benar sangat mesum!" Kata Eloisa kesal.
"Baiklah, nanti ceritakan lain waktu jika kita bertemu lagi. Sekarang adalah hari bahagiamu, aku doakan semoga kamu selalu bahagia dan mendapatkan pangeran impian-mu." Ucap Ellora.
"Ya.....terima kasih Dewi-ku." Balas Eloisa sambil berbisik.
Acara pun berlangsung dengan sangat ramai, Eloisa meminta permintaan sebuah nyanyian pada Ellora. Tadinya dia ingin menolak tapi karena Eloisa memelas padanya, akhirnya dirinya menyetujuinya.
"Sebelum aku bernyanyi, aku mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk Pemeran Utama di acara malam ini, nona Eloisa. Untukmu yang sudah seperti Adik-ku, jangan pernah berubah tetaplah menjadi dirimu yang sekarang."
Judul Lagu.
" Never Enough " By : Loren Allred
πΆπ΅πΆπ΅πΆ
Aku berusaha menahan nafasku.
I'm trying to hold my breath.
Biarkan tetap seperti ini.
Let it stay this way.
Tidak bisa membiarkan momen ini berakhir.
Can't Let this moments end.
Kau memulai sebuah mimpi denganku.
You set off a dream with me.
Terdengar semakin keras sekarang.
Getting louder now.
Bisakah kau mendengarnya bergema.
Can you hear it echoing?.
Pegang tanganku.
Take my hand.
Maukah kau membagi ini denganku.
Will you share this with me?.
Karena sayang tanpa mu.
__ADS_1
'Cause darling without you.
πΆπ΅πΆ
Semua kilau dari ribuan lampu.
All the shine of a thousand spotlights.
Semua bintang yang kita curi dari langit malam.
All the stars we steal from the nightsky.
Tak kan pernah cukup.
Will never be enough.
Tak pernah cukup.
Never be enough.
Menara emas masih terlalu sedikit.
Towers of gold are still too little.
Tangan ini bisa memegang dunia tapi tetap saja.
These hands could hold the world but it'll.
Tak pernah cukup.
Never be enough.
Tak pernah cukup.
Never be enough.
πΆπ΅πΆ
Untuk ku.
Tak pernah,tak pernah.
Never,never.
Tak pernah,tak pernah.
Never,never.
Tak pernah,untuk ku.
Never,for me.
Untuk ku.
Tak pernah cukup.
Never enough.
πΆπ΅πΆ......πΆπ΅πΆ
πΆπ΅πΆ......πΆπ΅πΆ
Untuk ku.
Untuk ku.
Untuk ku.
Semua kilau dari ribuan lampu.
All the shine of a thousand spotlights.
πΆπ΅πΆ......πΆπ΅πΆ
πΆπ΅πΆ......πΆπ΅πΆ
πΆπ΅πΆ......πΆπ΅πΆ
Untuk ku.
Tak pernah,tak pernah.
Never,never.
__ADS_1
Tak pernah,untuk ku.
Never,for me.
Untuk ku.
πΆπ΅πΆπ΅πΆ
Terdengar gema riuh tepuk tangan setelah Ellora mengakhiri nyanyiannya, mereka kemudian memulai kembali dengan acara pesta selanjutnya sampai tengah malam.
*
Sekarang Ellora dan Everald sedang dalam perjalanan pulang ke Istana setelah acara selesai. Karena mengantuk Ellora tertidur di pelukan suaminya di dalam kereta kuda. Tapi tiba-tiba kereta kuda berhenti dan suasana di luar kereta kuda menjadi hening dan terasa sangat mencekam.
Everald memang tidak pernah membawa banyak pengawal, hanya ada beberapa para pengawal berkuda yang berada di depan dan belakang kereta kuda.
Everald yang tidak pernah mencurigai apapun, segera bertanya kepada pelayan pembawa kereta kuda.
"Ada apa? Kenapa keretanya berhenti?." Tanyanya, yang akhirnya suaranya membangunkan Ellora.
Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari luar kereta.
Ellora yang baru saja terbangun, langsung tersadar dan seketika waspada. Dia melihat ke arah cincin Rubi-nya, benar saja warnanya berubah menjadi merah darah, yang berarti sesuatu yang membahayakan sedang terjadi.
Ketika Everald tidak mendapatkan jawaban, dia hendak mengangkat tubuhnya untuk keluar. Tapi Ellora menahan tubuhnya dan mengangkat jari telunjuknya ke bibir menandakan suaminya agar diam, Everald yang tidak mengerti hanya menurutinya.
Ellora lalu memusatkan pikirannya kepada sosok tuan Rabbit dan berkata dalam hatinya.
"Tuan Rabbit, kau bisa mendengarku? Kami sedang dalam bahaya, cepat beritahu Guru Chiron. Segera kirim bantuan pasukan bayangan kesini!." Ucapnya dalam hati.
Everald hanya diam melihat istrinya memejamkan kedua matanya, karena dia benar-benar tidak mengerti apa-apa.
Dan untung saja ramuan obat komunikasi yang ada dalam tubuh Ellora bekerja, meskipun tuan Rabbit berada jauh karena sedang berada di Kastil.
Tuan Rabbit yang langsung mendengarnya, kemudian segera memberitahu Guru Chiron. Guru Chiron segera mengirimkan pasukan bayangan, Zette juga meminta ikut bersama mereka dan tak lupa dia membawa pedang Ellora.
Ellora selesai menghubungi si tuan Rabbit, tapi dia tidak tahu cara itu berhasil atau tidak, jadi dirinya sudah bersiap untuk bertarung.
Tapi karena dia tidak membawa pedang, dirinya hanya bisa bertarung dengan tangan kosong. Jika memang keadaan mendesaknya, dia baru akan menggunakan pedang pengawal yang berada diluar.
Ellora langsung mendengarkan pergerakan diluar, tapi situasinya benar-benar sangat hening, sepertinya semua pengawal sudah tumbang.
"Baby dengar, apa kamu percaya padaku?" tanya Ellora berbisik.
"Tentu saja sayang, ada apa sebenarnya?." Everald membalasnya dengan berbisik juga.
"Kamu harus siap-siap bertarung, tapi ingatlah keselamatan nyawamu sendirilah yang terpenting. Jangan pedulikan yang lain, termasuk jangan pedulikan nyawaku. Paham!." kata Ellora menjelaskannya dengan singkat.
"Tidak! Nyawaku tidak sepenting nyawamu, aku tidak bisa mendengarkanmu kali ini." Jawab Everald yang langsung emosional saat mendengarnya.
"Everald!!." Ellora membentaknya.
"Cukup! Aku akan menuruti semua permintaan mu, apapun itu. Tapi tidak dengan pertaruhan nyawamu!." Ucap Everald tetap dengan pendiriannya.
Ellora pun tak bisa mengatakan apapun lagi, jika suaminya berpikir seperti itu, maka dia yang harus benar-benar menjadi tameng untuk suaminya tanpa sepengetahuan suaminya itu.
Ellora menarik gaun pestanya ke atas, lalu melilitkan dan mengikatnya. Agar dirinya lebih leluasa untuk bertarung, dia memang selalu siaga dan memakai baju dalaman praktis.
Ketika dirinya baru saja selesai mengikat pakaiannya, tiba-tiba ada suara desiran senjata mengarah kepada mereka.
Seketika Everald yang memang mempunyai pendengaran yang tajam, langsung menarik Ellora ke bawah lantai kereta. Dan terlihat sebuah senjata berbentuk cakram menancap di dinding kereta.
Ellora terkejut saat melihatnya, karena dia mengenali benda tersebut saat memainkan Game Ninja Warrior di Zaman Modern. Di dalam Game senjata cakram seperti itu adalah senjata dari seorang Ninja.
"Kenapa ada senjata seperti ini disini? Pantas saja tidak ada suara pertarungan." Batin Ellora.
"Everald, dengarkan aku. Senjata ini sangat berbahaya, begitu juga dengan yang menyerang kita. Sepertinya yang menyerang kita adalah Ninja, aku tidak tau kenapa mereka menyerang kita. Tapi kamu jangan gegabah, dengarkan aku kali ini!." Ellora memerintah suaminya.
Ellora melanjutkan perkataannya. "Diamlah di dalam kereta, aku akan melihat situasi diluar. Jika kamu tidak menurutiku, kita berdua tidak akan selamat. Dengarkan aku! Mengerti!." Lalu tanpa menunggu lagi, Ellora segera meloncat keluar dari dalam kereta.
Ellora berguling ke tanah dan bersembunyi di bawah kereta kuda. Dia mengedarkan pandangannya berkeliling, dirinya tau jika seorang Ninja akan selalu bersembunyi dan tak memperlihatkan wujud mereka.
Sekarang Ellora hanya mempercayai keberuntungannya, jika dia bertahan, kemungkinan mereka berdua untuk selamat tidak ada. Tapi jika dia agresif dan menyerang lebih dulu, akan ada kemungkinan mereka bisa selamat, meskipun kemungkinan itu hanyalah sedikit.
Senjata Ninja Cakram ( Shuriken )
Ninja Pembunuh Bayaran
Bersambung.......
__ADS_1
Like Komennya ya π
πΉ Happy Happy Happy Reading ya Readers-ku, semoga setiap Bab dari Novel Author, selalu membuat kalian senang dan kalian selalu bisa membayangkan fantasi di dalam Novel ini, Love You All β€οΈ.