Roh Wanita Modern Di Kerajaan Kuno

Roh Wanita Modern Di Kerajaan Kuno
Bab.33 Kembali Seperti Malam Pengantin.


__ADS_3

❀️ Harap Bijak Membaca Bab Ini 21+ ❀️


Kastil Perdamaian.


Everald yang terbangun dan melihat semua orang yang ada disini, dia langsung bertanya-tanya, lalu dia akhirnya tersadar pasti terjadi sesuatu. Dan benar saja, saat dirinya melihat ke arah istrinya, terlihat darah merah segar masih mengalir dari telapak tangannya. Darah itu membanjiri seprai putih dan semua warna merah darah itu, sangatlah kontras terlihat di matanya.


Everald melihat Zette sedang memegang tangan istrinya dan sedang berusaha menekan telapak tangannya dengan kain, dia pun segera bergegas membantunya.


Penyihir Rhyannon juga setelah tak berapa lama keluar kamar, sudah masuk kembali membawa ramuan obat dan meneteskannya ke telapak tangan Ellora yang terluka.


Syukurnya saat Penyihir Rhyannon memeriksanya, lukanya tidak terlalu dalam dan hanya akan sedikit berbekas nantinya. Setelah diobati dan dibalut, selang berapa lama Ellora pun sadarkan diri.


Saat tersadar semua orang ada di sana tapi tidak dengan suaminya, Ellora pun bertanya dimana suaminya. "Zette dimana suamiku?."


Zette dan semua orang di sana hanya menghela nafas mereka. Zette lalu memberitahunya, kalau Everald sudah pergi karena sepertinya marah kepadanya. Zette bilang Everald marah kepadanya, karena masih saja tidak mendengarkannya dan masih ingin selalu berkorban.


Ellora yang mendengarnya tidak kaget lagi, karena dia sudah memperkirakannya. Dia pun menanyakan dimana keberadaan suaminya sekarang dan ternyata suaminya sedang berada di air terjun. Dia pun meminta bantuan kepada Zette, agar memapahnya untuk menemui suaminya.


Zette yang tidak bisa melarangnya, hanya bisa menuruti keinginannya dan membantunya berjalan. Jika diperbolehkan, mungkin dirinya akan menggendongnya.


Setelah sampai di air terjun, Ellora melihat punggung suaminya yang terlihat menyedihkan dan sangat terlihat rapuh.


Zette pun meninggalkan mereka berdua dan segera pergi dari sana.


Ellora dengan perlahan berjalan, meskipun dirinya masih merasa lemas. Dia mendekati suaminya dan setelah sampai, dirinya langsung memeluk tubuh suaminya dari belakang dan menyenderkan kepalanya di punggung suaminya.


"Aku tau kamu marah padaku, aku akan menerima semua hukuman darimu. Tapi jangan pernah mengacuhkanku, karena nantinya bukan hanya aku yang akan terluka. Karena aku tau kemarahanmu ini, akan melukai dirimu sendiri juga karena sudah melukaiku." Lirihnya.


"Baby.....mari gunakan waktu kita bersama dengan lebih dan lebih lagi saling mencintai. Jangan buang waktu berharga kita dengan saling menyalahkan. Aku mohon...." Lanjutnya.


Everald sebenarnya hanya marah pada dirinya sendiri dan hanya ingin menenangkan dirinya. Tapi ketika mendengar istrinya yang sepertinya salah paham, kemudian dia berbalik dan menatap mata istrinya yang sudah berkaca-kaca.


"Sayang.....aku tidak marah padamu, aku hanya marah pada diriku sendiri. Aku marah pada diriku, karena aku lah yang setiap kali membuatmu terluka. Apakah aku begitu tidak berguna?." Everald benar-benar frustasi.


"Baby....apa yang kamu katakan. Semua ini bukan salahmu, semua bukanlah keinginanmu." Ellora langsung memeluknya dan membelai punggungnya menenangkan suaminya.


"Sudahlah, ayo kembali ke dalam. Kamu akan kedinginan disini." Everald tak ingin meneruskannya lagi.


Everald pun segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam.


Tak lama mereka pun 'berbaikan', mereka pun bergurau dan bermesraan seperti biasanya lagi. Mereka hanya ingin menggunakan waktu berharga mereka, dengan semakin saling mencintai.


Besoknya setelah Everald pergi ke Istana, Ellora meminta bertemu dengan Penyihir Rhyannon. Ellora langsung berkata ingin meminta bantuannya. "Penyihir, apakah kamu bisa membantuku?."


"Jika bisa, aku akan membantumu Putri." jawabnya.


"Adakah ramuan untuk membuatku segera hamil? Tapi dengan waktu yang sangat cepat untuk melahirkan?." Ellora menatap penyihir dengan penuh harap.


"Maksud tuan Putri?." Penyihir Rhyannon masih belum mengerti.

__ADS_1


"Aku tau takdirku akhirnya adalah untuk menjadi penyelamat suamiku. Aku juga tau Takdir itu tidak bisa dihindari, dan seusai ramalan sepertinya waktu kita sudah tidak banyak lagi." kata Ellora mulai menjelaskan.


"Jadi ketika semua yang harusnya memang akan terjadi, aku tak bisa merubah takdirku. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan suamiku menjadi gila dan bahkan bisa saja mati, jika akhirnya aku harus meninggalkannya lagi, karena kehilangan nyawaku." Lanjutnya.


"Jadi aku berpikir untuk melahirkan buah hati kami. Agar jika memang waktunya tiba dan aku harus pergi, suamiku akan memikirkan anak kami hingga tak terlalu kehilangan diriku." Ellora mengakhiri penjelasannya.


Akhirnya Penyihir Rhyannon mengerti dan dia berjanji akan memenuhi keinginan Sang Putri. Karena meskipun dia seorang Penyihir, jika masalah Takdir, dia pun tak bisa merubahnya.


Kemudian Penyihir Rhyannon berkata pada Ellora, dia akan pergi selama tiga hari. Dirinya akan mencari ramuan-ramuan yang bisa membuatnya hamil dan dengan cepat melahirkan. Nantinya dia juga akan memantrai ramuan tersebut.


( Maafkan fantasi Author yang terlalu tinggi, nyampe hamil pun ingin secepatnya langsung melahirkan 😬😊 ).


***


Istana Prygia.


Ketika Everald datang ke Istana, Ratu Letizya terkejut melihat Pangeran Ketiga yang masih terlihat sehat dan bugar. Ternyata Penyihir Zyir gagal lagi dengan sihir hitamnya, dia mengepalkan tangannya marah.


Mereka sekarang sedang berada di meja makan.


"Hormat hamba kepada Ibu Ratu." Salam Everald dengan tenang, meskipun ingin sekali dia mencekik leher Ibu tirinya itu.


"Ya! Kamu belakang ini jarang terlihat, apa terjadi sesuatu? Kenapa Istrimu juga masih belum kembali dari Kerajaan Akadia?." Tanyanya berpura-pura setelah mereka sedang makan bersama, karena ada Raja.


Everald memang sudah mengatakan kepada Raja tentang Ellora. Karena Ayahnya itu bertanya keberadaan istrinya, maka dia berbohong dan mengatakan Istrinya sedang mengunjungi orang tuanya.


"Mungkin istriku sangat merindukan orang Tuanya, jadi aku akan membiarkannya di sana lebih lama." Jawab Everald meladeni sandiwara ibu tirinya.


Setelah selesai Everald yang dipanggil ke ruang kerja oleh Raja segera pergi, karena dia juga sudah muak melihat wajah Ibu Tiri dan Putranya itu.


Sedangkan di dalam kamar Putra Mahkota, pasangan suami istri sedang bertengkar hebat.


"Aku sudah cukup bersabar selama ini, melihatmu selalu bermain wanita. Tapi aku sekarang sudah muak melihat kelakuan mu seperti ini. Bahkan wibawamu sebagai Putra Mahkota sudah tidak ada lagi! Kamu sekarang sudah dibutakan oleh istri Pangeran Ketiga, dasar wanita pelac*r!." bentak Putri Deena kepada suaminya Putra Mahkota.


Plakkkkk !!!!!!.


Putra Mahkota menampar istrinya.


Putri Deena seketika terkejut, karena ini pertama kalinya semenjak dia dilahirkan diperlakukan kasar. Apalagi yang melakukannya adalah suaminya sendiri, dia benar-benar tidak bisa menerimanya.


"Kamu berani memukulku!" raung Putri Deena marah sambil memegang pipinya yang ditampar.


"DIAM!! Tutup mulut kotor mu! Kamu tidak berhak mencela Ellora, karena dia beribu lebih baik darimu yang hanya seorang Putri manja!." Putra Mahkota mencela istrinya.


Putra Mahkota melanjutkan perkataannya. "Dia adalah wanita terbaik yang pernah aku kenal, dia pemberani dan bahkan kebaikannya kepada semua orang yang sudah seperti seorang Dewi. Semua kebaikan yang dia punya, tidak pernah ada di dalam wanita lain termasuk kamu!." bentaknya.


"Kamu! Kamu! Beraninya menyanjung wanita itu di depanku. Teganya kamu!." Putri Deena semakin berteriak hingga terdengar keluar kamar.


Ketika mereka berdua masih saling berperang adu mulut, datanglah Ratu yang sudah mendengar laporan dari pelayan.

__ADS_1


"Apa yang kalian berdua lakukan?! Kalian ingin mempermalukan diri kalian, karena semua orang di Istana ini menggunjingkan kalian. Dan kamu Putra Mahkota sudah cukup! Jaga Wibawamu!." akhirnya Sang Ratu membentak putranya, karena sudah tak sanggup lagi dengan kelakuannya.


***


Tiga Hari Kemudian.....


Kastil Perdamaian.


Penyihir Rhyannon yang sudah kembali, segera mengunjungi Ellora dan menyuruhnya meminum ramuan yang dia bawa yang juga sudah dia beri mantra.


Kemudian malam harinya, Ellora sengaja meminta pakaian seksi kepada para pelayan di Kastil. Pakaian sutra putih yang sangat menerawang, dia sengaja ingin menggoda suaminya. Karena jika dia meminta bercinta dengan suaminya, suaminya itu pasti akan menolaknya, karena dirinya belum sepenuhnya sembuh.


Tapi Ellora sudah membulatkan tekadnya, bahkan dia sudah meminta lilin beraroma yang dimantrai dari Penyihir yang bisa mengeluarkan semua hasrat suaminya.


Setalah Everald baru saja kembali dari Istana, dia sangat terkejut saat masuk ke kamar. Dia merasa seperti kembali ke malam pengantin mereka, karena begitu banyak mawar merah bertaburan dimana-mana. Juga lilin-lilin yang menambah keromantisan suasana malam itu.


Saat dirinya berjalan mendekati ranjang, dia melihat istrinya setengah berbaring dan sedang menjulurkan kaki telanjangnya. Terpampanglah di hadapannya paha istrinya yang putih mulus, yang tidak terhalang oleh apapun.


Mata Everald akhirnya menyelusuri tubuh istrinya, meskipun Istrinya memakai pakaian, tapi pakaian itu tak bisa menutupi semua lekuk tubuh indahnya. Apalagi dua gundukan putih besar yang menonjol keluar, seperti memintanya untuk segera melahapnya.


Everald menelan ludahnya, dia terpaku di tempatnya. Dia kebingungan antara mendekati istrinya atau memutar tubuhnya untuk pergi kabur keluar kamar.


Ellora yang memang sudah menyadari pikiran suaminya, dengan cepat bangun dari ranjangnya. Dia berjalan dengan perlahan dan berlenggak lenggok menggoyangkan pingg*lnya.


Benar saja kelakuannya itu membuat darah Everald semakin memanas dan bagian bawahnya yang memang sudah terbangun malah semakin mengeras.


Everald tetap bertahan, meskipun bagian bawahnya sudah terasa sakit ingin segera dibebaskan dari sangkarnya. Tapi dia tetap menahannya, hingga urat-urat biru di seluruh tubuhnya menonjol saking tegangnya.


Ellora yang sudah mendekat langsung melancarkan aksinya, dia membelai setiap inci tubuh suaminya. Lalu dia menurunkan kepalanya ke bawah dan wajahnya sekarang sudah berada di depan senjata suaminya yang sudah siap gempur itu.


( Oh no....oh no....no...no...πŸ”₯πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š ).


Ellora dengan perlahan membukanya dari sarungnya, dia segera membuka mulutnya lebar dan langsung melahap senjata suaminya itu.


Akhirnya semua pertahanan Everald bobol juga, dia menger*ng tak kuasa menahan kenikmatan yang diberikan istrinya.


Everald yang sudah tak kuat lagi menahannya, segera menarik tubuh istrinya berdiri dan langsung ******* bibir istrinya dengan ganas. Dia lalu menggendongnya langsung menuju ke ranjang.


Dia segera memasukan tangannya ke dalam pakaian istrinya dan memainkan puncak gundukan istrinya. Kemudian setelah mereka berdua sudah polos, dia lalu mengecup dan menggigiti seluruh tubuh istrinya yang polos itu dan membuat Ellora menger*ng penuh kenikmatan.


Karena sudah tak bisa menahannya lagi, Everald lalu memasukan senjatanya dengan perlahan. Dia segera menyatukan tubuh polos mereka berdua, lalu bergerak dengan sangat lembut.


Detik berganti menit dan menit berganti jam, tapi mereka masih menikmati permainannya. Lalu karena istrinya sedikit merintih kesakitan, Everald yang tersadar pun langsung mengakhiri pertempuran mereka.


Peluru-peluru dari senjatanya pun berhamburan keluar dan semuanya masuk ke dalam tubuh istrinya. Dan mereka berdua akhirnya mengeluarkan er*ngan penuh kenikmatan ketika mereka sudah sampai di puncaknya.


BERSAMBUNG.........


Like dan Komen 😘

__ADS_1


🌹Selalu Happy bacanya ya Readers-ku 🌹


__ADS_2