
KERAJAAN AKADIA.
Pangeran ketiga yang tak sadarkan diri itu, akhirnya membuka kedua matanya. Dia melihat istrinya sedang menatapnya penuh rasa bersalah, ia segera memeluk istrinya mengusap kepalanya lembut. "Aku tidak apa-apa sayang, hanya sedikit terkejut."
"Itu tidak sedikit, sampai kamu pingsan begitu. Maafkan aku, aku terlalu senang jadi melupakan keberadaan mu," ucapnya masih dengan rasa bersalahnya.
"Sudahlah, sekarang jelaskan semuanya padaku. Kenapa tadi kamu seperti berbicara dengan kelinci itu, tapi aku tidak mendengar kelinci itu berbicara?" tanya Everald.
Ellora kemudian menceritakan semuanya, dari saat kelinci itu membawanya ke zaman modern lalu membawanya kembali lagi zaman kuno. Juga tentang fakta kelinci itu bisa berbicara dengannya.
Lelaki itu akhirnya menerima semua perkataan istrinya dan mengakui jika istrinya memang benar-benar berbeda dari yang lain.
"Tadi apa yang kalian bicarakan?" Tanyanya lagi masih penasaran.
"Oh, Tuan kelinci hanya ingin bersamaku, dia meminta agar bisa selalu dekat denganku dengan tinggal disini." Kata Ellora jujur.
"Tapi aku mendengar kamu berkata tidur denganmu, apa maksudnya?" selidik Everald.
"Xixixi, Tuan kelinci cuma bercanda, dia punya humor yang berlebihan," jawab Ellora tertawa.
"Coba saja kalau kelinci itu berani! Aku akan menjadikannya Kelinci guling!" ancam Everald.
Tuan Kelinci mendengarnya. "Suamimu pikir daging-ku bisa dia makan! Bilang padanya, aku akan memakannya lebih dulu jika dia berani jahat padaku!"
"Hahaha... haha." Ellora tak kuat lagi menahan tawanya.
"Kenapa kamu malah tertawa sayang?" Everald semakin penasaran.
"Kelinci itu ada disini sayang, lihat dia di sana. Dia bilang kalau dagingnya tidak enak dan tidak akan bisa dimakan, dia juga bilang sebelum kamu memakannya dia yang akan memakan mu lebih dulu. Hahahaha..."
Everald berbalik melihat kearah kelinci itu, mereka berdua bertatapan dengan tajam dan penuh dengan rasa tidak suka.
"Kamu! Hei kelinci jelek, dengar ya. Ellora adalah istriku, meskipun kamu yang sudah menolongnya, tapi jangan harap bisa memeluknya sembarangan lagi. Kalau kau berani! Aku akan membawa Burung Phoenix-ku kemari, biar dia memangsamu," ancam Everald.
Si Tuan kelinci bergidik ngeri, dia segera berlari pergi bersembunyi. Everald tersenyum puas, karena merasa sudah memenangkan pertarungan.
__ADS_1
Ellora hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat kelakuan suaminya yang seperti anak kecil.
"Suamiku, saat kamu pingsan tadi ada utusan dari Kerajaan Ayahmu dan memberikan Titahnya. Mereka meminta kita untuk segera berkunjung ke sana." Ucap Ellora.
"Hm, apakah kamu sudah siap pergi ke Kerajaan-ku? Di sana mungkin tidak akan senyaman disini," jawab Everald.
"Aku ikut pengaturan mu saja sayang, bukankah Titah dari seorang Raja tidak boleh ditolak?" kata Ellora.
"Yah... kamu benar, kalau kamu sudah siap kita berangkat 2 hari lagi." Everald memutuskan.
Mereka segera memberitahu Raja Rebellion dan juga sang Ratu, bahwa mereka akan pergi ke Kerajaan Prygia 2 hari lagi.
Karena itu adalah sebuah titah, sang Raja tak bisa melarang, begitu pula sang Ratu. Meskipun dia masih merindukan putrinya dan belum siap ditinggalkan lagi, tapi akhirnya ia merelakannya.
***
KERAJAAN PRYGIA.
4 hari kemudian sampailah Everald dan Ellora di Kerajaan Prygia, disambut dengan banyak pasukan berkuda dan para pengawal pribadi dari Istana Prygia.
"Sayang, bisakah kita pergi dulu ke kota Odisha lebih dulu? Aku merindukan orang-orang di sana," pinta Ellora.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ke Istana, setelah sampai di sana mereka disambut para Menteri. Sekarang para Abdi Kerajaan itu menghargai Pangeran Ketiga yang sudah menjadi menantu dari Kerajaan Akadia yang adalah Kerajaan yang terkuat selain Kerajaan mereka. Sekarang mereka menghormati Pangeran Everald.
"Selamat datang Pangeran Ketiga dan juga Putri, apakah perjalanan Anda berdua lancar dan nyaman?" tanya Perdana Menteri berbasa-basi.
"Ya, terima kasih," jawab Everald singkat.
Mereka segera masuk ke dalam Istana, meskipun lelah mereka segera menemui Raja Achilles untuk menghormatinya.
"Kami sudah datang Yang Mulia, Ayah." kata Everald setelah menemui sang Raja.
"Salam hormat hamba Paduka Yang Mulia," sambung Ellora.
"Ya! Ya! Kalian sudah datang, sekarang pergilah istirahat dan besok temui aku lagi. Sekarang pergilah!" Perintah Sang Raja.
__ADS_1
"Terima kasih Yang Mulia, kami undur diri," jawab keduanya.
Mereka pergi keluar ruangan Raja, segera pergi menuju kamar Everald di Istana itu. Saat mereka sedang berjalan menuju kamar, mereka bertemu dengan sang Ratu Letizya dan juga Putra Mahkota.
"Oh! Pangeran sayangku, kamu sudah kembali dan juga membawa istrimu sang Putri. Aku sangat senang sekali melihat kalian bersama dan terlihat begitu bahagia." Ucap Sang Ratu lemah lembut.
"Ya! Jika dilihat dari dekat seperti ini. Sang Putri benar-benar wanita yang paling cantik yang pernah aku temui, kamu sangat beruntung," timpal Putra Mahkota sambil melihat Putri Ellora dengan nafsu di matanya, tapi dengan secepat kilat dia hilangkan.
"Terima kasih Ibu Ratu dan Putra Mahkota." balas Everald.
Mereka sedikit berbasa-basi sebentar, kemudian Everald pamit dengan alasan Ellora sudah kelelahan.
"Jaga cara bicara dan tatapan matamu pada Putri! Ingat dia adalah istri dari Pangeran Ketiga, jangan mengacaukan rencana kita. Mengerti!" Sang Ratu memperingati Putra Mahkota ketika Everald sudah pergi.
"Ya," jawab Putra Mahkota singkat, tapi dalam hatinya dia sudah terjerat kecantikan sang Putri.
Di dalam kamar tidur Pangeran Everald, Ellora langsung mengatakan semua pemikirannya. "Ibu tirimu itu sangat menakutkan! Bicaranya terlalu lembut, aku merasa aneh. Bulu kudukku berdiri ketika tadi dia berbicara, dan juga lihatlah tatapan Putra Mahkota padaku. Aku ingin menghajarnya, karena tatapannya itu begitu kurang ajar!" mulailah kicauan ala Ellora modern.
"Shhh, sayang. Hati-hati jika berbicara di Istana ini, dinding pun mempunyai telinga. Kamu harus berhati-hati dalam bicara ataupun bertindak di Kerajaan ini. Kamu tidak bisa sembarangan seperti di Istana-mu atau seperti saat kita berada di kota Odisha. Mengerti?" ucap Everald lembut kepada istrinya memberi pengertian.
Ellora mengangguk dan mulai menciumi wajah suaminya, dia mulai menggoda dan bersikap agresif lebih dulu. Ia selalu merasa senang jika bisa membuat wajah suaminya itu memerah dan akhirnya dia pun berhasil.
Mereka pun kembali menikmati peperangan yang kesekian kalinya, sedangkan si Tuan Rabbit yang juga ikut ke Kerajaan ini, sedang mengintip kegiatan sang Ratu Letizya dan Putra Mahkota.
***
KOTA ODISHA.
Zette sudah mendengar semua kabar berita tentang Putri Ellora, wanita yang sudah mencuri hatinya. Dia juga mendapatkan kabar, ternyata lelaki yang bernama Raven itu adalah seorang Pangeran, apalagi lelaki itu Pangeran Ketiga dari Kerajaannya.
Ia juga mendengar mereka sudah mengadakan pernikahan antara 2 Kerajaan dan juga sudah sah menjadi suami-istri. Hatinya sangat sakit mendengar kenyataannya, tapi sampai kapanpun baginya sang Putri akan tetap di hatinya dan tak akan pernah tergantikan, dia akan selamanya mencintainya.
( Zette patah hati, kasian banget 💔 Nanti Author kasih wanita penggantinya ya 😘 ).
Bersambung....
__ADS_1
---Like dan Komen jangan lupa 😊
---Rate Vote, terima kasih🙏