
Zaman Kuno.
Guru Chiron langsung memeluk Baby Regan, "Katanya bukan bayi lagi, tapi kenapa masih bersikap manja padaku... hem!"
"Oke, mulai sekarang aku benar-benar gak akan bersikap manja lagi, huh!" Baby Regan cemberut.
"Hahaha... dasar bayi pemarah!" tawanya meledek Baby Regan.
Mereka semua pindah tempat ke ruang makan karena sudah waktunya makan siang. Ketika mereka baru saja duduk, datanglah wanita si super cerewet. "Bayi-bayiku... kalian sedang makan, bibimu ini juga belum makan. Baiklah bibi akan sekalian makan bersama kalian!" ucap Eloisa tanpa ada persetujuan begitu saja duduk disana.
Eloisa baru saja kembali 2 minggu lalu karena saat akan terjadi perang Ayahnya mengirimnya ke tempat asal Ibunya. Dan saat dia kembali melihat semua kenyataannya dia seketika mengurung diri karena bersedih. Tapi saat ia memikirkan kedua bayi yang adalah peninggalan terakhir dari 'Dewi' nya, ia akhirnya tak berlarut dalam kesedihan dan berjanji akan selalu menjaga mereka.
"Kalian berdua tau? Bibi setiap waktu merindukan kalian. Apakah bibi harus pindah saja ke Istana?" bicaranya terus menerus tak berhenti.
"TIDAK!!!" Semua orang yang ada di meja serempak menjawab.
Eloisa sebenarnya hanya bercanda tapi karena respon mereka semua yang serempak menolak, dia akhirnya penasaran dan bertanya dengan galak, "Kenapa?!"
"Bibi berisik, aku suka ketenangan!" Baby Regan menjawab lebih dulu.
"Bibi tantik, nanti ketantikan beya kayah," jawab Baby Bella.
"Aku tak ada alasan! Hanya tak suka" jawab Zette seraya mengedikkan bahunya tak perduli.
Sedangkan Guru Chiron hanya mengangkat bahunya tanda tak mau ikutan.
Penyihir Rhyannon dan tuan Rabbit serta Burung Phoenix tidak ada di Istana, mereka sedang pergi untuk mencari cara agar portal bisa kembali terbuka.
Eloisa yang mendengar alasan dari mereka hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Untungnya ada dua bayi menggemaskan itu di dalam Istana, kalau tidak mungkin Istana ini sudah sepi seperti pemakaman. Ia langsung terpikir sang Raja, dia beranjak pergi setelah selesai makan untuk melihatnya.
__ADS_1
Eloisa membuka pintu kamar yang ditinggali Raja Everald sedikit demi sedikit, terlihat lelaki itu sedang duduk di depan jendela memandang keluar masih dengan tatapan kosong.
Everald memeluk sebuah kotak dan botol kecil. Isi dalam botol kaca yang indah itu adalah abu dari tubuh Ellora kuno yang sempat ia raup dan ia pegang erat oleh tangannya. Sedangkan kotak persegi adalah pemberian terakhir Ellora yang isinya hanya ia yang tau karena ia tidak mengijinkan siapapun melihatnya.
Everald terus menerus memeluk dengan erat dan mengusap kedua benda itu dengan elusan sayang, seakan sedang memeluk dan mengelus istrinya dulu. Pernah suatu ketika botol itu pecah tak sengaja oleh pelayan hingga abunya bertebaran di lantai. Everald langsung berubah lagi seperti orang gila dan meraup kembali abunya sambil meminta maaf terus menerus pada abu istrinya dengan membenturkan kepalanya ke lantai hingga berdarah.
Keadaannya sekarang terbilang sedang dalam masa tenang, asalkan dia tidak jauh dari kotak dan botol kecil itu. Setiap hari ia sendiri yang membersihkan dengan mengelap botol juga kotak itu karena Everald tidak memperbolehkan siapapun memegangnya. Sampai saat ini bahkan ia bahkan belum pernah sekalipun menanyakan kedua anaknya, ia seakan berada di dalam dunianya sendiri.
6 Bulan Kemudian...
Akhirnya 6 bulan berlalu, keadaan Everald masih belum ada perubahan. Lelaki itu masih nyaman dengan dunianya sendiri tapi tubuhnya semakin lemah dan terlihat kurus.
Tuan Rabbit sudah kembali bersama Burung Phoenix, membawa kabar gembira tapi dia datang tanpa Penyihir Rhyannon. Karena Penyihir Rhyannon masih harus mencari 1 lagi mantra rahasia dan benda ajaib yang masih belum ditemukan untuk membuka portal. Tapi meskipun begitu sudah ada titik terang bahwa tak akan lama lagi Penyihir Rhyannon bisa membuka kembali portalnya.
"Tuan Rabbit, kamu sudah kembali?" tanya Zette dengan senang.
Tapi karena hanya Ellora dan Penyihir yang bisa bicara dengannya, akhirnya Penyihir Rhyannon hanya menitipkan surat kepada si tuan Rabbit. Zette membacanya dan memberikannya kepada Guru Chiron, setelah membacanya mereka pikir ternyata masih ada harapan. Mereka sudah bersabar selama 7 bulan tapi keadaan Everald benar-benar mengkhawatirkan.
Sekarang Baby Bella sudah berubah menjadi Putri kecil yang sangat disenangi semua orang, sedangkan Baby Regan berubah menjadi Raja kecil yang angkuh diluar tapi sebenarnya baik dan perhatian di dalam. Meskipun mereka selama 7 bulan ini tumbuh tanpa kedua orang tua mereka, tapi mereka tak kekurangan kasih sayang karena semua orang menyayangi mereka.
Tiba-tiba disaat Putri Bella sedang belajar dengan Zette, dia merasa mendengar suara tangisan yang sangat menyedihkan. Putri Bella melihat ke sekelilingnya tapi tak melihat ada orang menangis.
"Ada apa sayang?" tanya Zette.
"I heard a woman's voice crying," jawab Putri Bella.
"Bella, sudah berapa kali aku bilang pakai bahasa disini!" Zette mengingatkan karena jujur sampai sekarang dia baru mengerti sedikit bahasa Inggris.
"I'm sorry, ups! Hehe..." Putri Bella nyengir.
__ADS_1
"Maksudku, tadi aku mendengar suara seorang wanita menangis!"
"Bagaimana mungkin, aku dari tadi bersamamu disini. Aku tak mendengar dan melihat apapun!" Zette berbicara seperti itu tapi dia juga melihat ke sekeliling.
"Bella tidak bohong, aku sangat jelas mendengarnya!" Putri Bella tetap dengan pendiriannya.
Zette seketika malah melamun, kemudian dia langsung berkata dalam hatinya. Apakah itu Roh Ellora, apakah dia ada disini dan sedang menangis!
Suara itu berasal dari gelang zamrud pemberian Ellora yang berisi air matanya dulu saat dia menangis ketika memakaikan gelang Zamrud-nya yang dibagi dua bagian kepada kedua anaknya. Di zaman Modern Ellora memang sedang menangis karena merindukan mereka.
****
Zaman Modern.
Tujuh bulan sudah berlalu, Ellora sudah beraktivitas seperti biasanya. Dia sekarang hanya mendedikasikan waktunya untuk bekerja di rumah sakit. Karena ketika ia sedang sendiri atau sedang berada di Apartemen seperti saat ini, seketika ia pasti akan menangis dan menangis lagi. "Hiks, Everald.... Anak - anakku..."
Saat ia bekerja di rumah sakit datang kabar jika dari pihak rumah sakit ingin mengirimkan tiga orang Dokter untuk konferensi Dokter se-Eropa selama 3 bulan ke Negara Inggris. Dan Ellora sengaja mengajukan dirinya untuk ikut, agar bisa membuat dirinya sendiri sibuk.
Setelah mengurus semuanya, Ellora bersama dua Dokter lainnya pun berangkat. Semua Fasilitas untuk tinggal dan bekerja di sana sudah lengkap tersedia.
Tiga bulan pun berlalu begitu saja, Ellora sedang menghadiri Konferensi terakhir sebelum pulang kembali ke Negaranya. Kemudian tiba - tiba Ellora bergidik karena dia merasa melihat suaminya Everald di pintu masuk tapi akhirnya sosok itu menghilang kembali.
Meskipun ia berpikir itu tidak mungkin tapi Ellora tanpa sadar langsung mencari sosoknya dan berlari keluar, dia terus mencari diluar dan berlari tak tentu arah. Sampai turun hujan pun wanita itu tak bisa menemukan sosok suaminya, ia terjatuh dengan lemah lalu menangis sejadi - jadinya. Tubuhnya sudah kebasahan membuatnya terlihat semakin menyedihkan.
Tiba - tiba ada seseorang yang memayunginya, Ellora tak kebasahan lagi. Tapi wanita itu masih belum sadar dan masih terus menangis. Orang itu menariknya berdiri dan tanpa aba - aba mencium bibir Ellora dengan semangat.
Ellora seketika tersadar, ia terkejut karena ada pria yang berani menciumnya. Wanita itu langsung memukul pria yang berani menciumnya itu dengan jurus karatenya dan akhirnya sang pria menjerit kesakitan.
BERSAMBUNG........
__ADS_1
---Like, Komen Gift Vote Rate 5. Makasih ♡